Ithuk-ithukan Banyuwangi, Sebuah Tradisi Rawat Sumber Mata Air

Rabu, 17 Agustus 2016


ithuk-ithukan kepethuk. Thuk lalu menjadi ithuk. Banyaknya ithuk yang disajikan ini menandakan jangan sampai ada masyarakat yang lapar. Semua harus kebagian, bahkan yang sedang sakit sekali pun akan kami antarkan ithuk ini ke rumahnya,” ujar Sarino.

Tradisi ini, imbuh Sarino, merupakan bentuk syukur warga atas sumber air di desanya yang melimpah dan tidak pernah kering. “Kami bisa mengairi sawah dan melakukan aktifitas lainnya di sumber tersebut. Berkat sumber air itu pula, hidup kami disini jadi terasa nikmat, warga menjadi dekat satu sama lain dan mudah memaafkan,” kata Sarino.  Itu sebabnya, imbuh Sarino, dusun ini dinamakan Dusun Rejopuro. Rejo artinya ramai, Puro artinya memaafkan.

Bupati Banyuwangi Abdullah turut hadir dalam acara tersebut. Bagi Azwar Anas, tradisi ini merupakan salah satu kearifan lokal yang mengajarkan kita untuk senantiasa menjaga keseimbangan alam. Kenduri yang digelar di sumber air, lanjut dia, menandakan begitu pentingnya setiap manusia untuk menjaga sumber air sebagai salah satu sumber kehidupan manusia.

"Kami akan terus menjada tradisi semacam ini di tengah moderenitas yang terus tumbuh. Tradisi yang diwariskan leluhur ini, menunjukkan bagaimana kita manusia harus menghormati dan menjaga alam ini dengan bijaksana," ujar Anas. (humas)

 



Berita Terkait

Bagikan Artikel :