Dirikan Masjid di Lahan Eks Lokalisasi

Kamis, 26 September 2013


SEMPU – Pasca penutupan lokalisasi di Banyuwangi bulan Mei lalu, Pemkab terus berupaya melakukan penyehatan terhadap lokasi tersebut. Salah satunya seperti didirikannya masjid di lahan eks lokalisasi Klopoan, Dusun Gendoh, Kecamatan Sempu. Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas turun langsung untuk melakukan gelar apel bersama TNI/Polri, Bhabinsa Bhabinkamtibmas, pelajar dan masyarakat sekitar.  Gelar apel tersebut sekaligus  dirangkai dengan peletakan batu pertama yang menandai pendirian masjid Baitul Muhajirin, Kamis (26/9).

Pendirian masjid ini merupakan prakarsa bersama antara masyarakat Sempu, khususnya warga Dusun Gendoh, dan didukung oleh TNI. TNI akan membantu masyarakat melakukan pengerjaan  masjid  tersebut. Menurut bupati, ini adalah bentuk kemanunggalan TNI/Polri dengan rakyat di tengah masyarakat yang perlu dipulihkan. “Program revitalisasi lokalisasi ini bukan program bupati, tapi program seluruh rakyat. Sebab selama ini Banyuwangi dikenal sebagai daerah yang religius, tapi justru punya banyak lokalisasi,”ujar bupati.

Tingginya kasus HIV/AIDS  di Banyuwangi yang telah  menembus angka 1532 kasus,  mengundang keprihatinan orang nomor satu di Banyuwangi  itu. “Alhamdulillah masyarakat sudah sadar. Ini adalah bagian dari kesadaran kolektif. Lebih bagus mantan mucikari daripada mantan  kyai,”seloroh bupati, sambil meminta agar masyarakat juga mencegah peredaran arak Bali, arak Tuban dan narkoba yang membahayakan generasi muda.

Pendanaan pembangunan masjid di lahan seluas 960 meter persegi itu juga melibatkan peran serta masyarakat sekitar. Warga  dengan suka rela ikut patungan menuntaskan pembelian lahan seharga Rp 70 juta tersebut. Tak hanya warga, dari UPTD Pendidikan dan Puskesmas Sempu juga ikut membeli beberapa kapling.

 Dari 13 lokalisasi yang ada di Banyuwangi, di  lokalisasi Klopoan semula terdapat 24 rumah yang terdiri atas 113 kamar yang semuanya terisi penuh. Lambat laun penghuninya makin berkurang . Sesudah ditutup, di lokalisasi tersisa 16 penjaja seks komersial (PSK). Dan setelah beberapa waktu lalu mendapatkan pelatihan keterampilan, mereka sudah meninggalkan lokasi tersebut. Kini tinggal 24 kepala keluarga (KK) mantan induk semang yang ke depan juga akan dipikirkan lebih lanjut pasca kehilangan pekerjaannya sebagai induk semang.

Saking antusiasnya dengan semangat warga yang ingin memulihkan kondisi kampungnya, sehari sebelumnya bupati juga sempat melakukan pertemuan dengan rektor dari 12 perguruan tinggi (PT) di Banyuwangi. Antara lain rektor Untag Banyuwangi, Uniba, AKABA, STIKOM, STIKES, STIKES Rustida, STAI Ibrahimy,STAIDA, STAIDU, STIB dan UBI. Kepada para pimpinan PT, bupati minta agar Kuliah Kerja Nyata (KKN) supaya ditempatkan di lokalisasi untuk mendampingi  masyarakat sekitar. (Humas & Protokol)



Berita Terkait

Bagikan Artikel :