Ibu-Ibu Dasa Wisma Belajar Kelola Sampah dengan Cara Unik
Senin, 14 Maret 2016
BANYUWANGI – Puluhan ibu dasa wisma, PKK dan masyarakat umum tampak asyik menyimak bagaimana teknik pengelolaan sampah yang benar, Senin (14/3). Uniknya, tak sekedar duduk diam, mereka sesekali berdiri, joget, jingkrak-jingkrak dan menggaungkan yel-yel mereka yang mengajak untuk peduli lingkungan.
Ya, kaum ibu tersebut memang tengah mengikuti sosialisasi pengelolaan sampah berbasis 3R (Reuse, Reduce, Recycle) yang diadakan oleh Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kabupaten Banyuwangi di lapangan Tenis Indoor GOR Tawangalun Banyuwangi.
Diajarkan langsung cara mengolah sampah oleh ahlinya, Agus Hartono dan Ami Suparmi dari Lembaga Studi dan Tata Mandiri (Lestari) Yogyakarta, mereka terlihat bersemangat. Terlebih teknik pembelajarannya menggunakan cara yang tidak biasa. Peserta tak hanya menjadi penonton, tapi mereka praktek langsung membuat barang dari bahan daur ulang, sambil diajak having fun sebagai selingan. Interaksi antara peserta dengan nara sumber maupun antar peserta pun sangat kental terasa.
Direktur Lestari, Agus Hartono mengatakan, pihaknya memang punya cara yang berbeda dalam mengajak orang lain mengolah sampah. Itu semata-mata dilakukannya agar teknik itu mengena dan mereka punya pemahaman yang dalam agar barang yang mereka ciptakan tak hanya sekedarnya, tapi benar-benar punya nilai manfaat bagi orang lain.
“Ide menciptakan barang-barang dari bahan daur ulang ini berangkat dari keinginan untuk mewujudkan zero waste. Bagaimana kita menghasilkan seminimal mungkin produksi sampah di perkotaan, terutama mengurangi produksi sampah keluarga yang banyak bersumber dari bahan-bahan plastik kemasan,” ujar Agus sambil menunjukkan beberapa produk daur ulang berupa sandaran kursi, dompet, tas, penutup galon, taplak lemari es, taplak meja, rompi dan masih banyak lagi.
Kesempatan itu tidak disia-siakan para ibu. Saat diajari membuat barang kerajinan, dengan semangat mereka mempraktekkan apa yang sudah diajarkan. Untuk membuat beragam handycraft dari bahan bekas itu agar terlihat menarik, mereka memasukkan potongan-potongan plastik warna-warni ke dalam plastik transparan yang akan mereka jahit sebagai tas atau dompet. Potongan-potongan plastik tersebut menjadi daya tarik tersendiri, sebab jika dilihat, kilauan yang dihasilkan membuat barang tersebut berkesan mewah dan mahal. Sama sekali tak nampak jika itu berasal dari sampah.
Salah seorang peserta yang nampak excited adalah Ny Komang. Wanita yang mewakili Dasa Wisma Anggur 3 dari Perumahan Griya Giri Mulya ini serius menyimak dan mempraktekkan ilmu persampahan yang didapatnya. “Saya kalau diajari dengan teknik menyenangkan seperti ini cepet paham dan nggak bakalan ngantuk. Pokoknya pulang dari sini mau langsung saya praktekkan di rumah. Biar nggak lupa harus sering-sering dipraktekkan,”ujarnya bersemangat.
Sosialisasi sekaligus training ini dibuka oleh Kepala DKP, Arief Setiawan. Kegiatan ini direncanakan berlangsung selama dua hari, mulai Senin (14/3) hingga Selasa besok (15/3).
Untuk diketahui, LSM Lestari selama ini bergerak di bidang penumbuhan kesadaran masyarakat guna mengelola sampah di lingkup perkotaan.
Sampah kering dari bahan plastik setelah dipilah terbukti bisa dimanfaatkan untuk beragam produk fashion dan asesoris seperti tas, travel bag, dompet hingga manik-manik unik. Sampah yang tadinya tidak berguna bisa dirubah menjadi barang yang bernilai dan menjadi sumber ekonomi tambahan.
Harga asesoris berupa tas, gantungan kunci hingga tas laptop yang didesain apik dengan bahan tambahan bisa berharga mulai kisaran Rp 20.000 hingga Rp 50.000. Sedangkan harga manik-manik dan dompet berkisar antara Rp 10.000 hingga Rp 15.000.
“Kita dorong masyarakat, terutama kaum ibu untuk memilah dan memisahkan sampah yang organik dan anorganik. Dan mereka harus paham bagaimana menyulapnya menjadi barang bernilai ekonomis tinggi yang bisa menyokong perekonomian keluarganya,” tandas Arief Setiawan. (Humas)