Jelang Diberlakukannya MEA, Kaum Muda Diminta Waspadai Masuknya Budaya dan Paham Baru
Rabu, 10 Juni 2015
BANYUWANGI - Era globalisasi saat ini menuntut mahasiswa siap menghadapi persaingan yang datang dari luar. Bahkan diberlakukannya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) akhir tahun ini juga menjadi tantangan tersendiri bagi kaum muda Indonesia.
Hal itu diungkapkan oleh Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik, Djafri Yusuf di depan mahasiswa dan pelajar yang menjadi peserta sarasehan bertemakan Ideologi Pancasila sebagai Karakter Bangsa, Rabu (10/6). Dalam acara yang diadakan di aula SMKN 1 Glagah itu Djafri membeberkan mengapa MEA menjadi salah satu hal yang patut diwaspadai.
Saat MEA mulai diberlakukan, kata Djafri, saat itu juga orang-orang yang tak hanya terampil di bidangnya masuk ke Indonesia, tak terkecuali Banyuwangi. Tapi mereka juga membawa budaya-budaya dan paham-paham baru.
“Karena itu tantangan anak muda di masa sekarang ini sangat berat. Selain dihadapkan pada mundurnya nilai-nilai kultural, rendahnya budaya taat hukum, nilai-nilai Pancasila yang cenderung terabaikan, juga kearifan lokal yang mulai dirongrong paham negatif, terorisme dan ekstrimisme, hingga maraknya peredaran miras dan narkoba. Karena itu ideologi Pancasila harus menjadi tameng agar terhindar dari berbagai hal negatif tersebut,” ujar Djafri.
Senada dengan Djafri, saat membuka kegiatan tersebut, Wakil Bupati Yusuf Widyatmoko menekankan pentingnya para pemuda punya ideologi Pancasila yang kuat, di samping juga peka terhadap situasi di sekitarnya. “Ini penting untuk menentukan langkah kita ke depan dan kemana kita harus berpihak. Apabila generasi muda kita tidak dibentengi oleh ideologi Pancasila dan agama yang kuat, maka budaya dan paham baru yang masuk bisa mempengaruhi moralitas kaum muda kita,”tandas Wabup Yusuf.
Kegiatan yang berlangsung sehari penuh ini menghadirkan Sugihartoyo sebagai nara sumber. Pria yang juga mantan rektor Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Banyuwangi tersebut mengupas tuntas bagaimana pemuda harus bersikap dalam menghadapi tantangan yang ada. Khususnya tantangan yang mengancam kehidupan berbangsa dan bernegaranya.
Sejumlah mahasiswa dari berbagai universitas di Banyuwangi tampak hadir, diantaranya mahasiswa Universitas Airlangga (Unair) Banyuwangi, Politeknik Negeri Banyuwangi (Poliwangi), Akademi Kelautan Banyuwangi (AKABA), Sekolah Tinggi Agama Islam Darussalam (STAIDA) - Blokagung, Sekolah Tinggi Agama Islam Darul Ulum (STAIDU), Universitas PGRI Banyuwangi (Uniba), Universitas Bhakti Indonesia (UBI), STIKOM PGRI Banyuwangi, STIKES Banyuwangi, Akademi Keperawatan Blambangan, dan Akademi Keperawatan Rustida. (Humas & Protokol)