Diklatpim IV Provinsi Jawa Tengah Benchmarking to Best Practices di Banyuwangi

Kamis, 28 April 2016


 BANYUWANGI- Sebanyak 40 peserta Pendidikan dan Pelatihan Kepimpinan (Diklatpim ) tingkat IV Provinsi Jawa Tengah benchmarking to best practices di Kabupaten Banyuwangi, Rabu (27/4). Ke-40 peserta ini berasal dari 8 kabupaten/kota di Jawa Tengah seperti Kabupaten Tegal, Kota Tegal, Batang, Purworejo, Boyolali, Purbalingga, Kota Salatiga, dan Magelang. Kedatangan rombongan tersebut diterima oleh Asisten Administrasi Pembangunan dan Kesra, Wiyono di Kantor Pemkab Banyuwangi.

Kepala Bidang Diklat Kepemimpinan Badan Diklat Provinsi Jawa Tengah, Bagus Surjanto yang memimpin rombongan peserta diklatpim angkatan 59 tersebut menyatakan kedatangannya bersama rombongan ke Banyuwangi bertujuan untuk melaksanakan salah satu mata diklat yakni benchmarking.

Benchmarking merupakan proses membandingkan dan mengukur suatu kegiatan organisasi terhadap proses operasi terbaik di kelasnya. “Lokus yang kami fokuskan pada benchmarking kali ini adalah inovasi kepariwisataan Kabupaten Banyuwangi yang semakin maju. Mulai dari pengelolaan wisata berbasis alam (ecotourism) yang dikembangkan. Bagaimana daerah ini mengemas kegiatan Banyuwangi Festival sehingga mampu menarik minat wisatawan untuk datang, termasuk merangkul UMKM untuk ikut berpartisipasi,” ujar Bagus.

Selain itu, mereka juga tertarik dengan upaya pemkab untuk memfasilitasi UMKM agar dapat memasarkan produknya secara online lewat Market Place, dan bagaimana kiat Pemkab Banyuwangi agar bisa mengakomodir seluruh masukan rakyat melalui Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang).

Untuk belajar secara mendalam, rombongan ini juga mendengarkan paparan dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata; Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa; serta Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Banyuwangi. "Ini yang menggugah kami untuk memilih lokus disini,” terang Bagus. Kami berharap peserta diklatpim bisa mempelajari, mengadopsi semua apa yang ada di ketiga lokus. Sehingga nantinya dapat diterapkan di wilayah mereka masing-masing,” kata Bagus.

Sementara itu, Wiyono menyambut baik kedatangan peserta Diklatpim IV tersebut. Bahkan dalam kesempatan itu Wiyono menyampaikan setiap daerah punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Suatu contoh, Tegal atau Salatiga yang memiliki potensi yang yang tidak dimiliki Banyuwangi. “Benchmark tidak harus meniru daerah lain. Tetapi bagaimana mengembangkan potensi daerahnya. Seperti Banyuwangi tidak mungkin menfoto kopi daerah lain, seperti Surabaya, Malang atau Bali. Untuk pariwisata kami mengembangkan ekowisata yang menjual keaslian alam,” tutur Wiyono sembari mempersilahkan kepada peserta diklat untuk mengambil hal-hal positif di Banyuwangi untuk diterapkan di daerahnya.

Salah satu peserta, mengaku terkesan dengan kunjungan ke Banyuwangi ini. Dia adalah Mustopo, peserta asal Dinas Pertanian, Peternakan, Kelautan dan Perikanan Kabupaten Purworejo. Menurutnya, Banyuwangi penuh inovasi dan kreatif. “Sesuai penugasan, kami berkeliling ke lokus yang dituju. Tapi diluar itu, saya akan memanfaatkan kesempatan ini untuk berkunjung ke Dinas Kelautan dan Perikanan Banyuwangi untuk belajar mengelola limbah dari tambak. Saya dengar Banyuwangi sudah mampu mengelola limbah tambaknya dengan baik untuk meminimalisir dampak pencemaran lingkungan,” ujar Mustopo.

Peserta akan berada di Banyuwangi selama 4 hari, mulai Selasa (26/4) hingga Jumat (29/4). Selain belajar berbagai hal sesuai lokus yang dituju, para peserta pun juga berkeliling di obyek-obyek yang menarik, di antaranya pendopo kabupaten, rumah kreatif dan tempat-tempat wisata seperti Bangsring Underwater dan Pulau Merah. (Humas)



Berita Terkait

Bagikan Artikel :