FKUB Sidoarjo Belajar Kerukunan Umat Beragama di Banyuwangi
Selasa, 29 November 2016
BANYUWANGI – Kerukunan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Banyuwangi yang selalu terjaga menarik perhatian FKUB Kabupaten Sidoarjo. Untuk melihat lebih dekat apa dan bagaimana yang dilakukan FKUB Banyuwangi hingga tidak ada konflik antar umat, FKUB Sidoarjo secara khusus melakukan kunjungan kerja (kunker) ke Banyuwangi, Selasa (29/11).
Menurut Ketua FKUB Sidoarjo, Imron Rofi’I, Banyuwangi memiliki kultur yang cukup banyak, namun sangat minim konflik antar umat beragama bahkan nyaris tidak pernah ada. Justru yang terlihat kerukunan anatar umat sangat terjaga. “Melihat kondisi ini kami sengaja datang ke sini untuk belajar bagaimana membina antar umat ini hingga tercipta kondisi seperti ini,” kata Imron, di Lounge Pelayanan Publik.
Selain itu, kata Imron, penduduk Banyuwangi ini cukup banyak dan wilayahnya sangat luas. Tentunya membutuhkan sarana tempat peribadatan yang tidak sedikit bagi tiap-tiap umat beragama. “Yang ingin kami tahu, bagaimana cara membangi pendirian tempat ibadah hingga antar umat beragama hidup rukun dan saling menghormati,” tanyanya.
FKUB Sidoarjo, datang ke Banyuwangi membawa 15 anggotanya dari berbagai lintas agama. Mulai perwakilan agama Islam, Hindu, Kristen, Katholik, Konghucu dan Budha. Mereka berada di Banyuwangi selama dua hari hanya untuk belajar beragam kiat dalam menjaga kerukunan antar umat beragama. Kedatangan mereka ini diterima Wakil Ketua FKUB Kabupaten Banyuwangi dan Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol), Wiyono, di Lounge Pelayanan Publik, Selasa (29/11).
Wakil Ketua FKUB Kabupaten Banyuwangi, Choirul Anwar, mengatakan terjaganya kerukunan umat beragama di Banyuwangi tak lepas dari kebijakan pemerintah daerah lewat sinergitas tiga pilar. Tiga pilar ini, sebuah kegiatan rutin yang digagas pemerintah daerah dalam menjaga stalibitas keamanan Banyuwangi. Dalam forum ini, semua lintas agama, tokoh, aparat pemerintah dan keamanan duduk bersama bagaimana mewujudkan Banyuwangi yang damai.
“Dalam hal menjaga stabilitas keamanan ini, kami banyak membuat deklarasi yang langsung disepakati dengan FKUB sebagai bentuk komitmen dalam menjaga keamanan. Selain itu, banyaknya kebijakan pemerintah yang melibatkan peran serta FKUB, seperti penutupan lokalisasi hingga tempat-tempat hiburan malam,” kata Choirul Anwar.
Hal lain yang bisa merekatkan hubungan dan toleransi antar umat adalah, membangun mendekatkan pemuda lintas agama lewat kemah bersama pemuda. Kemah yang diberi nama FORMULA 1 (Forum Pemuda Lintas Agama Bersatu itu) ini sengaja dibuat agar para pemuda bisa berkumpul dan berdiskusi satu sama lain, sehingga kedekatan diantara mereka akan terbangun. “Ini juga salah salah cara kami membangun kerukunan,” ujarnya.
Terkait tertibnya pendirian rumah ibadah, imbuh Choirul, FKUB selalu mensosialisasikan Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri (PBM) nomor 8 dan 9 tahun 2006 tentang Pedoman Pelaksanaan Tugas Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah dalam memelihara kerukunan umat beragama, pemberdayaan FKUB dan pendirian rumah ibadah. “Sehingga umat beragama positif dan saling bergantian dalam mendirikan tempat ibadah,” pungkasnya.(Humas)