Kabupaten Pakpak Bharat, Provinsi Sumut Studi Tiru ke Banyuwangi
Selasa, 13 Juni 2017
Belajar Pengembangan e-Gov, Pariwisata dan Pertanian
BANYUWANGI – Kabupaten Pakpak Bharat, Provinsi Sumatera Utara melakukan studi tiru ke Banyuwangi. Tidak tanggung-tanggung, Bupati Pakpak Bharat sendiri yang memimpin kunjungan tersebut. Rombongan diterima Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas di Kantor Pemkab Banyuwangi, Selasa (13/6).
Ketertarikan untuk belajar dari Banyuwangi itu diungkapkan Bupati Pakpak Bharat, Remigo Yolando Berutu.
“Menurut saya Banyuwangi banyak mengalami perubahan di tangan Bupati Anas. Torehan prestasinya luar biasa di sistem pemerintahan, keuangan, pemerintahan desa dan kemampuan mengelola festival. Bagaimana Banyuwangi leading di berbagai sektor inilah yang ingin kami tiru dan terapkan di tempat kami,” ujar Remigo yang datang bersama istrinya, Made Tirta Dewi. Juga beberapa kepala dinas, serta ketua dan anggota DPRD Pakpak Bharat.
Khusus tentang festival yang rutin digelar Banyuwangi setiap tahunnya, Remigo juga sangat mengakui ketertarikannya. “Kok bisa ya Banyuwangi konsisten mengelola festival ini. Tahun ini kabarnya ada 72 festival. Padahal kita tahu dalam 1 tahun ada 52 minggu. Artinya dalam 1 minggu bisa beberapa kali festival. Apalagi yang difestivalkan semuanya adalah potensi daerah, seperti kopi dan jeruk. Kami saja yang punya kopi dan jeruk tidak pernah terpikir untuk memfestivalkannya,” tandasnya.
Menanggapi hal tersebut Bupati Anas mengatakan, menjadi jujugan bagi daerah lain untuk tempat belajar adalah suatu kebanggaan dan kehormatan tersendiri bagi Banyuwangi.
“Ini semacam take and give. Kita bisa saling menimba ilmu dan mengambil manfaat dari kedua belah pihak. Silahkan saja untuk mengambil hal-hal positif dari Banyuwangi,” kata Anas.
Anas menceritakan, perjuangan untuk menjadikan Banyuwangi di posisi seperti saat ini tidaklah mudah dan instan. Kuncinya teamwork. Kalau saya hanya menerapkan one man show tanpa ada kerjasama, jelas ini tidak akan berjalan,” terang Anas.
Anas kemudian membeberkan bagaimana dulu di tahun pertama minat investasi di Banyuwangi berada di peringkat 31 di Jawa Timur. Sekarang Banyuwangi sudah berada di posisi ke-3 di Jatim.
Banyak hal yang dilakukan Anas untuk menciptakan birokrasi yang sehat dan lebih berkualitas. Mulai dari penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) dengan Indeks Prestasi (IP) minimal harus 3,5. “PNS harus berubah. Reformasi birokrasi bukan lagi kewajiban, tapi menjadi kebutuhan. Pelayanan harus dirubah,” ceritera Anas.
Anas mencontohkan, dulu mengurus akta kelahiran bayi butuh waktu berhari-hari, kini begitu bayi lahir, pulang langsung bawa akta kelahiran. Itu digagas Pemkab Banyuwangi lewat program ‘Lahir Procot Pulang Bawa Akta’. Masyarakat miskin pun sekarang dipermudah membuat Surat Pernyataan Miskin (SPM) secara online.
“Kini desa-desa menjadi salah satu fokus kami. Kami merubahnya menjadi smart kampung, dimana pelayanan untuk masyarakat bisa diselesaikan di desa, tidak perlu harus datang ke kabupaten. Permasalahan di desa ini memang harus diurai agar tidak terjadi migrasi migrasi di kota. Desa-desa perlu dibangun,” beber Anas.
Anas juga menekankan bagaimana konektivitas menjadi sebuah bagian yang penting dari pembangunan. Termasuk direct flight Jakarta-Banyuwangi yang akan segera dinikmati masyarakat Banyuwangi bulan ini. “Untuk mewujudkan itu semua butuh kerja keras berbagai pihak. Bagi saya super team lebih penting daripada superman,” pungkas Anas.
Kedatangan Kabupaten Pakpak Bharat ke Banyuwangi ini juga akan dimanfaatkan untuk melakukan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara Pemkab Pakpak Bharat dengan Pemkab Banyuwangi. MoU tersebut terkait pengembangan dan penerapan aplikasi elektronik pendukung administrasi pemerintahan dan pelayanan publik. Penandatanganan MoU digelar Selasa (13/6) sore di Pendapa Kabupaten Banyuwangi. (*)