Forum Harimau Kita dan KLHK Gelar Konferensi Karnivora Indonesia di Banyuwangi

Rabu, 29 November 2017


BANYUWANGI - Forum Harimau Kita (FHK) bekerjasama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK)  menggelar Konferensi Karnivora Indonesia (KKI)  di Banyuwangi, 24 – 30 November 2017. Konferensi yang digelar  di hall Hotel Ketapang Indah Banyuwangi  ini diikuti 120  penggiat lingkungan dari berbagai kalangan di Indonesia. Mulai dari mahasiswa, akademisi, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), lembaga pemerintah hingga  sektor swasta.

Sejumlah nara sumber yang kompeten di bidangnya dihadirkan dalam forum   ini. Seperti Prof Gono Semiadi dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dr Tonny Soehartono dari PT Restorasi Ekosistem Indonesia, Dwi Adhiasto Nugroho,M.A. dari Wildlife Conservation Society-Indonesia Program, dan Ir Wiratmo, M.Sc dari KLHK.

Dijelaskan oleh Executive Officer FHK, Laksmi Datu Bahaduri, konferensi ini digelar sebagai ajang berbagi  informasi terkini dan upaya konservasi yang telah atau sedang dikembangkan. Sehingga dapat memberikan rekomendasi strategi konservasi di masa mendatang. “Tentunya  kegiatan ini juga menjadi ajang meningkatkan jejaring di antara para peneliti dari berbagai kalangan, serta berguna untuk membangun kapasitas para peneliti melalui pelatihan teknis kepada konservasionis muda dan potensial,” tutur Laksmi, Rabu (29/11).

Mengapa Banyuwangi yang dipilih sebagai tempat diselenggarakannya forum ini, menurut Laksmi karena posisi Banyuwangi  sangat strategis. Selain karena terletak di antara beberapa  Taman Nasional, yakni Taman Nasional Alas Purwo, Meru Betiri, dan Baluran, Banyuwangi juga memiliki karnivora yang mewakili lansekap yang diangkat dalam konferensi ini. Yakni macan tutul, ajag dan banteng.

Sementara itu, dijelaskan oleh  Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), KLHK, Ir Wiratno, M.Sc, pemerintah punya kebijakan untuk melibatkan masyarakat dalam upaya konservasi mamalia karnivora.

“Indonesia ini punya 36 jenis mamalia karnivora. Perhatian terhadap mamalia karnivora saat ini terbatas pada jenis-jenis yang populer seperti harimau Sumatera, macan tutul dan macan dahan. Padahal populasi 27 jenis karnivora terus mengalami penurunan dan 17 diantaranya termasuk dalam daftar merah  International Union for Conservation of Nature (IUCN), yakni tujuh dengan status genting  (endangered)  dan 10 rentan  (vulnerable),” beber  Wiratno dalam kegiatan yang juga didukung oleh Disney Conservation Fund, Wildlife Conservation Society-Indonesia Program, Kelola Sendang, Taman Safari Indonesia dan Journal of Indonesian Natural History ini.

Masyarakat, imbuh Wiratno,  berada dalam garis terdepan dalam menjaga stabilitas populasi dan kelestarian hutan yang tidak hanya berfungsi sebagai habitat satwa liar, tapi juga menjadi bagian dari sistem penyangga kehidupan bagi kelangsungan hidup manusia. Selain itu, peran aktif masyarakat diharapkan dapat menjadi benteng pertahanan terhadap tindakan perburuan dan perdagangan ilegal satwa liar.

“Karenanya, kami memadukan upaya intervensi konservasi ini dengan menggunakan teknologi dan metode terbaru, membangun keterlibatan masyarakat, serta meningkatkan peran institusi pendidikan dan penelitian,” terangnya.

Kegiatan konferensi ini dilakukan dalam beberapa rangkaian. Yakni pelatihan statistik dalam konservasi, konferensi dan eduwisata. Peserta juga akan diajak untuk mengeksplorasi Taman Nasional Baluran. Mereka turun langsung dalam kegiatan pengenalan Taman Nasional Baluran, pengelolaan tanaman akasia, juga melihat dari dekat habitat banteng, macan tutul dan kera ekor panjang, serta pemasangan kamera penjebak (camera trap) untuk mendeteksi satwa.

Berdasarkan data LIPI 2013, tercatat terdapat 47.910 jenis keanekaragaman hayati di Indonesia. Jumlah tersebut masih jauh lebih kecil dari potensi yang sebenarnya ada. Hal itu disebabkan karena seluruh spesies belum teridentifikasi dan didaftarkan secara pasti. Hasil diskusi yang dibahas dalam forum ini akan disampaikan pada pemerintah dan stakeholders lainnya sebagai laporan sekaligus dijadikan bahan evaluasi ke depan. (*)



Berita Terkait

Bagikan Artikel :