Etape Keempat Bakal Tentukan Gelar Juara ITdBI
Sabtu, 14 Mei 2016
BANYUWANGI - International Tour de Banyuwangi Ijen (ITdBI) 2016 memasuki etape keempat sekaligus etape pemungkas, Sabtu, 14 Mei. Para pembalap akan memulai balapan dari Muncar menuju Paltuding, Ijen, sepanjang 123 km. Rute tersebut merupakan yang terberat di event ini. Bahkan, tingkat kesulitannya diakui para pembalap internasional jauh lebih sulit dibanding tanjakan di Genting Highlands yang biasa menjadi arena tanjakan Le Tour de Langkawi (LTdL), Malaysia.
Gradient (tingkat kemiringan) sangat curam, mencapai 22 persen. Elevasi (ketinggian tanjakan) mencapai 1.889 meter. Bandingkan dengan Genting Highlands yang “hanya” sekitar 1.660 meter hingga 1.740 meter. Itupun Genting Highlands sudah tidak lagi digunakan di Le Tour de Langkawi 2016. Sebagai gantinya, LTdL menggunakan Cameron Highlands sebagai arena etape tanjakan. Tapi, Cameron Highlands justru lebih pendek, hanya memiliki elevasi 1.450 meter. Jauh dengan Paltuding, Ijen, yang mencapai 1.889 meter.
Namun, baik Cameron, Genting, dan Ijen, ketiganya sudah termasuk kategori tanjakan terberat dalam ukuran balap sepeda profesional: hors categorie (HC). Karena itu, tidak salah jika ITdBI termasuk salah satu balapan terberat di level Asia. “Di sini kamu akan menanjak sekali, dua kali, tiga kali dan kamu mulai lelah. Tapi kecuramannya tak berhenti dan terus bertambah sampai kamu benar-benar frustasi dan tak tahu apa yang harus kamu lakukan,” kata Edgar Nohales Nieto dari 7Eleven-Sava RBP Filipina.
Dengan tanjakan yang berat dan panjang, pembalap yang mampu memenangi etape keempat biasanya bablas juara umum alias general classification. Sebab, selisih waktu yang didapatkan di etape ini membuat raihan nilainya tak terkejar oleh para pembalap lainnya. Lantas, siapa saja yang berpotensi merebut gelar juara di etape ini? Nama pertama jelas sang juara bertahan Peter Pouly (Singha Inifinite Cycling Team). Pembalap Prancis tersebut sudah dua kali beruntun menguasai etape tanjakan dan dua-duanya mengantarkannya menjadi juara umum.
Bahkan, kemenangan keduanya di Ijen pada 2015 lalu sampai membuat dia memutuskan memberi nama anaknya yang baru lahir dengan nama Ijen Pouly. Dengan situasi tersebut, Pouly bakal memburu kemenangan ketiga beruntun. “Saya harap situasi akan sama seperti tahun lalu dan dua tahun lalu. Saya ingin memenanginya lagi,” katanya. Pouly berharap etape terakhir akan berjalan baik. Saat ini, kondisinya fisiknya juga sangat prima. “Selisih saya dengan pemakai yellow jersey (Benjamin Prades) hanya 10 detik. Itu membuat beban saya di Ijen besok tidak akan terlalu berat,” katanya.
Pouly mewaspadai empat pembalap yang akan jadi saingan terberatnya. Mereka adalah Daniel Whitehouse (Terengganu Cycling Team), Ricardo Garcia (Kinan Cycling Team), Benjamin Prades (Team UKYO), dan Suleiman Kangangi (Kenya Riders Downunder). “Saya lihat mereka saat kami bersama-sama melarikan diri dari peloton di Kalibendo pada etape kedua ITdBI. Saya kira pertarungan kami selanjutnya adalah di Ijen,” kata Pouly. Meski Pouly hanya menyebut empat pembalap, climber lain pun tak bisa diremehkan.
Edgar Nohales Nieto yang juga climber mengatakan bahwa dia sangat ingin bisa memenangi etape keempat. Tapi, kondisinya buruk sejak etape dua. Dia sempat terjatuh. Karena itu, dia akan memberi support untuk rekan setimnya, Marcelo Felipe. Pembalap asal Filipina itu, kata Nieto, berada dalam kondisi yang baik. Dia juga sedang bersemangat. “Saya kira dia bisa membuat perbedaan besok,” katanya.
Para climber Indonesia pun tak bisa diremehkan. Ada tiga pembalap Tanah Air yang bakal ikut dalam perang perebutan gelar juara. Mereka adalah Aiman Cahyadi (Pegasus Continental Cycling Team), Hari Fitrianto (Black Inc Cycling Team), dan Dadi Suryadi (Terengganu Cycling Team). Nama-nama climber Indonesia patut diperhitungkan karena ITdBI kali ini jauh lebih kompetitif. Penyebabnya, para pembalap Iran absen. Biasanya, jika pembalap asal Timur Tengah itu turun mereka akan mendominasi balapan. Bahkan, peloton selalu dikendalikan. Tujuannya, mereka bisa dominan di tanjakan. “Tak ada Iran kompetisi jadi lebih terbuka. Semua tim ingin juara. Balapan jadi lebih seru. Kami juga ingin menang,” kata Aiman.
Hal senada juga diungkapkan Hari. Menurut dia, pertarungan sangat terbuka. Tapi, salah satu pembalap tanjakan andalan Indonesia itu justru menjagokan Dadi Suryadi. “Saya kira Dadi adalah yang terbaik saat ini. Tapi, saya juga ingin menargetkan menang,” katanya. Pouly ikut mengamini. “Balapan akan lebih gila dan persaingan semakin seru. Semua orang kini bisa bersaing. Jadi saya juga harus bersiap-siap untuk menghadapi mereka,” katanya. (humas)