Ingin Entaskan Kemiskinan, Pemkab Parigi Moutong dan Sekadau Belajar ke Banyuwangi
Sabtu, 7 Oktober 2017
BANYUWANGI – Ingin mengentaskan angka kemiskinan di wilayahnya, dua kabupaten sekaligus berkunjung ke Banyuwangi, Kamis (4/10).
Dua kabupaten tersebut adalah Kabupaten Parigi Moutong, Provinsi Sulawesi Tengah dan Kabupaten Sekadau, Provinsi Kalimantan Barat. Bupati dan Wakil Bupati Banyuwangi berkesempatan sekaligus bertemu dua kabupaten ini.
Kedua kabupaten tersebut mengaku, kedatangannya ke Banyuwangi karena terinspirasi keberhasilan kota bertagline the Majestic Banyuwangi itu dalam menurunkan angka kemiskinannya.
Wakil Bupati Parigi Moutong, Badrun Nggai yang datang bersama 16 kepala dinasnya mengatakan, Banyuwangi layak dijadikan jujugan karena capaian penurunannya yang sangat signifikan. Dari 20,4 persen ( 2010) hingga sekarang tersisa 8,79 persen ( 2016).
" Di Parigi Moutong terdapat 278 desa, 5 kelurahan. Total penduduk miskin di tempat kami 82.380 jiwa," kata Badrun.
Menurut Badrun, ada 2 pemicu yang menyebabkan pihaknya kesulitan mengentaskan kemiskinan. Pertama, masih banyak penduduk yg tinggal di pedalaman atau pegunungan. Kedua, banyaknya penduduk yang tinggal di sepanjang garis pantai atau berprofesi sebagai nelayan.
Hal senada juga diungkapkan Staf Ahli Bidang Ekonomi Pembangunan Kabupaten Sekadau, Bambang Dermawan. Kabupaten yang baru berumur 14 tahun ini, menurut Bambang, dari 208.791 jiwa yang ada, 11 ribu jiwa di antaranya tergolong miskin. "Karena itu kami perlu banyak belajar dari Banyuwangi," kata Bambang yang hadir bersama 4 camat dan 61 kepala desa.
Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas menyambut baik kunjungan tersebut, dan mempersilahkan untuk menimba ilmu sebanyak-banyaknya. "Semoga mendapatkan ilmu di Banyuwangi," ujar Anas sambil menceritakan bagaimana progress pembangunan yang dimiliki Banyuwangi.
Terkait keberhasilan Banyuwangi dalam menurunkan angka kemiskinan, Anas mengatakan, hal tersebut diraih berkat strategi keroyokan bersama banyak pihak. Yakni Pemerintah, BUMN, dan swasta yang saling bergandeng tangan, saling mendukung menyelesaikan masalah-masalah kemiskinan.
“ Jika hanya mengandalkan dana dari APBD, masalah kemiskinan tidak akan pernah selesai. Contohnya saat TNI akan melakukan karya bakti, kita arahkan untuk membuat program bedah rumah. Ini akan memperluas sasaran pengentasan kemiskinan yang belum tercover APBD. Cara ini akan membuat jumlah kemiskinan di Banyuwangi lebih cepat berkurang,” kata Anas saat menerima rombongan tersebut di ruang Rempeg Jogopati.
Ditambahkan Wakil Bupati Banyuwangi. Yusuf Widyatmoko, awalnya, angka kemiskinan di Banyuwangi juga masih tinggi. Di tahun 2010, jumlahnya mencapai 20,4 persen. Bahkan di tahun 2014 banyak ditemukan orang miskin baru.
Sejak itu, mulailah pemkab membuat sistem yang terintegrasi antar SKPD, khususnya dengan Bappeda. Data kemiskinan yang ada di Badan Pusat Statistik pun terintegrasi dengan Bappeda, by name by address.
Berbagai tim juga dibuat Pemkab. Seperti Tim Pemburu Kemiskinan, Tim Pemburu Anak Putus Sekolah dan digelar pula pelatihan bagi perangkat desa untuk bisa menyelesaikan urusan pembuatan Surat Pernyataan Miskin (SPM) di tingkat desa. Inovasi-inovasi ini, melengkapi inovasi sebelumnya yang telah dibuat pemkab. Seperti Bantuan Operasional Siswa (BOS) dan program Siswa Asuh Sebaya (SAS), dimana secara periodik siswa yang mampu menyisihkan uang sakunya untuk membantu kebutuhan belajar siswa yang tidak mampu.
“Langkah-langkah ini, membuahkan hasil yang cukup baik. Pada tahun 2015, angka kemiskinan turun menjadi 9,2 persen, dan data terakhir (2016) turun lagi menjadi 8,79 persen,” terangnya.
Tak hanya itu, pemkab juga menggandeng beberapa perusahaan dan perbankan agar mau mengeluarkan program Corporate Social Responsibility (CSR)-nya untuk mengentaskan rakyat miskin. "Kami kumpulkan perusahaan dan perbankan. Pertemuan dengan perusahaan itu kami kemas dalam bentuk coffee morning atau gathering. Disitu kami ceritakan keinginan kami untuk membantu warga miskin dengan membedah rumah mereka. Mereka dipersilahkan mau menyumbang berapa. Dan ternyata mereka welcome dengan program yang kami buat,"pungkasnya. (*)