FISIP Universitas Udayana Kunjungi Banyuwangi

Senin, 4 Mei 2015


Kunker Strategi Kebijakan Best Practice Otonomi Daerah di Banyuwangi

BANYUWANGI – Rombongan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Program Studi Ilmu Politik Universitas Udayana (UNUD), Senin pagi (4/5) berkunjung ke Banyuwangi. Kunjungannya tersebut dimanfaatkan untuk menimba ilmu dari Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas terkait strategi kebijakan best practice otonomi daerah di Banyuwangi.

Ketua rombongan, Tedi Erviantono mengungkapkan, bukan tanpa alasan pihaknya berkunjung ke Banyuwangi. Berbagai penghargaan yang diperoleh Banyuwangi atas  inovasi yang digagas kabupaten ini membuat mereka tergerak untuk menggali lebih jauh. “Beberapa waktu lalu  Banyuwangi menyabet  3 penghargaan sekaligus di bidang  pertumbuhan ekonomi, partisipasi publik dan kinerja politik. Yang paling menarik perhatian kami adalah kinerja politik, bagaimana pemerintah daerah Banyuwangi bisa memberikan akuntabilitas dan transparansi tentang tender kepada khalayak,”tutur pria yang menjabat sebagai Pembantu Dekan I ini.

Kedatangan Tedi bersama 31 mahasiswanya ini untuk memetakan politik lokal dan otonomi daerah. Selain Pemkab Banyuwangi, Pemerintah Kota Surabaya juga akan menjadi lokus berikutnya untuk diteliti. Menurut Tedi, apa yang dilakukan Banyuwangi dan Pemkot Surabaya ada kesesuaian dengan road map penelitian mahasiswanya.

“Dari 30 mahasiswa kami, biasanya 10 di antaranya asal Banyuwangi. Kami selalu mendorong mereka untuk meneliti objek yang ada di daerahnya. Kami ingin mahasiswa kami betul-betul menyerahkan hasil penelitiannya pada pemerintah daerahnya sebagai bentuk tanggung jawab atas objek yang diteliti,”terang Tedi sambil mencontohkan dua produk penelitian mahasiswanya tentang Pengembangan Pulau Merah dan Pengembangan sektor UMKM di Banyuwangi.

Bupati Anas menyambut baik kunjungan Tedi bersama rombongannya. Bahkan orang nomor satu di Banyuwangi ini juga sempat berbagi  kiat-kiatnya hingga membuahkan berbagai penghargaan tersebut. “Pasca otonomi, ada dua tipe daerah. Pertama, tipe daerah yang terus mengeluh dan merasa selalu kekurangan. Biasanya dia selalu menyalahkan provinsi atau pusat. Kedua, tipe daerah yang tahu dengan posisinya, mana kelebihan dan mana kekurangan mereka. Nah, Banyuwangi berada di posisi yang terus berupaya menempatkan diri menjadi daerah yang tidak pernah mengeluh. Berusaha mengenali potensi daerahnya,”beber bupati.

Otonomi daerah, kata bupati, ke depan akan sangat tergantung pada bagaimana upaya daerah menentukan skala prioritas. Pasca reformasi, lanjut bupati, yang paling terlihat adalah kerusakan tata ruang. Banyak daerah menjadi maju namun mengorbankan kelestarian alamnya. “Mereka  mengeksploitasi alamnya hingga belakangan menjadi rusak. Kami mengambil langkah berbeda. Sejak awal tidak bergantung pada eksploitasi alam, tapi kemampuan pengembangan SDM,” katanya. Kalau pun melibatkan alam, itu hanya sekedar menjadi penyokong saja.

Bentuk pengembangan SDM yang disebut Banyuwangi antara lain pendirian beberapa sekolah seperti Sekolah Pilot Negeri, Poltek Negeri Banyuwangi dan UNAIR Banyuwangi. Juga adanya beasiswa Banyuwangi Cerdas dan gerakan berantas buta aksara. Beragam program yang dibuat Banyuwangi yang sempat dipaparkan Bupati Anas juga membuat kesengsem para mahasiswa dan dosen asal Pulau Dewata itu. “Ke depan kami berjanji akan kembali. Karena kami juga masih banyak program studi (prodi) yang lain,” tandas Tedi. (Humas & Protokol)

 



Berita Terkait

Bagikan Artikel :