Digelarnya Berbagai Festival di Banyuwangi, Beri Peluang Bagus Bagi Pengrajin Bambu

Selasa, 19 Desember 2017


BANYUWANGI – Dikenalnya Banyuwangi sebagai kota festival, memberi keuntungan tersendiri bagi para pelaku usaha di Banyuwangi. Mereka berkesempatan untuk memamerkan sekaligus menjual produknya di setiap festival yang ada.  Salah satunya para pengrajin bambu yang tak pernah ketinggalan meramaikan event tersebut.

Kerajinan bambu dikenal sebagai  salah satu komoditi unggulan Banyuwangi selain batik dan berbagai kerajinan lainnya. Seorang pengrajin bambu asal Desa Gintangan, Kecamatan Rogojampi, Banyuwangi, Widodo (58), tak mau ketinggalan  membidik peluang untuk mengembangkan bisnis di bidang kerajinan bambu.

 “Adanya puluhan festival dengan diiringi pembukaan stand pameran untuk para pelaku usaha, membuat usaha saya semakin berkembang,” tutur Widodo.

Desa Gintangan memang terkenal sebagai surga bagi kerajinan bambu. Untuk mampu bersaing dengan pengrajin bambu lainnya, Widodo punya ciri khas tersendiri dalam setiap produk buatannya. Misalnya pada keranjang atau tempat tisu buatannya selalu terdapat kombinasi kain batik.

“Kerajinan bambu,  kalau diberikan sentuhan kreatifitas tinggi dan perlakuan manajemen yang baik, akan mendatangkan peluang usaha yang menjanjikan. Jadi kita harus pandai-pandai membaca minat pasar,” ujar kakek dari empat cucu ini..

Widodo membeberkan, dari harga beli satu batang bambu sebesar Rp 10 ribu mampu menghasilkan keuntungan sampai ratusan ribu. “Asalkan ini dikelola dengan manajemen dan kreatifitas yang mumpuni,” ujar suami Yuli Nengah Reni ini.

Dia menjabarkan, setiap ruas perbatasan bambu dapat dijadikan sebagai kerajinan asbak rokok dengan harga jual mulai Rp 20 ribu sampai Rp 30 ribu. Belum lagi anyaman bambu yang lain seperti  kap lampu, kotak tisu, songkok, keranjang buah, dan lain-lain.

Saat ditanya alasan memilih usaha kerajinan yang terbuat dari bambu, Widodo mengaku hal itu dilakukannya lantaran melimpahnya bahan baku di desanya. Ditambah lagi, pembuatan kerajinan bambu ini sudah dilakukan oleh para leluhur di desanya secara turun temurun.

Pertengahan tahun 1991 menjadi awal  perjuangan  Widodo merintis usaha aneka kerajinan bambu. Tanpa berbekal keahlian yang mumpuni dalam pengerjaan kerajinan, ayah tiga orang anak ini bertekad merintis usaha kerajinan dengan autodidak.  

Saat awal merintis usahanya, Widodo  hanya bisa membuat beberapa produk kerajinan yang bersifat tradisional. Seperti kukusan untuk menanak nasi, lasah, tungku, dan irik (erek).

“Seiring bertambahnya waktu, selera konsumen mengalami peningkatan. Sehingga saya mulai belajar membuat produk lainnya seperti rak, kotak tisu, asbak, dan kap lampu,” terang Widodo. 

Widodo tak serta merta menjadi pengrajin yang sukses. Dia mengisahkan perjalanan usahanya tidak hanya ditempuh dengan mulus tanpa rintangan. Pernah ia mengalami kerugian ratusan juta ditambah pernah juga menelan kasus penipuan dengan kedok usaha patungan. Terutama di tahun 2005 saat tragedi bom Bali 2.

“Waktu terjadi bom Bali saya mengalami total kerugian lebih dari Rp 200 juta. Bayangkan, saat itu tidak ada tamu di Bali. Suasana sangat mencekam. Grafik perekonomian lumpuh total. Tamu mancanegara pada pulang di kampung halamannya sendiri. Padahal barang kerajinan sudah terlanjur dikirim dalam persediaan yang banyak,” kenangnya.

Akhirnya selang beberapa hari kemudian, tutur Widodo, dirinya langsung mendatangi tempatnya mengirim barang di Bali. Sesampai di sana barang sudah rusak semua. Tidak ada ganti rugi. Sementara pemilik dan penjaga toko sudah pergi entah kemana.

Meski terpuruk, Widodo berusaha mengikhlaskannya dan berupaya untuk bangkit. Justru dengan segala musibah dan rintangan ini, lanjutnya, memberikan pelajaran agar  lebih semangat dan terus maju tanpa putus asa.

Sejak tragedi tersebut, tandas Widodo, dirinya membutuhkan perjuangan ekstra agar produknya dilirik kembali. Yakni dengan cara membuat produk-produk yang lebih unik dengan kreasi warna dan tampilan yang lebih rapi.

Konsumen-konsumen baru dari berbagai kota berusaha didapatkannya lewat promosi dari mulut ke mulut. Mereka pun bisa memesan produk sesuai dengan keinginan mereka. Sekarang, pemasaran produknya mulai merambah hingga ke  luar daerah. Mulai dari Jember, Bali, Surabaya, sampai Jakarta.

Kini, usaha yang dirintisnya dengan hanya bermodalkan Rp 500 ribu ini terus berkembang hingga beromzet Rp 75 juta. Sepuluh karyawan tetap juga telah dimilikinya, di samping ratusan pekerja dari masyarakat sekitar yang dilibatkannya untuk membuat kerajinan mulai proses awal hingga finishing touch-nya.

Sejak Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menggagas  digital market place yang diberi nama banyuwangi-mall.com, usaha Widodo semakin berkembang. “Produk saya semakin dikenal luas dan semakin banyak pemesan yang melakukan pemesanan secara online. Cara itu lebih cepat, praktis, mudah dan mampu menjangkau publik secara luas,”tutur lelaki yang kini juga punya showroom sendiri di Bali itu. (*)

 



Berita Terkait

Bagikan Artikel :