Dongkrak Penjualan, Bekraf Berikan Workshop Kemasan Produk Kepada Pengusaha Banyuwangi

Rabu, 14 Desember 2016


Banyuwangi – Sebagai tindak lanjut dari penandatanganan nota kesepahaman (Memorandum of understanding/ MoU) antara Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) dengan Pemkab Banyuwangi, Bekraf mulai serius melakukan pendampingan kepada para pengusaha Banyuwangi untuk mengembangkan usahanya.
Sebagai permulaan, Bekraf menggelar Workshop Packaging selama tiga hari, Selasa-Kamis (13-15/12) di Hotel Ketapang Indah Banyuwangi. Kegiatan ini diikuti sekitar 25 pelaku ekonomi kreatif serta usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di daerah ujung timur Pulau Jawa ini. Mulai dari batik, makanan olahan, souvenir, hingga garmen.
“Ini bertujuan untuk memberikan nilai tambah produk kreatif melalui packaging yang menarik dan sesuai selera pasar. Bukan hanya pasar nasional tapi juga internasional,” kata Endra, tim teknis Deputi Riset Edukasi dan Pengembangan Bekraf.
Ditambahkan Endra, saat ini workshop packaging (kemasan) produk memang menjadi prioritas Bekraf. Karena, packaging menjadi permasalahan pengusaha hampir di setiap daerah, termasuk Banyuwangi.
“Para pengusaha biasanya telah memiliki kemasan produk sendiri-sendiri. Namun, rata-rata desainnya masih kurang menarik. Ada juga yang sudah menarik tapi belum sesuai dengan selera pasar, sehingga produknya kurang diminati secara luas. Ini yang coba kami solusi melalui workshop ini agar mereka bisa memperbaikinya untuk mendongkrak penjualan,” kata dia.
Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Pertambangan Hary Cahyo Purnomo menambahkan, kemasan menjadi kunci kesuksesan sebuah produk menembus pasar. “Disadari atau tidak, packaging merupakan salah satu unsur yang mempengaruhi tinggi rendahnya penjualan terhadap sebuah produk. Konsumen kan lihatnya kemasan, soal isi/rasa itu nomer dua,” kata Hary saat membuka workshop, Selasa (13/12).
Oleh karenanya, Hary berharap agar peserta dapat memanfaatkan kesempatan tersebut dengan baik. Mereka bisa belajar dan berkonsultasi langsung dengan nara sumber untuk membuat kemasan yang tepat bagi produknya. Misalnya, kemasan yang unik, menarik dan menunjukkan kekhasan Banyuwangi.
“Ini penting karena selain sebagai pengaman produk, kemasan yang apik juga bisa menjadi ajang promosi. Apalagi saat ini kunjungan wisatawan ke Banyuwangi semakin meningkat, mereka pasti membutuhkan buah tangan saat kembali ke daerahnya. Pengusaha harus bisa menangkap peluang ini,” tutup Hary. Hadir dalam acara tersebut Kepala Dinas Koperasi dan UMKM, Alief Kartiono.
Selama workshop berlangsung, para peserta dibimbing langsung oleh tiga nara sumber yang kompeten di bidangnya. Mereka adalah Endang Warsiki dari IPB, Ariana Susanti dari Asosiasi Desain Produk Asia, Damang Chassianda yang merupakan akademisi dan praktisi Aliansi Desainer Produk dan Industri Indonesia.
Mereka sharing banyak hal kepada peserta, diantaranya tentang higienitas dan pemilihan bahan kemasan bagi produk makanan olahan, desain kemasan yang menjadi tren di pasar nasional dan internasional, juga prosedur perijinan dan pengiriman produk ke luar negeri.
Seluruh peserta tampak antusias mengikuti workshop ini. Salah satunya Tonton Fathoni  yang merupakan pengusaha olahan susu sapi. Dia mengaku sangat senang karena mendapatkan banyak pengetahuan baru terkait usahanya. “Awesome. Banyak wawasan baru yang saya dapatkan dari workshop ini. Saya jadi tahu bagaimana mengemas dan membranding produk. Termasuk, prosedur perijinannya,” kata pemuda lulusan Al-Azhar Kairo Mesir tersebut.
Tonton mengaku, saat ini kemasan produknya masih sangat sederhana dan tradisional. Dia menggunakan toples plastik biasa untuk mengemas produk olahan susunya, seperti lulur dan kefir. Namun setelah mengikuti workshop selama dua hari, dia mulai tahu pentingnya desain kemasan untuk meningkatkan nilai jual produknya. “Agar produk saya bisa diterima pasar yang lebih luas, saya berniat membuat kemasan yang lucu dan menarik agar konsumen tertarik,” kata dia. (Humas)


Berita Terkait

Bagikan Artikel :