Harapan Anak Yatim Banyuwangi Pada Jokowi-JK
Kamis, 23 Oktober 2014
BANYUWANGI – Sekitar 1.000 anak yatim berpartisipasi dalam Festival Anak Yatim (FAY) di Banyuwangi, Jawa Timur, Kamis (23/10/2014). Setelah serangkaian acara, mulai dari pemberian beasiswa, membaca buku dan bermain bersama, lomba, serta khitanan massal, ratusan anak ikut berdoa bagi kemajuan bangsa. Mereka menyampaikan harapannya kepada pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) dan Jusuf Kalla.
Harapan itu tercetus di festival yang digelar kali ketiga di Pendopo, Jalan Sritanjung, Banyuwangi. Para anak yatim berharap ke depan Indonesia bisa semakin maju. ”Presidennya sekarang ganti Pak Jokowi. Kami doakan negara kita tambah maju,” ujar Nuril Istiqomah, salah seorang peserta.
"Sekolahnya yang terjangkau ya pak, mulai biaya bimbingan belajar sampai tiap bulannya," imbuh Daffa, peserta FAY lainnya sambil makan bakso, salah satu dari puluhan jenis makanan gratis yang disediakan Pemkab Banyuwangi di FAY ini.
Harapan tentang pendidikan di Indonesia juga disampaikan Laila Amanda. Pelajar SMK (15 thn) ini menginginkan kartu 'Indonesia Belajar' yang dijanjikan Jokowi segera terealisir. “Kartu pendidikannya semoga bisa segera. Biar saya juga bisa sekolah sampai sarjana,” harapnya.
Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, doa dan harapan tulus dari anak yatim tersebut merupakan cerminan dari harapan besar masyarakat Indonesia. ”Doa anak yatim tidak pernah ditolak Tuhan. Semoga Indonesia makin maju. Kami di Banyuwangi siap bersama-sama membangun Indonesia dari daerah. Saya kira Pak Jokowi dan Pak JK ke depan akan sangat mampu menjalin komunikasi yang baik dengan pemerintah daerah. Komunikasi yang sifatnya informal, tapi produktif,” kata Anas.
Acara Festival Anak Yatim (FAY) sendiri merupakan salah satu rangkaian Banyuwangi Festival. Melalui FAY, semua anak yatim dari yayasan dan sejumlah panti asuhan dari seluruh Banyuwangi diajak belajar dan bermain bersama. Mobil perpustakaan keliling ditempatkan di pendopo. Anak-anak belia itu juga diajak belajar menggunakan internet secara bijak dan sehat.
Selain itu, ada penyerahan hadiah lomba antar-panti asuhan yang telah diadakan dan dinilai sebelumnya. Momen penting lainnya adalah beasiswa bagi anak yatim berprestasi. Pemkab Banyuwangi mempunyai program beasiswa ”Banyuwangi Cerdas” yang telah dijalankan sejak 2011. Beasiswa ini ditujukan untuk mahasiswa berprestasi dari kalangan keluarga kurang mampu, termasuk para anak yatim.
Sejak dimulai 2011 sampai saat ini, total sudah 455 mahasiswa yang mendapat beasiswa. Pada 2011, dana beasiswa yang dikucurkan sebesar Rp 788 juta. Tahun ini sebesar Rp 2,85 miliar atau terjadi peningkatan 261 persen. ”Itu belum termasuk dana bantuan ke mahasiswa yang ingin penelitian. Pernah ada mahasiswa kesulitan biaya penelitian untuk skripsi, oleh Pemkab diberi dana bantuan. Besarnya bergantung cakupan penelitian. Diprioritaskan untuk yang mengambil obyek penelitian di Banyuwangi,” imbuh Anas
Selain itu, untuk tingkat SD/sederajat sampai SMA/sederajat, selain dana bantuan pendidikan, masyarakat Banyuwangi menggalang gerakan ”Siswa Asuh Sebaya”(SAS) di mana siswa dari keluarga mampu ikut mendonasikan dana untuk siswa kurang mampu guna uang saku di sekolah atau kebutuhan personal lainnya, mengingat biaya sekolah sudah gratis.
”Ada yang menyumbang Rp1.000, Rp2.000, Rp 5.000, sukarela untuk membangun kepedulian dan modal sosial di antara generasi muda di Banyuwangi,” ujarnya. Pada 2011, total dana SAS yang terkumpul sejumlah Rp293 juta, kemudian naik menjadi Rp1,05 miliar pada 2012 dan pada 2013 tercatat sekitar Rp1,6 miliar. Jumlah siswa penerima manfaat gerakan SAS mencapai lebih dari 6.000 orang siswa dari 309 sekolah di seluruh wilayah Banyuwangi. (Humas Protokol)