ITdBI Masuk Tujuh Kejuaraan Balap Sepeda Terbaik di Asia, Satu-satunya yang Diselenggarakan oleh Daerah

Jumat, 13 Mei 2016


Banyuwangi– Selama lima tahun penyelenggaraan, International Tour de Banyuwangi Ijen (ITdBI) mendapat predikat selama dua tahun terakhir berturut-turut dari federasi balap sepeda dunia alias Union Cycliste Internationale (UCI).

Hal itu menjadikan ITdBI masuk dalam tujuh kejuaraan balap sepeda terbaik di Asia, dan terbaik di Indonesia. Advisor UCI Jamaludin Mahmood mengatakan, predikat tersebut merupakan penilaian UCI terhadap ITdBI pada tahun 2014 dan 2015 lalu.

Excellent level sendiri merupakan poin tinggi di kejuaraan balap sepeda internasional. Peringkat ini nilainya di atas 90 poin.

Dikatakan Jamal, panggilan akrab Jamaludin, dari 31 kejuaraan balap sepeda di Asia yang dihelat selama tahun 2015, hanya ada 7 tour yang dinilai excellence oleh UCI. Yaitu, Le Tour de Langkawi di Malaysia, Tour of Japan, Tour de Korea, Tour de Iran, dan Japan Cup. Selain juga, lanjut Jamal, Tour de Kumano di Jepang dan Tour de Banyuwangi Ijen.

“Yang lebih membuat kita bangga lagi, ITdBI ini digelar oleh sebuah kabupaten, tidak seperti yang lain. Langkawi, Japan, dan Korea digelar oleh negara, sementara Tour de Kumano oleh provinsi,” ujar Jamal beberapa waktu di sela-sela memantau persiapan ITdBI 2016.

Selain sebagai satu-satunya balap sepeda yang diselenggarakan di Indonesia, ITdBI juga merupakan ajang balap sepeda termuda di antara even lain yang mendapat predikat excellence level.

Tour de Langkawi yang menyusuri sepanjang semenanjung Malaysia sudah diselenggarakan sejak 1996. Begitu pula Tour de Iran yang melewati dua negara, Iran dan Azerbaijan, telah diselenggarakan sejak 1986.

Japan Cup telah dirintis mulai tahun 1992. Sedangkan Tour of Japan dimulai tahun 1996. Hampir bersamaan dengan Tour de Kumano di Prefektur Mie, Jepang. Tour de Korea yang diselenggarakan di Korea Selatan relatif lebih muda, yaitu tahun 2001. Sedangkan untuk ITdBI baru dihelat pada tahun 2012.

Pada penyelenggaraan 2014 dan 2015, ITdBI telah meraih excellence level. "Ini yang terbaik di Indonesia. Ini semua berkat komitmen yang tinggi dari semua pihak untuk mendukung event ini," puji Jamal yang telah menjadi race director ITdBI selama empat tahun.

Untuk mendapatkan excellent level, Jamaludin mengungkapkan, ada beberapa penilaian yang diukur oleh UCI. Pertama, teknis pengelolaan lomba seperti hubungan antara organizer dan tim peserta serta organizer dan commissaire (wasit/penilai).

“Di sini UCI melihat bagaimana penyelenggara mampu membangun komunikasi dengan peserta dan tim penilai sehingga perlombaan bisa berjalan dengan rapi,” kata Jamaludin.

Parameter kedua, dilihat bagaimana keamanan selama berlangsungnya perlombaan. Yakni, terjaganya keamanan sepanjang jalur yang dilalui peserta dan koordinasi lintas aparat keamanan yang terlibat. “Nilai tertinggi diraih dari keamanan ini. Mereka beri kita nilai very good secure,” ujar Jamal.

Ketiga, yang juga menjadi kriteria penilaian adalah promosi ajang balap sepeda internasional melalui media massa. “Biasanya tim UCI langsung memantau lewat media-media di setiap akhir etape. Jadi langsung terpantau berapa banyak berita yang muncul, semakin banyak semakin baik penilaiannya,” ujar Jamal.

Keempat, juga dilihat bagaimana event ini bisa membawa dampak positif bagi masyarakat, misalnya berputarnya perekonomian masyarakat saat even berlangsung, infrastruktur jalan yang semakin membaik, dan menumbuhkan kebanggaan bagi warga.

“Jalan yang bagus kan tidak hanya dirasakan oleh peserta balap sepeda tapi juga dinikmati oleh masyarakat untuk jangka panjang. Begitu juga animo masyarakat terhadap perlombaan ini pun turut menyumbang poin. Di sini, masyarakat sangat antusias menyambut balapan ini, dan ini sangat menyenangkan bagi kami dan tentunya juga pembalap,” ujar Jamal.

Seperti yang dituturkan Jason Christie, pembalap Kenyan Riders Downunder yang sudah empat kali mengikuti ITdBI. Juara nasional balap sepeda Selandia Baru itu mengaku sangat gembira bisa kembali ke Banyuwangi.

“Menyelesaikan balapan yang berat seperti di Banyuwangi selalu spesial. Sangat menyenangkan melihat keramaian warga di sini. Banyuwangi selalu spesial bagi karir balap sepeda saya. Saya tidak akan pernah lupa,” kata Christie yang pada etape 2 ITDBI 2016 ini berhasil menjadi raja tanjakan (KOM).

International Tour de Banyuwangi Ijen (ITdBI) sendiri adalah ajang balap sepeda yang sudah masuk agenda rutin (calendar of event) UCI. Balap sepeda kategori 2.2 ini diselenggarakan tiap tahun sejak 2012.

Sementara itu, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan dengan bekal excellence level ini banyak pihak yang mendesak dia untuk meningkatkan kategori ITdBI menjadi 2.1.

“Akan kami pertimbangkan untuk naik kelas. Mungkin dengan menggandeng kabupaten tetangga untuk memperpanjang rute. Bisa kita bicarakan dengan kabupaten terdekat yang ada di Bali misalnya,” ujar Anas.

Anas pun menambahkan, balap sepeda ITdBI ini membawa dampak positif bagi Banyuwangi. Salah satunya adalah “memaksa” pemkab membangun infrastruktur jalan, tidak hanya di wilayah perkotaan namun merambah ke pedesan pula.

“Balap sepeda ini kan menuntut jalan yang dilalui harus mulus. Ini membuat kita membangun dan memelihara akses jalan beraspal hingga desa. Ini salah satu bentuk konsolidasi infrastruktur yang kami terapkan di sini,” kata Anas.

Even ini, diharapkan Anas akan menjadi pembelajaran bagi masyarakat Banyuwangi agar lebih disiplin, suportif, dan terkoneksi dengan dunia global. Dicontohkan dia, siswa SD diimbau untuk ikut menonton lomba saat pembalap melintasi sekolahnya, agar mereka tahu makna sportif, serta  menambah wawasan global mereka secara langsung.

"Banyak pelajar yang memanfaatkan acara ini untuk praktek langsung berbahasa asing. Ada yang berusaha mengajak ngomong bahasa Inggris, bahkan ada juga yang mempraktekkan penguasaan bahasa Koreanya," imbuh Anas. (Humas)

 



Berita Terkait

Bagikan Artikel :