Diminati Hingga Eropa, Serangga di Banyuwangi Jadi Komoditas Ekspor

Minggu, 12 Juni 2016


BANYUWANGI – Serangga, yang bagi kebanyakan orang dianggap sebagai hama pengganggu tanaman, ternyata bisa menjadi ladang bisnis yang menggiurkan. Karena, Hexapoda ini mampu menjadi komoditas ekspor yang sangat diminati pasar Asia dan Eropa.

Selain untuk dipajang sebagai hiasan, binatang berkaki enam ini juga untuk memuaskan para kolektor serangga dunia lantaran bentuk dan warnanya yang menarik.

George Oktavianus (40), adalah salah seorang warga Desa Kalibaru Kulon, Kecamatan Kalibaru, Banyuwangi yang berhasil menjadikan binatang kelas Arthropoda ini menjadi dolar. George mengekspor serangga-serangga tersebut ke sejumlah negara, seperti Jepang, Taiwan, Korea, dan Malaysia. Serta Thailand, Perancis, U.K, Spanyol, dan Rusia.

“Ini berawal dari hobi saja. Sejak kecil memang suka menangkap dan mengoleksi serangga. Lama-lama ketagihan, dan ternyata banyak orang luar negeri yang suka,” kata George.

George mengaku, saat ini dia bisa mengirim minimal dua kali dalam satu bulan. Rata-rata, dia mampu menjual 5 ribu – 10 ribu ekor setiap bulan. Bahkan pada musim-musim tertentu, bisa lebih banyak lagi.

“Bulan Maret sampai Agustus itu bulan paling rame buat saya. Karena pada saat itu, di Jepang banyak sekali liburan, jadi permintaan serangganya meningkat tajam. Bahkan, bisa sampai 20 ribu ekor. Di Jepang, serangga ini buat mainan anak-anak sekolah,” jelas George.

Koleksi serangga George saat ini sudah mencapai 400 an jenis. Serangga-serangga tersebut, dia dapatkan dari seluruh Indonesia. “Untuk berburu serangga, saya sudah keliling Indonesia. Mulai dari Sumatra, Sulawesi, Irian Jaya, Pulau Buru, Ambon, Flores, Sumbawa dan pulau-pulau kecil di daratan Timor,” terang suami dari Lulus Ugiutami ini.

Dia pun menyulap sebagian ruangan di rumahnya menjadi etalase mini serangga. Terdapat tiga kamar yang didesain khusus untuk merawat 3000 ekor kumbang dan serangga lainnya. Seperti, Hexarthrius Parryi (Rejang Lebong-Bengkulu), Chaosoma Atlas-Bengkulu, Odontololabis Wollosturi-Kerinci Sumatera.

Di kamar ini, serangga-serangga itu dimasukkan dalam toples, yang tutupnya diberi lubang udara. Toples-toples itu tersusun rapi di rak yang tinggi. Setiap toples sudah dilengkapi dengan serbuk kayu dan potongan tebu dan hanya diisi satu ekor serangga.

Menurut George, dari jenis-jenis serangga yang dia miliki, terdapat varietas yang menjadi idola, yakni Prosopocoilus Ijengensis yang pertama kali ditemukan di Gunung Ijen, Banyuwangi.  

"Serangga ini yang banyak diminati di luar negeri. Jenis ini, pertama kali ditemukan di Gunung Ijen," kata ayah dua orang putra tersebut.

George mengatakan, dia telah memulai bisnisnya sejak tahun 2001 silam. Sebelumnya, George sempat bekerja kepada orang lain dengan bisnis yang sama di tahun 1997. Dengan modal awal hanya Rp. 1,5 juta, dia mulai menjual kumbang di Bali. “Dengan modal segitu, awalnya saya cari serangga sendiri di hutan. Belum bisa beli dari pengepul,” kata George.

Namun sejak 2002, ketika banyak orang dari luar negeri yang tertarik untuk memiliki serangga-serangga miliknya, George semakin bersemangat mengembangkan bisnis tersebut. “Untuk merintis bisnis ini, kuncinya harus ulet dan tidak mudah putus asa,” ujar nya.

Bagi George, bisnis yang dia geluti ini bisa menjadi hiburan. “Saat masuk hutan cari serangga itu menyenangkan sekali. Rasanya, stres dan capek langsung hilang. Apalagi kalau pas ketemu serangga baru,” ceritanya bersemangat.  

Tak hanya serangga yang masih hidup, George pun menjual serangga yang sudah dikeringkan. Untuk serangga hidup, harganya lebih mahal daripada yang dikeringkan. Harga jualnya bervariasi mulai dari Rp. 1.500 hingga puluhan juta per ekornya. “Harga jual tergantung pada jenisnya, semakin langka pasti harganya semakain mahal,” terang George, meski enggan menyebutkan berapa keuntungannya.  

Selain insekta, di rumah George juga terdapat belalang yang ukurannya jumbo yang juga asli Banyuwangi. Belalang itu dikenal dengan belalang stik (Eurynema Versirubra).

Hewan ini hidup di pemukiman penduduk yang berada di Gunung Gumitir, Kecamatan Kalibaru. Warna hijaunya yang lebih terang dibanding dengan belalang daerah lain, membuat binatang ini juga diminati oleh Jepang dan Taiwan.

Pada usia dewasa, yakni 6 bulan, belalang stik Banyuwangi ini mencapai ukuran 15 cm hingga 20 cm.

Tak sekedar menampung dan menjual serangga, kini George mulai mencoba untuk mengembang biakkannya. “Saya lihat orang Jepang bisa, kenapa saya tidak? Saya juga ingin suatu saat bisa membuat museum serangga, mumpung belum punah. Supaya anak cucu kita bisa melihat serangga asli indonesia,” pungkas nya.(Humas)

 



Berita Terkait

Bagikan Artikel :