Gerakan Sepuluh Ribu Kolam Ikan Banyuwangi Mulai Tunai Hasil
Senin, 19 September 2016
Pembudidayaan ikan yang dilakukan oleh komunitas ini menggunakan sistem pemusatan saluran air (central drainase), sehingga kolam tidak mudah keruh. ”Ini jadi keunggulan ikan kami. Selain pakannya full pelet dengan kandungan protein di atas 30 persen, sirkulasi airnya selalu bersih. Sehingga, rasa ikan kami lebih enak,” ujarnya. Agus rutin memasok ikan lele hingga ke Pulau Bali.
Buah manis budidaya ikan di pekarangan juga dirasakan Eva Sunika (43 tahun). Ibu rumah tangga ini mengembangkan pembibitan ikan lele yang dipanen setiap 2 bulan sekali. Dari 5 kolam yang dimiliki Eva bisa mendapatkan Rp 4 juta sekali panen. ”Hasilnya bisa untuk kehidupan sehari-hari, bahkan bisa membantu beli buku dan tambah uang jajan anak di sekolah,” ujar Eva.
Tumbuhnya berbagai pembudidaya ikan air tawar tersebut tidak menjadikan pasar semakin sempit. Justru sampai saat ini permintaan ikan air tawar terus meningkat. Untuk wilayah Banyuwangi per tahun kebutuhan ikan mencapai 30 kg/kapita/tahun.
“Per tahunnya kebutuhan konsumsi ikan masyarakat Banyuwangi mencapai 48 ribu ton. Jadi masih butuh banyak. Oleh karena itu, kita akan terus meningkatkannya,” papar Pudjo.
Dia mengatakan, untuk kelompok warga yang sudah berhasil berkembang, Pemkab Banyuwangi sudah tidak mengucurkan bantuan. Fasilitasi seperti pemberian bibit, pakan, terpal, dan beberapa peralatan lain difokuskan ke warga yang skala bisnis kolam ikannya masih terbatas. ”Tapi untuk pelatihan dan pendampingan semua kita fasilitasi tanpa memandang kelompok warga ini sudah besar atau belum,” pungkas Pudjo. (humas)