Forum Pembauran Kebangsaan Gelar Sarasehan
Rabu, 16 September 2015
Untuk Pererat Silaturrahim, Koordinasi dan Komunikasi Antar Etnis
BANYUWANGI – Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) menggelar sarasehan di Hotel Tanjung Asri, Rabu pagi (16/9). Forum yang difasilitasi Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) tersebut ditujukan untuk mempererat silaturrahim, koordinasi dan komunikasi antar etnis di Banyuwangi yang beragam. Mulai dari suku Osing, Madura, Bali, Sulawesi, Tionghoa, Arab, dan masih banyak lagi.
Kepala Bakesbangpol, Djafri Yusuf mengatakan, Pemkab Banyuwangi tertarik untuk memfasilitasi forum ini, sebab para pengurus dan anggotanya punya keinginan yang kuat untuk mewujudkan persatuan di tengah keberagaman. “Ketika FPK terbentuk tahun 2010, mereka sendiri yang memilih siapa-siapa yang menjadi pengurusnya. Mereka juga yang dengan gigih merangkul orang-orang di sekitarnya untuk menjadi anggota. Tujuannya satu, yakni bersama-sama membangun Banyuwangi meski mereka berbeda suku, ras dan agama,” tandas Djafri di sela sarasehan yang diikuti tak kurang dari 300 peserta ini.
FPK yang disebut Djafri sebagai forum pemersatu etnis ini berdiri berdasarkan Permendagri nomor 34 tahun 2006 tentang Pembentukan Forum Pembauran di Tingkat Daerah. Di masa awal pembentukannya, FPK Banyuwangi dipimpin oleh Muhammad Syawal, yang kali ini diteruskan oleh Miskawi. “Kita bersyukur di Banyuwangi yang dikenal dengan masyarakatnya yang beragam, selama ini jauh dari permasalahan. Adanya FPK justru akan mempermudah dan membantu pemerintah daerah. Jika sewaktu-waktu terjadi konflik, forum ini akan turun langsung untuk menyelesaikan masalah diantara mereka, sehingga kasusnya tidak sampai ke ranah hukum,”ujar Djafri.
Sementara itu, Wakil Bupati Yusuf Widyatmoko saat membuka kegiatan tersebut menegaskan bahwa pembauran sangatlah penting. “Di Banyuwangi itu banyak etnis. Sejak dulu kita memang tidak pernah mendengar ada gesekan antar berbagai etnis tersebut. Tapi dengan adanya forum pembauran ini, masyarakat lebih terfasilitasi, lebih bersatu dan lebih membaur lagi dalam membangun kekuatan Banyuwangi,” tutur Wabup Yusuf.
Ke depan Wabup Yusuf berpesan agar forum ini terus ditindaklanjuti, sehingga tak hanya hidup di tingkat kabupaten saja, namun juga sampai ke tingkat kecamatan dan desa.
Sarasehan yang digelar berlangsung hangat dan akrab. Bahkan hingga akhir acara, tak terlihat satu pun yang beranjak meninggalkan tempat. Semua tampak serius menyimak sang nara sumber, Sugihartoyo yang membawakan topik ‘Peningkatan Rasa Solidaritas dan Ikatan Sosial di Kalangan Masyarakat’. Topik tersebut dibawakan dengan santai namun mengena oleh Ketua DHC ’45 yang juga mantan Rektor Universitas Tujuh Belas Agustus 1945 (Untag) Banyuwangi itu.
Dalam forum tersebut juga dibacakan sekilas tentang sejarah Banyuwangi. Sejarah Banyuwangi tersebut diceritakan oleh Slamet Utomo yang juga penasihat FPK. Slamet membeberkan, Banyuwangi telah sejak dulu punya tokoh pemersatu etnis.
Yang pertama adalah Prabu Tawangalun. Prabu Tawangalun menikah dengan seorang perempuan etnis Tionghoa. Namun istrinya sangat merakyat dan begitu dicintai oleh rakyatnya. Keturunan mereka pun juga sangat dekat di hati rakyatnya. Tokoh kedua adalah Wong Agung Wilis. Wong Agung Wilis yang memerintah dari 1767 – 1768 ini mampu mengerahkan masyarakat Blambangan Barat, Jember dan Malang untuk memberontak melawan Belanda. Masyarakat yang dia kerahkan pun terdiri dari berbagai etnis seperti Cina, Madura, Bugis, dan Melayu Islam. (Humas & Protokol)