Gandeng Bekraf, Stakeholder Rumuskan Potensi Kreatif Banyuwangi

Selasa, 11 Oktober 2016


 

FGD kali ini Bekraf dengan mengajak teman-teman dari BCCF (Bandung Creative City Forum), sebuah forum yang terdiri dari individu, komunitas, dan masyarakat kreatif Kota Bandung. "BCCF kami ajak ke sini untuk bisa sharing dan menyamakan persepsi. Sehingga tindak lanjut ke depan terkait tujuh poin tentang pengembangan dan fasilitas ekonomi kreatif berbasis desa di Kabupaten Banyuwangi dapat terwujud," ujar Hassan.

Bekraf dan pemkab Banyuwangi telah menandatangani MoU berisi tentang pengembangan dan fasilitasi ekonomi kreatif berbasis desa di Banyuwangi. Ada tujuh ruang lingkup yang diatur dalam kesepakatan tersebut, yaitu riset; edukasi dan pengembangan ekonomi kreatif; akses permodalan; infrastruktur; pemasaran; regulasi; dan hubungan antar lembaga dan wilayah.

Salah satu pembicara dari BBCF, Dr. Dwinita Larasati mengatakan FGD ini piloting dengan mengaplikasikan 3C. "Di sini saya kira tahapan connect-nya sudah terpenuhi karena antara kelima stake holder ini sering bersinggungan. Mungkin tinggal kolaborasi dan pemasarannya saja. Kami keluaran FG Dini akan merumuskan solusi masalah itu," ujar Tita, panggilan akrabnya.

Selain diskusi antar peserta, FGD ini juga diisi sejumlah pemateri dari BCCF. Mereka memberikan materi antara lain bagaimana penguatan lembaga ekonomi kreatif, pengembangan komunitas kreatif, pemasaran aset tak benda berupa tradisi dan budaya daerah, serta pengembangan suatu kampung kreatif.

Sementara itu, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan bahwa FGD ini perlu dilakukan untuk menyamakan persepsi antar pelaku ekonomi kreatif. "Pemkab sudah banyak melakukan promosi, membuat beragam even sebagai upaya menarik wisatawan untuk hadir di Banyuwangi. Kini tugas para pelaku ekonomi untuk bersaing meningkatkan kualitas produknya," ujar Anas.

Selain itu, Anas menginginkan agar para kelima stake holder, terutama antar pelaku ekonomi untuk bisa bersinergi mengembangkan sentra kriya Banyuwangi. Pemkab Banyuwangi tengah membangun sebuah pasar terminal pariwisata terpadu yang nantinya di kawasan tersebut semua kendaraan yang melayani rute ke sejumlah destinasi wisata akan terpusat di sana. Selain itu, di kawasan tersebut akan dikembangan pasar kerajinan Banyuwangi. "Saya ingin agar semua pengrajin bisa bersinergi menjual produk kreatifnya di sana," pungkas Anas.

Dari rekomendasi FGD, nantinya akan segera ditindaklanjuti bersama sejumlah deputi Bekraf. dan ditindaklanjuti oleh masing-masing SKPD terkait. "Salah satu bentuk tindaklanjut tersebut akan ditentukan skala prioritas subsektor ekonomi kreatif di Banyuwangi yang akan dikembangkan. Skala prioritas tersebut akan dilaksanakan dalam skala desa," kata Anas.

Salah satu peserta FGD Hendry Vicky dari Banyucindih Creative mengaku merasa beruntung program ini digelar. Kegiatan FGD, menurut dia, bisa mendorong peningkatan komunikasi yang efektif lintas stekholder sehingga bisa saling mendukung. "Harapannya dengan ini bisa mendorong subsektor lain yang masih lemah, seperti dalam bidang film dan video animasi," ungkap Vicky yang pernah menyabet karya terbaik dalam Denpasar Film Festival 2014 dan Piala Ki Dewantara dari Kementerian Pendidikan Kebudayaan pada Apresiasi Film Indonesia pada 2015. (humas)



Berita Terkait

Bagikan Artikel :