HUT PGRI, Bupati Anas Ajak Guru Atasi Problem dan Masalah Sosial Anak

Minggu, 13 November 2016


HUT PGRI, Bupati Anas Ajak Guru Atasi Problem dan Masalah Sosial Anak

 

BANYUWANGI ;Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas, meminta guru harus bisa berkontribusi bekerja sama membangun daerah. “Tugas guru tak hanya hanya mengajar di dalam kelas tetapi juga bisa menyebar ke masyarakat. Mereka bisa masuk ke desa-desa untuk ikut memberikan pelajaran bagi masyarakat,” kata Bupati Anas saat menghadiri HUT ke 71 PGRI, di Taman Blambangan, Minggu (13/11).  Guru juga diajak ikut mengatasi problem-problem sosial yang terjadi di masyarakat. Karena, kata Bupati Anas, saat ini yang menjadi problem sosial banyak masalah kekerasan anak, pemerkosaan yang diakibatkan dari jarak antara rumah dan sekolah. Maka untuk mengatasi ini, mari kita prioritaskan pengasuhan anak. Pengasuhan ini sangat penting. Sehingga guru tak harus hanya bertemu dengan anak di dalam sekolah tetapi juga di luar sekolah. “Mereka bisa memberikan konseling dan sahabat bagi anak, sehingga mereka bisa terbuka dan masalahnya bisa teratasi. Dengan kekompakan mari kita atasai masalah -masalah anak,” kata Bupati Anas. Selain mengajak, Bupati Anas juga menyampaikan akan menambah kesejahteraan guru. Di tahun 2017 tunjangan fungsional K2 ini akan ditambah di PAK 2017. “Dari APBD Banyuwangi yang jumlahnya Rp 2,94 triliun, Rp 1,3 trilun untuk bidang pendidikan. K2 sendiri sudah disisihkan Rp 6,3  miliar. Insyallah insentif ini akan kami tambah, akan kami sampaikan di PAK nanti,ujar Bupati Anas. HUT PGRI Guru ke – 71 ini, dihadiri puluhan ribu guru dari seluruh wilayah Banyuwangi. Kehadiran para pendidik itu guna memperingati HUT ke 71 PGRI sekaligus Hari Guru Nasional(HGN). Kegiatan apel akbar itu dihadiri langsung oleh Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Pusat Dr Unifah Rosyidi MPd. Dalam kesempatan tersebut, Dr Unifah menyampaikan sejak kelahirannya 25 November 1945, PGRI selalu menjadi mitra kerja strategis pemerintah dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Karena itu, kita harus maju bersama, tunduk dan patuh terhadap aturan-aturan serta mengkomunikasi hal- hal yang perlu. Selain itu, lanjutnya PGRI harus menjadi profesi yang bisa menunjukkan kedewasaanya, sehingga tidak perlu teriak-teriak turun ke jalan. Salurkan aspirasi dengan sopan dan bermartabat. Kita terkadang hiruk pikuk menyalahkan pemerintah daerah atas lambannya kebijakan, padahal daerah tergantung kucuran pemerintah pusat. "Saat ini yang terpenting guru.harus cerdas, maju bersama dukung pemerintah. Apalagi guru memiliki tanggung jawab yang besar terhadap anak didik.Mulai sekarang guru harus rajin membaca, bekerja yang baik.Saya yang akan berjuang di pusat, ujarnya. Guru juga harus menyampaikan guru harus siap melakukan perubahan. Guru adalah pintu perjuangan, pembedah masa depan. Tidak ada organisasi yang solid, selain PGRI. Jangan ada lagi organisasi lain, k2 1924 dibantu fungsional oleh pemerintah. Ini harus tingkatkan kompetensinya. PGRI lahir dengan semangat untuk memperjuangkan mutu pendidikan dan nasib guru. Kini perjuangan itu mulai membuahkan hasil dengan semakin baiknya kesejahteraan guru. Hal ini wajib diiringi dengan peningkatan profesionalitas agar kualitas pendidikan bagi murid semakin meningkat,”pungaksnya. (Humas)



Berita Terkait

Bagikan Artikel :