Ikuti Banyuwangi Expo, Omset Penjualan Meningkat

Rabu, 11 Desember 2013


Banyuwangi expo ini ternyata tidak hanya sekedar mempromosikan produk, tetapi sudah meningkatkan perekonomian masyarakat. Seperti yang dialami Reystianingsih, seorang penjual susu kedelai yang omsetnya melonjak tajam hingga 300 persen selama tiga hari mengikuti Banyuwangi Expo di Gesibu.

 

Sektor usaha mikro dan kecil selama ini adalah sabuk pengaman (safety belt) yang mampu menjadi pilar pengentasan kemiskinan dan pengurangan pengangguran. Perkembangan UMKM di kabupaten berjuluk The Sunrise of Java ini cukup signifikan. Bila tahun 2011 sebanyak 133.866 unit, di tahun 2013 menjadi 296.706 UMKM. Pemkab Banyuwangi pun menjadikan sektor tersebut sebagai salah satu pendorong gerak perekonomian.

 

Caranya dengan memberi ruang lebih Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) memamerkan dan mempromosikan produk usahanya.  Seperti saat ini yang menggelar Banyuwangi Expo 2013 dan Festival Kuliner, 9 -16 Desember di Gesibu.

“Selama ini dengan menjual susu kedelai berkeliling omzet saya Rp 500 – 600 ribu/hari. Ikut pameran ini bisa sampai  Rp 1,8 juta/harinya’” ungkap Risti, sapaannya. Dengan omzet yang berlipat ganda itu, dia pun berharap pemkab bisa lebih getol menggelar acara serupa.

Banyuwangi Expo 2013 ini menyediakan fasilitas promosi untuk puluhan item produk kerajinan khas Banyuwangi dari 20 UMKM dan Industri Kecil Menengah (IKM). Seperti, batik khas Banyuwangi, handmade craft, souvenir, kaligrafi dan furniture. Juga ada olahan pangan seperti kue bolu, stik ikan, dodol dari buah, sirup buah-buahan, keripik belut/lele,kopi luwak, kopi lanang racik, abon ikan tuna. Termasuk mebel kayu, anyaman bambu dan makanan khas Banyuwangi yang juga merupakan primadona UMKM juga ikut andil dalam Banyuwangi expo ini.

Dikatakan Ketua Panitia Banyuwangi Expo 2013, Arief Setiawan keberadaan pameran ini sebagai ajang menunjukkan pada masyarakat begitu beragamnya kekhasan Banyuwangi. Begitu pun dengan  UMKM dan ragam kulinernya. “Dengan ditampilkannya produk-produk UMKM dalam pameran semacam ini makin membuka mata kita begitu banyak potensi Banyuwangi yang masih bisa terus di-explore,” kata Arief.

Selain juga ditampilkan produk lain seperti kopi hasil perkebunan rakyat, Kopi Gandrung, kaos khas Using, dan pameran pelayanan publik dari sejumlah instasi pemerintah. “Expo ini sebuah konsep integrated program pemerintah yang terpadu, karena dalam pameran ini ada pelayanan publik, perbankan, sekolah serta industri kecil dan UMKM dalam mempromosikan produknya,” kata Arief.  

Selain memamerkan produk di atas, tahun ini Banyuwangi Expo menghadirkan festival kuliner. Sejumlah makanan tradisional Banyuwangi ditampilkan, di antaranya sego gepuk remuk, jangan lompong Osing, soto dan bakso Osing. “Dengan pameran ini targetnya ke depan memberdayakan masyarakat sebagai pelaku-pelaku ekonomi, pelaku –pelaku bisnis. Sisi lain kita akan terus memperbaiki cita rasa dan performance  makanan  yang bisa memikat hati wisatawan, sehingga itu akan menarik minat mereka untuk bisa berkunjung kembali ke Banyuwangi,” ujar Arief.

Banyuwangi expo ini juga menyuguhkan kontes adenium dan kontes pisang serta bursa tanaman hias, bonsai dan lomba menata taman. (Humas & Protokol)

                                                                  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 



Berita Terkait

Bagikan Artikel :