Gandrung Sewu ‘Seblang Subuh’ Undang Decak Kagum Penonton
Sabtu, 29 November 2014
BANYUWANGI – Perhelatan Gandrung Sewu episode ‘Seblang Subuh’ , Sabtu (29/11),mengundang decak kagum penonton. Tak hanya masyarakat Banyuwangi yang terpesona melihat tarian kolosal khas Bumi Blambangan itu, tapi juga orang-orang dari luar Banyuwangi yang sengaja datang untuk menyaksikan event yang digelar untuk ketiga kalinya ini.
Putri Pariwisata 2014 Syarifah Fajri Maulidiyah, salah satunya. Dia menyatakan kekagumannya atas keelokan tarian yang dibawakan oleh 1258 penari tersebut. “Keren banget… Saya tidak menyangka Banyuwangi yang boleh dibilang kota kecil, bisa mengemas pertunjukan sebagus ini. Tarian dan musiknya rancak, penarinya kompak dan atraktif, kostum merah menyala yang dikenakan pun cantik,”pujinya. Syarifah berharap, masyarakat Banyuwangi tetap menjaga budayanya agar tak diaku-aku negara lain.
Nyaris serupa dengan Syarifah, wisatawan asal Jerman, Quynh Trang Nguyen (23 tahun) juga memberikan acungan jempol untuk Gandrung Sewu yang digelar di Pantai Boom ini. Gadis keturunan Vietnam yang travelling seorang diri ke Banyuwangi itu justru surprise dengan penampilan Gandrung laki-laki (Gandrung Marsan) yang berpakaian sama dengan penari Gandrung wanita. “Saya surprise, tidak menyangka ada penari laki-laki yang berpakaian sama dengan penari wanita, menari sama enerjiknya. Satu kata untuk Banyuwangi, ELEGAN !” kata Nguyen yang sehari sebelumnya sempat menikmati keindahan blue fire Kawah Ijen itu.
Nguyen yang sengaja menabung untuk travelling ke negara-negara Asia termasuk Indonesia menitipkan harapannya untuk Pemkab Banyuwangi maupun masyarakatnya. “Kekayaan budaya seperti ini harus di-publish lebih luas. Misalnya lewat facebook, twitter, youtube, instagram maupun berbagai media sosial lainnya. Jadi yang tahu tidak hanya masyarakat lokal atau Indonesia saja, tapi juga seluruh dunia. Supaya makin banyak yang datang ke sini,”tandas Nguyen.
Tak hanya penarinya yang ribuan, penonton event ini juga ribuan. Kedatangan mereka ke pantai yang letaknya berdekatan dengan pusat kota itu praktis membuat ekonomi menggeliat. Di sepanjang jalan menuju Pantai Boom dipenuhi pedagang kaki lima (PKL) yang berjualan beragam dagangan. Mulai dari makanan, minuman, mainan, pakaian hingga peralatan dapur. Pengunjung yang datang tidak melewatkan kesempatan untuk berbelanja, terutama makanan pengganjal perut dan minuman pelepas dahaga. Maklum, mereka telah berada di venue sejak pukul 12.00 WIB meski acara baru dimulai pukul 15.00 WIB. (Humas & Protokol)