Fashion Recycle on The Street Ala Banyuwangi
Jumat, 13 Maret 2015
Banyuwangi selalu punya cara unik dalam menggelar atraksi. Masih dalam balutan Banyuwangi Festival, kabupaten di ujung Timur Pulau Jawa ini menggelar Green & Recycle Fashion. Sebuah parade busana, di mana puluhan modelnya menggunakan kostum hasil daur ulang. Catwalknya pun unik, digelar di jalan protokol.
Jumat malam (13/3), halaman depan pemda dipenuhi para ‘model dadakan’. Mereka menggunakan pakaian dengan beranekaragam desain dengan beraneka bahan-bahan bekas. Salah satunya adalah Novyke Nurul yang malam itu mengenakan gaun sebatas lutut. Dia mengaku agak susah awalnya membentuk busana cantik berbahan utama kertas. Kesulitan bagaimana memadupadankan antara kertas bungkus semen, kain, dan manik-manik bekas.
“Kertas semennya saya cuci dulu, lalu dilem menyeluruh biar agak kaku. Baru kita jahit dan gabungkan dengan kain, plus nempel manik-maniknya. Ribet, tapi justru memacu saya untuk bisa bereksperimen dengan bahan bekas. Ternyata susah juga dibanding kita bikin baju dari kain,” kata karyawati PDAM Banyuwangi ini.
Malam itu, bahan kertas memang menjadi tema utama dalam fashion daur ulang tersebut. Dengan aturan yang ditetapkan busana yang dikenakan 70 persen berbahan dasar kertas, peserta dengan kreatif mengubah sampah kertas berupa kertas semen, koran dan majalah bekas, cup kue, hingga kotak kue menjadi sebuah gaun yang indah.
Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan Green and Recycle Fashion adalah parade fashion yang memanfaatkan limbah daur ulang menjadi pakaian yang ready to use. “Festival ini memang unik dan berbeda. Tidak hanya fashion mainstream yang kita tampilkan, tapi peragaan fashion daur ulang juga kita adakan sebagai bagian dari kepedulian kita pada lingkungan,” kata Bupati Abdullah Azwar Anas.
Selama ini, banyak masyarakat yang belum memahami cara memanfaatkan sampah yang bisa di daur ulang seperti kertas atau plastik. Padahal dengan sedikit kreatifitas, sampah tersebut bisa menjadi produk baru yang memiliki nilai lebih. “Kita ingin menunjukkan kepada masyarakat kalau sampah juga bisa disulap menjadi produk baru yang bernilai seni dan ekonomi. Kita kemas dalam even fashion agar masyarakat khususnya anak muda lebih tertarik untuk berpartisipasi dan terlibat dalam kreasi daur ulang,” ujar Anas.
Ditambahkan Anas, green and recycle fashion ini sejalan dengan ecotourism yang ingin diwujudkan Banyuwangi. “Tak hanya sekedar memaksimalkan potensi wisata yang ada, tapi bagaimana kita mewujudkan wisata Banyuwangi yang ramah lingkungan, serta mampu menjaga dan merangkul alam,” tandas bupati.
Caranya, lanjut Anas, salah satunya dengan memanfaatkan barang bekas dan tak membiarkannya terlantar dan berserakan. “Pokoknya, sambil menyelam minum air. Sambil menggalakkan pariwisata Banyuwangi, kita juga terus berkreasi,” ujar Bupati Anas.
Green and Recycle Fashion Banyuwangi ini digelar selama dua hari, 13-14 Maret. Jumat (13/3) digelar malam hari di jalan protokol dengan pesertanya para karyawan. Sementara esok, Sabtu (14/3) akan diikuti dari kalangan pelajar hingga masyarakat umum, dengan ratusan peserta. Bukan lagi di jalan, catwalk hari kedua ini akan digelar di sebuah amphitheatre yang berlokasi Pantai Boom pada pukul 13.00. Menarik bukan. Yuk tonton acaranya besok! (Humas Protokol)