DPRD Bangkalan Timba Ilmu Perubahan Banyuwangi
Jumat, 13 Februari 2015
Banyuwangi- Kabupaten Banyuwangi kembali menjadi benchmark atau acuan konsep pengembangan ekonomi daerah lewat potensi pariwisata. Kali ini, Komisi D DPRD Kabupaten Bangkalan memutuskan berkunjung ke kabupaten di ujung timur Jawa itu untuk belajar mengoptimalkan potensi pariwisata, Kamis (13/2).
Asisten Kesra Pemkab Banyuwangi, Wiyono, yang menerima rombongan mengatakan Banyuwangi berhasil melepaskan diri dari status daerah terisolasi sejak dipimpin oleh Bupati Abdullah Azwar Anas.
"Banyuwangi daerah yang dikelilingi gunung, hutan, dan laut. Dulu benar-benar terisolasi dan sangat sulit menarik turis ke sini. Tapi dengan target 100 hari pemerintahannya, Bupati Anas, gigih memperjuangkan dibukanya bandara. Jarakpun akhirnya terlipat," ujar Wiyono.
Selain itu, lanjut Wiyono, kondisi alam yang melingkupi Banyuwangi pun justru dijadikan keunggulan pariwisata. Itu sebabnya, Banyuwangi mengusung konsep ecotourism bercirikan keunggulan alam.
Ditambahkan dia, pemkab melibatkan swasta dalam mengembangkan pariwisata di tengah keterbatasan dana APBD. Konsep private partnership ini, kata Wiyono, terbukti manjur mendongkrak arus kunjungan wisatawan sekaligus branding Banyuwangi.
"Kami juga membangun cyber village dengan 1.500 titik WiFi di pelosok desa biar lebih mudah membuka diri ke dunia luar. Atas upaya ini, Banyuwangi mendapat predikat sebagai kabupaten digital society pertama di Indonesia. Pengembangan pariwisata juga dipahami sebagai ajang konsolidasi budaya dan infrastruktur," kata Wiyono.
Mendengar penjelasan Wiyono, Ketua Komisi D DPRD Bangkalan, Hosyan Mohammad, mengaku terharu atas ikhtiar Pemkab Banyuwangi membangun potensi pariwisata untuk melepaskan diri dari status kabupaten terisolasi.
Ia sengaja memilih Banyuwangi untuk studi banding karena berhasil mengelola potensi pariwisata. "Saya trenyuh setelah mendengar paparan pak Wiyono. Perjuangan begitu hebat untuk keluar dari keterisolasian yang lama, tidak salah kami memilih Banyuwangi untuk studi banding," kata Hosyan.
Sementara itu, anggota Komisi D DPRD Bangkalan, Moh. Holifi, mengatakan Pemkab Bangkalan kurang serius menggarap aset pariwisata di daerah lumbung migas tersebut. Padahal jika dikelola, kata dia, banyak potensi pariwisata di Bangkalan yang bisa digali untuk mendongkrak PAD daerah. Potensi terdiri atas pariwisata budaya, alam, dan religi. Gunung Geger dan pantai Rongkang misalnya.
"Mungkin terlalu berharap di sektor migas saja. Kami ingin pariwisata Bangkalan lebih dioptimalkan setelah studi banding ke Banyuwangi," ujarnya.
Selain anggota dewan, rombongan terdiri atas empat camat di Kabupaten Bangkalan yang memiliki potensi pariwisata. Mereka terdiri atas perwakilan kecamatan Kuanyar, Labang, Kamal, dan Arosbaya.
"Biar camat-camat ini bisa menyampaikan langsung ke bupati Bangkalan. Kami bawa ke sini karena empat kecamatan itu ada potensi untuk dikembangkan," kata Hosyan. (Humas Protokol)