Empat Kabupaten Sekaligus Belajar Perencanaan & Penanggulangan Kemiskinan ke Banyuwangi
Kamis, 1 Desember 2016
BANYUWANGI - Empat kabupaten sekaligus belajar perencanaan ke Kabupaten Banyuwangi dalam sehari pada Kamis (1/12). Keempat kabupaten/kota tersebut adalah Kabupaten Musi Banyuasin, Kabupaten Blora, Kota Semarang dan Kabupaten Purworejo.
Cara Banyuwangi membuat berbagai perencanaan, termasuk menurunkan jumlah penduduk miskin di Kabupaten Banyuwangi secara signifikan, mendapatkan perhatian khusus dari keempat kabupaten/kota tersebut. Hal itu mereka ungkapkan saat diterima secara bersamaan oleh Asisten Pembangunan dan Kesra, Agus Siswanto di Lounge Pelayanan Publik Pemkab Banyuwangi.
Satu per satu pimpinan rombongan menjelaskan maksud kedatangannya ke Banyuwangi. Salah satunya Kabupaten Blora yang dipimpin oleh Sri Endah Nurhidayati dari Bappeda Blora.
"Sebelum menentukan Banyuwangi sebagai daerah yang kami tuju untuk belajar, kami sudah searching di internet, mencari-cari kabupaten mana yang berkembang pesat. Ternyata informasi yang kami dapat, banyak mengarah ke Banyuwangi. Dan benar saja, kami langsung jatuh cinta pada Banyuwangi setelah tiba di tempat ini," kata Yanti, sapaan akrabnya.
Yanti datang bersama 13 anggota rombongan. "Kami sengaja bawa banyak orang supaya bisa menyerap ilmu dari Banyuwangi sebanyak-banyaknya," ujar Yanti yang langsung mendapat persetujuan kabupaten/kota lainnya.
Yanti menjelaskan, kedatangannya ini untuk belajar langsung tentang pengentasan kemiskinan yang telah dilakukan oleh Banyuwangi. Juga soal keberanian Banyuwangi mencetuskan 'smart kampung' sebagai inovasi di tingkat desa yang memberikan dampak langsung bagi rakyat.
"Kami sangat terkesan, Banyuwangi bisa dengan cepat menurunkan angka kemiskinannya. Selain itu juga kok berani-beraninya Banyuwangi bikin program 'smart kampung' yang notabene harus susah payah melatih orang-orang desa agar mahir teknologi informasi,"kata Yanti.
Menanggapi hal itu, Asisten Pembangunan dan Kesra, Agus Siswanto menjelaskan bahwa keberhasilan Banyuwangi dalam menurunkan angka kemiskinan berkat strategi keroyokan banyak sektor yang ditempuh Banyuwangi.
"Awalnya angka kemiskinan disini juga masih sangat tinggi. Di tahun 2010 jumlahnya mencapai 20,4 persen. Bahkan di tahun 2014 banyak ditemukan orang miskin baru. Maka mulailah kami membuat sistemnya. Ini membuahkan penurunan angka kemiskinan pada 2015 sebesar 9,2 persen,"kata Agus.
Sistem yang dibuat Pemkab Banyuwangi terintegrasi antar SKPD, khususnya dengan BAPPEDA. Data kemiskinan yang ada di Badan Pusat Statistik pun terintegrasi dengan BAPPEDA, semuanya by name by address. "Kami bentuk Tim Pemburu Kemiskinan, Tim Pemburu Anak Putus Sekolah, dan kami latih perangkat desa untuk bisa menyelesaikan urusan pembuatan Surat Pernyataan Miskin (SPM) di tingkat desa," terang Agus.
Inovasi-inovasi baru itu semakin melengkapi inovasi sebelumnya yang telah dibuat pemkab. Seperti Bantuan Operasional Siswa (BOS) dan program Siswa Asuh Sebaya (SAS), dimana secara periodik siswa yang mampu menyisihkan uang sakunya untuk membantu kebutuhan belajar siswa yang tidak mampu.
Agus juga berbagi tips saat ditanya apa rahasia agar perusahaan-perusahaan dan perbankan mau mengeluarkan program Corporate Social Responsibility (CSR)-nya untuk mengentaskan rakyat miskin.
"Kami kumpulkan perusahaan dan perbankan. Pertemuan dengan perusahaan itu kami kemas dalam bentuk coffee morning atau gathering. Disitu kami ceritakan keinginan kami untuk membantu warga miskin dengan membedah rumah mereka. Mereka dipersilahkan mau menyumbang berapa. Dan ternyata mereka welcome dengan program yang kami buat,"tutur Agus.
Sebab, tandasnya, jika hanya mengandalkan dana dari APBD, masalah kemiskinan tidak akan pernah selesai. Lewat kerjasama dengan pihak lain, akan memperluas sasaran pengentasan kemiskinan yang belum tercover APBD. Praktis jumlah angka kemiskinan di Banyuwangi lebih cepat berkurang.
Program smart kampung, imbuh Agus, juga menjadi strategi pemkab bagaimana membuat masyarakat desa menjadi terdidik, punya jiwa wirausaha dan mandiri. "Target kami 2017 semua sudah clear. Kemiskinan sudah tidak ada, dan semua sistem yang kami bangun sejak 2008 bisa berjalan dan terintegrasi dengan baik," pungkas Agus. (Humas)