Hadiri Undangan Umat Hindu, Bupati Banyuwangi Komitmen Rawat Kebhinekaan Indonesia
Senin, 24 Maret 2014
PESANGGARAN - Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mendorong peningkatan kerukunan antar-umat beragama di daerahnya. Kerukunan antar-umat beragama adalah modal untuk membangun daerah menjadi lebih baik.
"Kemajemukan Indonesia itu hal yang tak bisa dimungkiri. Jadikan itu rahmat, bareng-bareng membangun daerah dan bangsa. Kebhinekaan Indonesia harus dirawat, bangun saling pengertian, bukan malah menebar kebencian," ujar Bupati Anas saat menghadiri undangan umat Hindu di Banyuwangi untuk menyaksikan upacara Melasti di Pura Segara Tawangalun di sekitar kawasan Pantai Pulau Merah, Banyuwangi, Minggu (23/3/2014).
Dalam kesempatan tersebut, Bupati Anas berpesan kepada umat Hindu yang hadir untuk tak lelah berkontribusi memajukan diri dan masyarakat. "Bareng-bareng membangun Banyuwangi lebih baik lagi. Saya juga menanti kritik dan masukan dari semua kalangan untuk pembangunan Banyuwangi ke depan," kata Bupati Anas.
Di Banyuwangi, terdapat sekitar 48.006 jiwa umat Hindu yang tersebar di berbagai kecamatan.
Bupati Anas mengatakan, salah satu cara yang dilakukan Banyuwangi untuk meningkatkan kerukunan antar-umat beragama adalah dengan menggelar forum rutin pertemuan antar-tokoh agama.
Tokoh dari berbagai agama diajak duduk bersama untuk berkomunikasi dan membuat program-program bersama yang bermanfaat bagi masyarakat, seperti penanaman pohon. Bahkan, para tokoh agama juga ikut menandatangani deklarasi mendukung Gerakan Sedekah Oksigen dengan banyak menanam pohon di sekitar tempat ibadah serta menyelipkan pesan lingkungan dalam pertemuan atau khotbah-khotbah keagamaan.
"Antar-umat beragama itu pasti ketemu untuk hal-hal yang bersifat universal, seperti pelestarian lingkungan, pentingnya pendidikan dan kesehatan, pemberdayaan masyarakat dan sejenisnya. Justru dengan kerukunan ini Banyuwangi bisa guyub dalam membangun daerah," kata Bupati Anas.
Bupati Anas sendiri juga rutin menghadiri undangan yang bersifat umum dan bukan peribadatan. "Kadang saya datang, berbincang-bincang, menerima kritik dan masukan tentang pengembangan Banyuwangi, lalu saya meninggalkan tempat jika peribadatan akan dimulai jika yang mengundang adalah umat non-Muslim. Toleransi membuat semuanya jadi indah," papar bupati Anas yang mengaku banyak belajar dari KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) tentang pentingnya merawat kebhinekaan Indonesia. (Humas & Protokol)