Dalam Sehari, Tiga daerah Berbeda Kunker ke Banyuwangi

Kamis, 23 Februari 2017


BANYUWANGI – Pesona Banyuwangi yang semakin mewangi, selalu mengsinpirasi daerah lain untuk datang dan datang ke Banyuwangi. Dalam sehari Kamis (23/2) tiga daerah yang berbeda, datang berkunjung ke Banyuwangi hanya untuk studi tiru.

Ketiga daerah tersebut adalah Pemkab Sidoarjo, Pemkab Pekalongan dan Pemkab Ronte Ndau, Nusa Tenggara Timur (NTT). Tujuan mereka pun sama belajar bagaimana membuat inovasi untuk memajukan daerahnya masing-masing.

Dikatakan Asisten Administrasi Umum, Setda Kabupaten Sidoarjo, Kisswo Sidi Haneko Putro, kemajuan Banyuwangi yang begitu pesat selama lima tahun terakhir ini benar-benar membuat kami harus segera berguru ke sini.

“Lima tahun lalu saya pernah berkunjung ke sini, Banyuwangi masih belum seperti ini. Hanya dalam waktu empat tahun tata kotanya telah berubah. Jalan-jalan utama begitu bersih, pelayanan publik jalan dimana-mana dan pariwisatanya juga berkembang pesat. Ini yang ingin kami pelajari bagaimana cara berbenah,” ujarnya.

Hal yang sama juga diungkapkan Kepala Bagian (Kabag) Organisasi, Kabupaten Ronte Ndau, Adriayus. Bagi dia, prestasi Banyuwangi tak layak dijadikan studi banding bagi daerahnya. Karena prestasinya sudah jauh di atas Ronte Ndau. “Kehebatan Banyuwangi yang berhasil mengantongi predikat nilai A untuk SAKIP (Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) adalah hal yang istimewa bagi kami. Daerah kami baru memperoleh nilai C dan mempertahankan nilai C itu saja harus kerja keras. Itu yang kami katanya jauh. Sehingga tujuannya kami ini bukan studi banding tapi studi tiru. Seperti pesan MenPAN- RB, kalau ingin memperoleh SAKIP yang baik, datanglah dan belajar ke Banyuwangi,” ungkapnya.  

 Selain SAKIP, kata dia, inovasi lainnya yang layak ditiru adalah Lahir Procot, Pulang Bawa Akta. Program ini kata Adriayus, sangat populer dan patut diadopsi bagi daerah Ronte. Di daerah kami, pengurusan akte lahir bagi bayi yang baru lahir masih memakan waktu kurang lebih tiga bulan. “Nah disini bayi lahir, pulang sudah bawa akta. Ini juga salah satu program inovasi yang ingin kami tiru,” ujarnya.   

Kehadiran rombongan tiga daerah ini, diterima Kepala Dinas Kesehatan dr Widji Lestariono, didampingi Bagian Organisasi, Bappeda dan SKPD terkait, di Ruang Rempeg Jogopati Pemkab Banyuwangi.

Ditambahkan dr Rio, sapaan Kadis Kesehatan, Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokasi (Kementerian PAN-RB) RI, telah menetapkan Sistem SAKIP Kabupaten Banyuwangi Tahun 2016 sebagai yang terbaik dengan nilai A.  “Kabupaten Banyuwangi ditetapkan menjadi satu-satunya kabupaten di Indonesia sekaligus pertama di Indonesia yang mendapat nilai A atau tertinggi. Selama ini, belum pernah ada kabupaten yang berhasil meraih nilai A di seluruh Indonesia,” kata dr Rio, Kepala Dinas Kesehatan, saat menerima kunjungan ini.

Dalam kesempatan ini, mereka pun diberi kesempatan sharing dan diskusi terkait sesuai tujuannya. Untuk lebih detail mereka juga diajak ke satker terakit untuk mengadopsi inovasi yang dibutuhnya.

Mereka juga menyempatkan diri mengunjungi lounge pelayanan publik. Sebelumnya mereka juga diajak melihat pelayanan di Dinas Kependudukan dan Pecatatan Sipil (Dispendukcapil) dan Puskesmas Sobo, terkait inovasi lahir procot, pulang bawa akta. (Humas)   

    

 

 



Berita Terkait

Bagikan Artikel :