Hadapi Ancaman Erupsi Gunung Agung, BPBD Banyuwangi Nyatakan Kesiapsiagaannya

Jumat, 6 Oktober 2017


BANYUWANGI -  Menghadapi ancaman bencana erupsi Gunung Agung, Bali,  Badan Penanggulangan Bencana Daerah  (BPBD) Banyuwangi menyatakan kesiapsiagaannya.

Hal itu dilakukan menyusul status Awas (level IV) yang ditetapkan oleh Pusat Vulkanologi, Mitigasi, Bencana Geologi (PVMBG) beberapa minggu lalu.

Kesiapan BPBD Banyuwangi tersebut diungkapkan saat berlangsungnya rapat koordinasi di lingkungan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, Rabu (4/10).

Menurut Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Banyuwangi, Fajar Suasana, rakor tersebut bertujuan untuk menyiapkan daerahnya untuk mengantisipasi sejak dini  dampak erupsi Gunung Agung. BPBD  mengundang sejumlah stakeholder dan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Banyuwangi untuk berkumpul membahas langkah antisipasi tersebut.

"Kita memang belum bisa  memprediksi kapan Gunung Agung meletus. Tapi setidaknya, kita telah siap siaga di daerah khususnya di Banyuwangi untuk mengantisipasi dampak jika Gunung Agung erupsi," jelas Kalaksa BPBD Banyuwangi, Fajar Suasana.

Hasil dari rapat tersebut, kata Fajar, jika Gunung Agung erupsi maka Banyuwangi kemungkinan besar akan mendapat dampak berupa abu vulkanik. Sehingga pihaknya mulai mengambil langkah antisipasi terhadap dampak tersebut.

"Meski demikian, kita harus tahu dulu bagaimana arah angin. Memang hasil dari perhitungan BMKG, kemungkinan Oktober ini arah angin masih cenderung mengarah ke barat," katanya.

Langkah awal, lanjut Fajar, antisipasi yang dilakukan yakni menyiapkan masker atau penutup hidung. Dalam hal ini, satuan kerja yang disiapkan adalah  Dinas Kesehatan, PMI maupun rumah sakit.

"Debu dampaknya ini pasti berpengaruh pada kesehatan. Karena debu vulkanologi dampaknya sangat mengganggu pernapasan. Di samping menyiapkan masker dari kita sendiri, kami  juga melibatkan SKPD yang lain.  Misalnya dari Dinas Kesehatan yang menyiapkan 100 ribu masker dan  PMI 58 ribu masker.

Gangguan lain dari debu, kata Fajar, memungkinkan akan mengganggu aktivitas warga lainnya. Misalnya, mengenai kondisi pertanian, maupun ruang publik lain termasuk aktivitas transportasi.

"Debu kemungkinan juga akan berdampak pada pertanian. Dari rekan-rekan pertanian juga sudah menangkap isu ini dan cara mengantisipasinya. Juga  ada Dinas PU Cipta Karya dan Penataan Ruang, serta  Dinas Perhubungan dalam kaitannya dengan transportasi,"ungkapnya.

Rapat tersebut sekaligus menjadi  langkah sosialisasi kepada camat untuk menyampaikan mengenai kondisi terkini Gunung Agung. Camat diminta  meneruskan informasi positif kepada warganya agar tetap tenang. (*)

 

 

 

 

 

 



Berita Terkait

Bagikan Artikel :