Kabupaten Banyuwangi Jadi Kabupaten Inklusi

Rabu, 27 Agustus 2014


BANYUWANGI – Membawa spirit sebagai kota welas asih, Kabupaten Banyuwangi mendeklarasikan diri sebagai kabupaten Inklusi. Kabupaten yang memberi kesempatan pendidikan kepada semua anak, baik anak normal maupun anak berkebutuhan khusus (ABK) untuk bisa belajar di sekolah yang sama, mempelajari mata pelajaran yang sama dan mengikuti semua kegiatan di sekolah tanpa ada diskriminasi.    

Komitmen peduli pada ABK tersebut dideklarasikan oleh Wakil Bupati Yusuf Widyatmoko bersama Direktur Pendidikan Khusus Layanan Khusus, Dr Mujito, dari Direktorat Jenderal Pembinaan Pendidikan Dasar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di Taman Blambangan Rabu (27/8).

“Pendidikan merupakan hak azasi setiap warga negara, bahkan mereka yang berada dalam keterbatasan sekalipun. Deklarasi ini sebagai komitmen kita untuk membantu orang-orang yang mengalami hambatan, agar mereka mudah mengakses segala sesuatu sebagaimana orang-orang lainnya,”ujar Bupati Anas yang memberikan sambutan melalui telepon karena sedang mengikuti dialogue on the train bersama dengan Wamenhub di kereta api perjalanan Jakarta-Semarang. 

Saat ini di Banyuwangi sekolah penyelenggara pendidikan inklusif berjumlah 115 sekolah. Terdiri dari 28 sekolah PAUD, 44 SD/MI, 26 SMP/MTs, 17 SMA/MA. Sekolah-sekolah tersebut dilengkapi dengan guru pembimbing khusus dan sarana prasarana yang aksesibel bagi ABK.

Kehadiran sekolah-sekolah inklusif tersebut akan memberi kemudahan bagi para ABK. Salah satunya, mereka bisa bersekolah yang terdekat dengan rumah. “Jadi anak-anak tidak perlu jauh-jauh datang ke sekolah khusus,” ujar Bupati Anas.

Bupati Anas berharap dengan adanya ABK yang menuntut ilmu di sekolah reguler, Banyuwangi akan mampu mewujudkan pendidikan yang ramah anak, tidak diskriminatif dan penuh toleransi. “Dengan begitu, antara ABK dan masyarakat bisa belajar saling menyesuaikan diri dan menerima satu sama lain,”harapnya.

Sebelumnya Pemkab Banyuwangi juga  telah menyiapkan bantuan beasiswa bagi para penyandang disabilitas yang berprestasi untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi hingga selesai. Selain beasiswa, pemkab juga memfasilitasi pelatihan keterampilan bagi para penyandang disabilitas. Di antaranya yang sudah berjalan adalah pelatihan memijat bagi penyandang tuna netra dan pelatihan usaha ekonomi produktif.

Sementara itu Direktur Pendidikan Khusus Layanan Khusus Kementrian Pendidikan, Dr Mujito, memberikan apresiasi atas pendeklarasian Kabupaten Banyuwangi sebagai Kabupaten Inklusi. “Semoga spirit pendidikan inklusi terus tumbuh di Banyuwangi. Sehingga para ABK tersebut tak akan menerima lagi  kekerasan, tak ada bully, dan penuh dengan empati,” tutur pria yang memuji Banyuwangi sebagai kabupaten yang penuh semangat dibanding pendeklarasian serupa yang dihadirinya di kota-kota lain. (Humas Protokol)

 



Berita Terkait

Bagikan Artikel :