Dinkes Sikapi KLB DB dengan Pemberantasan Sarang Nyamuk

Senin, 2 Februari 2015


BANYUWANGI – Pasca dinyatakan Kejadian Luar Biasa (KLB) Demam Berdarah (DB) pada 26 Januari lalu, Dinas Kesehatan (Dinkes) terus turun ke lapangan untuk memantau daerah-daerah yang dinyatakan penderita DB-nya tinggi. Antara lain Kecamatan Tegaldlimo dan Purwoharjo. Seperti yang dilakukan Dinkes pada Jumat (30/1) lalu yang menggelar Promosi Kesehatan (Promkes) dan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN).

Dalam kegiatan yang melibatkan seluruh warga masyarakat ini, Dinkes bekerjasama dengan puskesmas setempat dan para kader kesehatan binaan puskesmas-puskesmas tersebut.

Menurut Kepala Bidang Pencegahan Penyakit Dinkes Banyuwangi, Waluyo, kegiatan ini memang sengaja dilakukan serempak di beberapa wilayah yang menjadi endemis (tempat penyebaran nyamuk). “Kami melakukan kegiatan ini tujuannya untuk menekan kasus penyebaran DB agar tak sampai berlanjut ke kematian,”kata Waluyo.

Tak mau menyia-nyiakan kesempatan, Waluyo bersama timnya memberikan promosi kesehatan berupa penyuluhan langsung kepada warga masyarakat terkait DB dan penyebarannya. Usai memberikan penyuluhan, mereka secara bersama-sama membersihkan lingkungan sekitar, khususnya kamar-kamar mandi, saluran-saluran air dan pot tanaman air  yang menggunakan medium air sebagai tempat hidupnya. Mereka juga menggerakkan mesin ULV (Ultra Low Volume), yakni mesin fogging yang disemprotkan untuk udara terbuka.

“Kami berharap upaya bersih-bersih ini terus berlanjut. Kami sudah minta pada puskesmas dan para kader kesehatan untuk rutin melakukan pemantauan,” ujar Waluyo. Pemantauan itu, selain untuk monitoring PSN, juga untuk mencari suspect (orang yang terduga terjangkit DB).

Waluyo juga menekankan pada masyarakat, apa yang harus dilakukan jika ada anggota keluarganya yang menderita panas.”Tindakan PPGD yang tepat harus dilakukan apabila ada anggota keluarga yang terkena panas tinggi, lemah dan lesu. Apalagi mereka tinggal di daerah endemis DB. Jangan sampai penanganan terlambat hingga pasien merasakan nyeri pada ulu hati dan timbul bintik-bintik merah pada kulitnya,” tandas Waluyo.

Kegiatan ini direspon luar biasa oleh masyarakat. Bahkan Dinas Pendidikan juga mengerahkan seluruh insan pendidikan, baik guru maupun murid, untuk peduli pada program ini. Setiap Senin pada awal bulan diadakan upacara bendera yang melibatkan Dinkes sebagai inspektur upacara. Nantinya sang inspektur upacara akan menyelipkan berbagai informasi kesehatan. Seperti yang pagi ini dilakukan oleh Puskesmas Kertosari yang didhapuk sebagai inspektur upacara di sekolah terdekat.

Selain itu, pihak MKKS juga punya kegiatan inovasi sendiri, berupa 4 Jumat. Jumat pertama adalah Jumat bersih. Berikutnya Jumat Cerdas, dilanjutkan Jumat Sehat dan Jumat Takwa. “Ini sangat bagus untuk memasukkan informasi-informasi kesehatan di dalamnya,” tutur Waluyo.

Namun di tengah kegiatan PSN yang dilekukannya bersama timnya, Waluyo  menyesalkan masih adanya ban-ban bekas yang digunakan sebagai tanaman penyangga buah naga. “Kami sudah berkoordinasi dengan para kepala desa setempat. Ini harus dicarikan jalan keluar. Jika mereka masih mau memakai ban sebagai penyangga, maka ban itu bagian bawahnya harus dilubangi agar tak menampung air apabila hujan tiba. Atau mereka harus mengisi ban-ban itu dengan pasir. Begitu pula dengan hiasan-hiasan bambu yang banyak saya temui di tepi jalan di Kecamatan Licin dan Kalipuro. Jangan sampai bambu-bambu itu digunbakan sebagai tempat bertelur nyamuk. Karena itu di bagian dalamnya harus diisi material seperti pasir atau kerikil,”himbau Waluyo. (Humas & Protokol)



Berita Terkait

Bagikan Artikel :