Jeruk Siam Andalan Hortikultura Banyuwangi
Rabu, 24 Juli 2013
BANYUWANGI – Selain terkenal sebagai lumbung padi di Jawa Timur, Banyuwangi saat ini juga menjadi sentra produksi jeruk di Jawa Timur. Sampai dengan bulan Mei 2013 ini luas panen jeruk di Banyuwangi meliputi 3.695,34 hektar. Dengan produksi jeruk mencapai 65.145, 16 ton. Dengan rata-rata produktivitas jeruk di Banyuwangi, 172,93 kwintal per hektar. Pencapain produktivitas jeruk di Banyuwangi cukup menjanjikan bagi para petani jeruk.
Mengapa memilih jeruk? Karena menurut Boniran, salah seorang petani jeruk di Desa Tegalsari, Kecamatan Tegalsari,Kabupaten Banyuwangi hasil panen jeruk sangat menjanjikan, dibanding hasil panen padi. Bahkan hasilnya bisa berlipat-lipat. “ Sebagai contoh saya memiliki lahan tiga hektar, hasil panen saya kali ini sangat bagus sekali. Dalam satu hektar hasil panen saya mencapai 30 ton. Kalau saya jual, untung saya sekitar Rp 250 juta. Dikurangi biaya produksi sekitar 25 juta per hektar, masih untung kan?,” cerita Boniran.
Namun, untuk menuai hasil yang maksimal itu, lanjut Boniran, petani jeruk harus bekerja keras dan bersabar, minimal selama dua hingga tiga tahun ke depan. Karena untuk bertani jeruk tidak langsung bisa sekali tanam langsung panen, tetapi harus mulai dari awal dulu. Yakni, penanaman bibit, penyemprotan dan perawatan yang lainnya membutuhkan keuletan dan ketelatenan. “Kalau salah merawat dan dimakan hama bisa tidak jadi panen secara maksimal,” kata Boniran.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian, Kehutanan dan Perkebunan, Ir Ikrori Hudanto menjelaskan, untuk di Banyuwangi jeruk yang dijadikan unggulan adalah jenis jeruk siam. Jeruk siam ini memiliki rasa manis dengan sedikit kombinasi asam, sehingga memberikan sensasi rasa segar yang tidak dimiliki jeruk lain misalnya rasa jeruk impor yang hanya didominasi oleh rasa manis. Jeruk lokal Banyuwangi memiliki kandungan air yang relatif lebih banyak daripada jeruk lain, misalnya jeruk ponkam atau jeruk impor. “Harga jeruk lokal Banyuwangi jauh lebih terjangkau dibandingkan dengan jeruk impor, yang berkisar Rp 10 – 14 ribu per kilogram. Sementara harga jeruk impor mencapai Rp 20-25 ribu per kilogram,” ungkap Ikrori.
Untuk pasar, kata Ikrori, permintaan pasar dalam negeri terhadap buah jeruk siam dari tahun ke tahun semakin meningkat. Mulai dari Malang, Surabaya, Kediri, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Bali, hingga Kalimantan. Namun demikian, sebagaimana produk hortikultura umumnya, jeruk mempunyai karakteristik yang mudah rusak sehingga hal tersebut sangat berdampak terhadap harga dan pendapatan petani horti, apalagi produktivitasnya.
Seperti diketahui, luas panen jeruk di tahun 2011 ada 10.726,70 hektar, sementara di tahun 2012 menjadi 8.171,20 hektar. Meskipun luas panen menyusut tetapi produktivitas hasil panen tetap bagus. Itu bisa dilihat pada produktivitas hasil jeruk tahun 2012 yang rata-rata mencapai 202,12 kwintal per hektar. Sementara produktivitas jeruk di tahun 2011 hanya mencapai 172,07 kwintal per hektar. “Untuk 2013 juga masih stabil rata-rata produktivitas jeruk mencapai 20 hingga 30 ton per hektar. Dan ini masih bulan Mei, mudah-mudahan di akhir tahun nanti produktivitas jeruk bisa lebih tinggi,” kata Ikrori.
Untuk wilayah yang menjadi sentra jeruk di Banyuwangi, imbuh Ikrori, ada beberapa daerah, yakni, Kecamatan Bangorejo, Purwoharjo, Tegaldlimo, Pesanggaran, Siliragung, Cluring, Gambiran dan Kecamatan Tegalsari.
Ikrori juga menambahkan, untuk menjaga kualitas jeruk dan memberi stimulan kepada petani, pemerintah telah melakukan upaya-upaya yang cukup. Diantaranya, memberikan usaha perbaikan mutu, misalnya pedoman budidaya tanaman jeruk yang diaplikasikan dalam Penyusunan SOP (Standard Operating Procedures). “SOP merupakan petunjuk teknis standar penerapan teknologi budidaya yang bersifat spesifik komoditas dan spesifik lokasi serta teknologi untuk untuk menghasilkan produk sesuai dengan target produksi dan mutu yang diharapkan,” terang Ikrori.
Selain itu, pemerintah juga telah memberi bekal menyelenggarakan Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT) sesuai standar pemerintah Good Agricultural Practices (GAP) bagi petani. “GAP adalah panduan budidaya buah dan sayur yang baik untuk menghasilkan produk bermutu yang mencakup penerapan teknologi yang ramah lingkungan, pencegahan penularan OPT, penjagaan kesehatan dan meningkatkan kesejahteraan pekerja serta prinsip penelusuran balik (traceability),” kata Ikrori.
Selain itu masih ada pendampingan teknologi budidaya tanaman jeruk di sentra kawasan jeruk yang melibatkan peran aktif berbagai komponen pendukung seperti Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Timur di Karangploso, Malang dan Unit Pelayanan Terpadu Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSP) Kabupaten Banyuwangi
Selain itu, lanjut Ikrori, pemerintah juga memberikan bantuan alat dan mesin pertanian cultivator, accu sprayer, power sprayer, gunting pangkas dan lainnya yang menunjang pengembangan sentra kawasan jeruk. “Juga tak lupa bantuan bibit, pupuk, obat-obatan untuk meningkatkan produktivitas dan mutu jeruk,” ujarnya. (Humas & Protokol)