Diklatpim IV Kabupaten Malang dan Lumajang Lakukan Benchmarking to Best Practices di Banyuwangi
Selasa, 24 Juni 2014
BANYUWANGI- Sebanyak 60 peserta Pendidikan dan Pelatihan Kepimpinan (Diklatpim ) IV tingkat IV Kabupaten Malang dan Lumajang melakukan benchmarking to best practices di Kabupaten Banyuwangi. Kedatangan rombongan peserta dari dua kabupaten tersebut tersebut diterima langsung oleh Bupati Abdullah Azwar Anas, di Pendopo Shaba Swaga Blambangan, Selasa (24/6).
Asisten Administrasi Kabupaten Lumajang, Drs Wisu Wasono Adi, yang mempimpin rombongan peserta angkatan XVII Kabupaten Lumajang menyatakan kedatangan rombongan peserta Diklatpim IV ke Banyuwangi bertujuan untuk melaksanakan salah satu mata diklat yakni benchmarking. Benchmarking merupakan proses membandingkan dan mengukur suatu kegiatan organisasi terhadap proses operasi terbaik di kelasnya. “Lokus yang kami fokuskan pada benchmarking kali ini adalah perencanaan pembangunan Kabupaten Banyuwangi, Pengelolaan Keuangan Daerah, inovasi kepariwisataan Kabupaten Banyuwangi yang semakin maju,” kata Asisten Administrasi ini.
Dikatakan Wisu, alasan pemilihan ketiga lokus yang salah satunya pengelolaan keuangan daerah tersebut sebagai benchmarking, karena Banyuwangi dinilai telah berhasil mempertahankan opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) Tanpa Catatan/Tanpa Paragraf Penjelasan alias WTP murni dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) Tahun 2013. LKPD Banyuwangi pada 2012 juga mendapat opini WTP Murni dari BPK. WTP Murni merupakan level tertinggi dalam pelaporan keuangan." Ini yang menggugah kami untuk memilih lokus disini,” terang Wisu. Kami berharap peserta diklatpim bisa mempelajari, mengadopsi semua apa yang ada di ketiga lokus. Sehingga nantinya dapat diterapkan di kabupaten Lumajang,” kata Asisten Administrasi ini.
Hal yang sama diungkapkan Kepala Badan Diklat Kabupaten Malang, Ir Holidin MM. Bedanya Kabupaten Malang lokusnya di Badan Pelayanan Perijinan Terpadu (BPPT), Dinas Pendapatan dan Kepariwisataan. Sebagai lokus kepariwisataan, para peserta diklatpim ini telah mengunjungi salah satu obyek wisata di Banyuwangi, wisata pantai Pulau Merah.
Sementara itu, Bupati Anas menyambut baik kedatangan peserta Diklatpim dua kabupaten tersebut. Bahkan Bupati Anas dalam kesempatan itu menyampaikan setiap daerah punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Suatu contoh, Malang atau Lumajang yang memiliki potensi yang yang tidak dimiliki Banyuwangi. “Bencmark tindak harus meniru daerah lain. Tetapi bagaimana mengembangkan potensi daerahnya. Seperti Banyuwangi tidak mungkin menfoto kopi daerah lain, seperti Subaraya,Malang atau Bali. Untuk pariwisata kami mengembangkan ekowisata yang menjual keaslian alam. Disisi lain kami melarang hotel-hotel melati baru di Banyuwangi. Kami mengantisipasi larangan ini dengan membuat dormitory,” ungkap Bupati Anas.
Di sisi SDM, Bupati Anas juga menyampaikan pengembangan SDM tidak boleh bergantung kepada rezim. Karena SDM ini merupakan satu program yang tidak boleh tergantung pada pada rezim, program yang lain boleh ganti bupati ganti kebijakan. “Tetapi SDM ini saya mencari cara bagaimana ini tidak tergantung bupati. Ini kalau pengembangan SDM ini ganti bupati ganti arah pengembangan SDM kita menjadi tidak terukur. Maka saya menarik institusi-institusi besar masuk ke Banyuwangi untuk menjadi sandaran siapaun rezimnya ini tetap jalan. Salah satunya sekolah pilot di Banyuwangi sudah masuk Banyuwangi.
Usai mendengarkan Bupati, peserta diklatpim IV melakukan lokus sesuai yang telah dijadwalkan.(Humas protokol)