Inflasi Banyuwangi Bulan Juni Melandai 0,26 Persen
Rabu, 8 Juli 2015
Tim Inflasi Susun Langkah Tekan Laju Inflasi
BANYUWANGI - Inflasi Banyuwangi di bulan Juni melandai di angka 0,26 persen setelah di bulan Mei sempat meninggi yakni 0,55 persen. Sedangkan inflasi year on year (YOY) untuk bulan yang sama kabupaten di ujung timur Jawa ini masih bertahan menjadi yang terendah di Jatim yakni sebesar 4,85 persen.
Kepala Bagian Perekonomian Setda Kab Banyuwangi, Nur Agus Suharto mengatakan penurunan inflasi di Banyuwangi ini disebabkan oleh turunnya permintaan masyarakat terhadap komoditas barang dan jasa dibandingkan bulan sebelumnya. Berdasarkan survei konsumen yang dilakukan oleh BI menunjukkan Indeks Keyakinan konsumen tetap berada di level optimis yaitu 110,2.
“Hal tersebut mengindikasikan adanya konsumsi masyarakat masih pada level tinggi walaupun tidak setinggi bulan Mei 2015,” kata Agus saat rapat koordinasi tim pengendali inflasi daerah (TPID), di aula Minak Jinggo, Selasa (8/7). Rakor TPID tersebut melibatkan antara lain Bank Indonesia wilayah Jember, BULOG, kepolisian, Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Pertambangan (Disperindagtam), Dinas Peternakan, Dinas Pertanian Kehutanan dan Perkebunan (Dispertahutbun), BAPPEDA, dan Kantor Ketahanan Pangan.
Dijelaskan Agus sejumlah komoditas penyumbang inflasi bulan Juni antara lain beras 0,20 persen, daging ayam ras 0,10 persen, cabai merah 0,06 persen dan daging ayam kampung 0,05 persen. “Inflasi Juni sudah turun dari bulan sebelumnya. Namun yang perlu kita waspadai adalah bulan Juli ini menjelang Lebaran. Konsumsi masyarakat cenderung meningkat yang berpotensi menaikkan harga pasar. Antara lain telur ayam ras, daging sapi, daging ayam ras, bahan bakar rumah tangga, BBM dan bawang merah,” urai Agus.
Untuk itu, rakor yang digelar kemarin membahas sejumlah langkah antisipatif beberapa hal yang berpotensi menyumbangkan inflasi hingga akhir 2015. Di antaranya momen Lebaran, menghadapi musim kemarau dan el nino enam bulan ke depan, dampak letusan Gunung Raung dan Realisasi Penyerapan Anggaran.
Sementara itu, Kepala Bidang Perdagangan M. Sujoko menerangkan guna menekan terjadinya lonjakan harga, Disperindagtam telah melakukan operasi pasar (OP) di 10 titik. OP yang dilakukan bersama Bulog ini berlangsung sejak 16 Juni sampai 15 Juli mendatang. Dalam OP ini beberapa jenis sembako seperti beras dijual lebih murah dari harga pasaran yakni Rp. 8500/kg dengan persak isi 5 kg.
“Selisih harganya berkisar Rp. 1500 dari beras umumnya yang biasa dijual Rp 10.000/kg. Sedangkan minyak goreng Rp 10.000/liter, gula pasir Rp. 10.500 / liter dan tepung terigu Rp. 7.500/liter,” kata Agus.
Selain operasi pasar, Disperindagtam juga akan menggelar pasar murah ramadhan mulai 9 – 16 Juli di halam kantor Disperindagtam. Pasar murah ramadhan akan diikuti oleh beberapa produsen bahan makanan pokok dan perusahaan retail seperti PT. Kunci Mas, PT. Indo Food, Indomart, Alfamart dan masih banyak lagi. “Di sini semua barang kebutuhan lebaran juga akan dijual lebih murah dari harga biasanya karena barangnya disuplai langsung dari distributor,” kata Sujoko.
Dikatakan Agus, terkait persiapan memasuki musim kemarau, untuk stok tanaman pangan padi kondisinya masih aman. Paparan dari Dinas Pertanian, Kehutanan dan Perkebunan (Dispertanhutbun) menyampaikan kalau stok gabah di Banyuwangi mencukupi untuk 3 bulan kedepan. “Selain itu, dalam beberapa bulan ke depan sejumlah wilayah selatan Banyuwangi juga akan panen, Ini tentunya akan menambah persediaan beras daerah,” urai Agus.
Selain itu, lanjut Agus, Dispertanhutbun juga mengimbau kepada petani untuk melakukan percepatan penanaman lahan dengan menggunakan pompa air. Saat ini Dispertan telah mendistribusikan bantuan 37 pompa air kepada para petani di beberapa wilayah. Jumlah pompa air ini akan ditambah lagi sebanyak 10 buah menunggu dropping dari propinsi.
“Untuk di Banyuwangi kecenderungan musim kemarau hanya terjadi el nino lemah, Biasanya hanya terjadi di Wongsorejo, Muncar, Songgon, Purwoharjo dan Tegaldlimo. Untuk itu, waktu tanam juga dipercepat. Petani juga akan disediakan hand tractor, agar pengolahan tanah bisa lebih cepat,” kata Agus.
Terkait dampak Gunung Raung, dibeberkan Agus bahwa tidak akan terlalu berpengaruh signifikan pada produksi pertanian. Sebab sampai dengan jarak 3 KM dari puncak Raung yang menjadi kawasan berbahaya belum ada kebun tanaman pangan namun baru berupa tanaman keras.
“Tanaman padi dan jagung baru ada pada radius 12 KM dari puncak gunung. Memang sudah ada beberapa tanaman yang tertutup abu tipis seperti selada air, lombok besar, cabe, tomat, seledri, dan bawang prei tapi belum berdampak pada produksi. Kami juga mensosialisasikan agar petani melakukan percepatan panen tidak harus menunggu panen serempak,” terang Agus. (Humas Protokol)