Jadi Buruan Wisawatan, Banyuwangi Hasilkan 1700 Buah Durian Merah Tiap Tahun
Jumat, 8 April 2016
BANYUWANGI – Buah Durian Merah menjadi ikon tanaman hortikultura asal Banyuwangi yang paling diburu oleh wisatawan saat ini. Buah durian yang memiliki karakteristik berdaging warna merah ini ternyata memiliki varian yang beragam, jumlahnya mencapai 65 varietas. Setiap tahun, produksi durian merah khas Banyuwangi mencapai 1.700 buah.
Peneliti sekaligus pengembang durian merah dari Forum Pemerhati Hortikultura Banyuwangi, Eko Mulyantoro (44) mengatakan, banyaknya varietas durian merah yang dimiliki kabupaten the sunrise of Java ini berawal dari upaya mengangkat durian merah menjadi tanaman hortikultura unggulan daerah dengan memperbaiki kualitasnya.
“Buah ini eksotis dan sangat khas, sangat berpotensi untuk menjadi buah ikon daerah. Saat ini jadi buruan, petani di Banyuwangi kewalahan,” kata Eko yang juga PNS Pemkab Banyuwangi itu.
Dia mengatakan, semula jumlah pohon durian merah besar dan produktif di Banyuwangi hanya ada 5 buah pohon yang tersebar di beberapa wilayah. “Pohon-pohon itu sudah berusia tua. Seperti milik Pak Serat di Kecamatan Glagah. Pohon ini sudah tumbuh sejak beberapa generasi, hasil buahnya kecil dengan biji yang besar,” kata Eko.
Selanjutnya dimulailah pengembangan durian merah untuk mendapatkan kualitas yang lebih baik. Caranya melalui proses polinasi (penyerbukan) di lingkungan yang sesuai dengan syarat tumbuh durian merah. “Kami sudah melakukan riset, wilayah yang cocok untuk pengembangan durian merah di Banyuwangi hanya ada di lima Kecamatan yakni Kalipuro, Glagah, Songgon, Licin dan Kecamatan Giri,” ujar Eko.
Kenapa di lima kecamatan tersebut? Eko menjelaskan di wilayah ini tanahnya memiliki unsur hara yang istimewa karena mendapatkan asupan sulfur dari Gunung Ijen ataupun Gunung Raung ditambah hawa laut dari selat Bali yang kaya akan mineral. “Unsur hara dan mineral ini sangat berpengaruh pada karakteristik durian merah yang dihasilkan termasuk warna merah pada dagingnya,” cetusnya.
Eko melanjutkan, pada sekali proses polinasi akan dihasilkan 10-25 jenis buah durian merah yang berbeda-beda. Namun saat biji hasil buah itu disemai tidak semuanya akan tumbuh menjadi tunas. Tunas-tunas yang berhasil tumbuh inilah yang menjadi cikal bakal tumbuhan baru hingga mencapai 65 varietas.
“Setelah tumbuh menjadi tunas kemudian tunas dipotong dan ditempel ke pohon yang sudah besar dengan metode top walking. Dengan metode ini tidak perlu menunggu sampai bertahun-tahun agar pohon durian merah berbuah, hanya 2,5 tahun sudah bisa produksi,” terangnya.
Dari 65 varietas yang ditemukan melalui proses tersebut, menghasilkan karakteristik pohon dan buah berbeda-beda seperti warna daging buah yang bermacam-macam ada yang merah block dan merah grafis. Untuk rasa juga beragam ada yang manis, asin gurih bahkan pahit.
Karenanya dari jumlah tersebut hanya 25 varietas yang bisa dikonsumsi. Dua diantaranya yakni, varietas balqis dan Sunrise of Java (SOJ), secara resmi telah diberi tanda daftar milik Banyuwangi oleh Kementerian Pertanian.
Durian merah asal Banyuwangi juga menjadi incaran peneliti manca negara untuk riset pengembangan buah khas tropis. Beberapa peneliti dari Malaysia, Brunai, Thailand dan Australia datang ketempatnya untuk belajar pengembangan durian Merah. Mulai dari cara tanam hingga pembesaran.
"Peneliti yang datang tidak sembarangan, mereka memang dikirim oleh negaranya belajar tentang durian merah untuk dikembangkan di negaranya. Misalnya saja dari Agriculture and Riset Development, Kementrian Sains dan Teknologi Malaysia dan atase pertanian Kedutaan Thailand,” kata Eko.
Sebagai peneliti dan pengembang Eko memiliki target untuk bisa menghasilkan durian merah unggulan yang bisa diekspor. Saat ini ada 11 varietas yang tengah dikembangkan untuk memenuhi target itu. Keunggulan yang dikembangkan antara lain buah tidak berbau, warna buah merah batik (grafis), biji tipis dan berdaging tebal, kulit durian selalu hijau serta non alkoholik yang tidak membuat perut kembung apabila dikonsumsi. “Target kami durian merah Banyuwangi bisa menembus pasar Eropa,” cetusnya.
Sampai sekarang pengembangan durian merah terus dilakukan. Sebanyak 15 ribu bibit durian merah telah disebarkan oleh Pemkab Banyuwangi kepada warga dalam beberapa tahun terakhir. Saat ini, Populasinya pohon durian merah yang sudah ditanam mencapai 15 ribu pohon. Dari jumlah itu 1500 pohon sudah tumbuh besar dan 200 diantaranya sudah berbuah secara produktif. Setiap tahun rata-rata dihasilkan 1700 buah durian merah yang bisa dipanen.
“Kami terus mengembakan durian merah dengan merangkul para petani melalui pemberian bibit maupun spesimen secara gratis. Kami berharap semakin banyak petani yang mamu menanam durian merah karena nilai ekonomis buah ini sangat tinggi. Per kilogramnya Rp 150-275 ribu, maka bisa menjadi sumber pendapatan yang menguntungkan bagi siapapun yang ingin mengembangkan,” pungkas Eko. (Humas)