Kabupaten Serang Belajar Turunkan Kemiskinan di Banyuwangi

Rabu, 1 Juni 2016


BANYUWANGI -   Penurunan jumlah penduduk miskin di Kabupaten Banyuwangi yang signifikan mendapatkan perhatian khusus dari Pemerintah Kabupaten Serang, Provinsi Jawa Barat. Senin (31/5), Kabupaten Serang berkunjung ke Banyuwangi untuk studi banding berbagai capaian Pemkab Banyuwangi. Rombongan diterima Sekretaris Kabupaten Banyuwangi, Slamet Kariyono, didampingi Asisten Pembangunan dan Kesra serta Kepala BAPPEDA di Kantor Pemkab Banyuwangi.

Sekretaris Daerah Kabupaten Serang, Lalu Atharussalam memimpin langsung rombongan  yang terdiri atas 11 birokrat lintas satuan perangkat kerja daerah (SKPD) ini. Menurut Sekda Lalu Atharussalam, kedatangan dirinya bersama rombongan ke Banyuwangi memang sengaja untuk melakukan studi banding cara pengentasan kemiskinan yang dilakukan oleh Kota The Sunrise of Java ini. Lalu tertarik untuk mengadopsi langkah Banyuwangi dalam mengurangi jumlah penduduk miskin. “Kami mengetahui ini dari berbagai informasi baik dari surat kabar maupun media sosial yang gencar memberitakan Banyuwangi. Mulai dari penanganan tourism, Unit Gawat Darurat (UGD) Kemiskinan, Smart Kampung, penanganan kekerasan pada anak lewat dibentuknya Banyuwangi Children Center, hingga e-Village Budgeting,” kata Lalu.

Ditambahkan Lalu, Kabupaten Serang memiliki luas wilayah 1.435 km2 dengan jumlah pendududuk 1.491 ribu jiwa, Kabupaten Serang yang dipimpin oleh Bupati Ratu Tatu Chasanah ini berbatasan dengan Kabupaten Tangerang,  Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Lebak dan Kota Serang. Kabupaten ini punya 326 desa, 29 kecamatan dan 29 SKPD teknis.  "Kedatangan kami ke Banyuwangi ini salah satu ikhtiar untuk menurunkan angka kemiskinan,” kata Lalu.

Dalam kesempatan tersebut beberapa perwakilan rombongan dari Kabupaten Serang berkesempatan untuk melakukan tanya jawab dengan jajaran Pemkab Banyuwangi seputar penanganan kemiskinan. Diantara pertanyaan yang muncul adalah apa saja tips dalam menanggulangi kemiskinan, apakah ada validasi data jumlah penduduk miskin dan teknik apa yang dilakukan, berapa proporsi anggaran untuk menangani kemiskinan, dan berapa kontribusi dana diluar APBD yg terlibat dlm proses penanganan kemiskinan. Juga Program Dinas Kesehatan apa yg menunjang prog Unit Gawat Darurat (UGD) Kemiskinan.

Menjawab berbagai pertanyaan tersebut Kepala BAPPEDA Banyuwangi, Agus Siswanto mengatakan, keberhasilan Banyuwangi dalam menurunkan angka kemiskinan berkat strategi  keroyokan banyak sektor yang ditempuh Banyuwangi.  Dijelaskan Agus, keroyokan yang dimaksud adalah pemerintah, BUMN, dan swasta bergandengan tangan saling dukung menyelesaikan masalah-masalah kemiskinan. “Sebab jika hanya mengandalkan dana dari APBD, masalah kemiskinan tidak akan pernah selesai. Misalkan saat TNI akan melakukan karya bakti, kita arahkan untuk membuat program bedah rumah. Ini akan memperluas sasaran pengentasan kemiskinan yang belum tercover APBD. Praktis jumlah kemiskinan di Banyuwangi lebih cepat  berkurang,” kata Agus.

Progress angka kemiskinan di Kabupaten Banyuwangi dari tahun ke tahun menunjukkan penurunan. Tingkat kemisinan pada 2010 sebesar 20,4 persen, pada 2015 sudah berhasil turun sebesar 9,2 persen. Selain strategi keroyokan, tambah Agus, strategi lain yang diterapkan adalah memberikan perlindungan sosial bagi penduduk miskin. Program yang digagas antara lain lewat program jaminan kesehatan masyarakat miskin baik yang masuk dalam daftar BPJS maupun tidak. “ Di bidang pelayanan dasar, akses juga terus ditingkatkan. Setiap anak, dijamin pendidikan dasarnya. Selain ada Bantuan Operasional Siswa (BOS), Pemkab menginisiasi program Siswa Asuh Sebaya, dimana secara periodik siswa yang mampu menyisihkan uang sakunya untuk membantu kebutuhan belajar siswa yang tidak mampu,” kata Agus.   

Di sektor perekonomian, pemkab juga terus mendorong pemanfaatan Kredit Usaha Rakyat di sektor mikro yang pertumbuhannya  terus meningkat signifikan dari tahun ke tahun. “Pemkab juga menggerakkan sektor pariwisata. Sektor ini melibatkan masyarakat secara langsung dan paling cepat pengaruhnya bagi perekonomian daerah. Langkah yang ditempuh mulai dari penataan wisata, membuka destinasi wisata baru, membuat berbagai even skala nasional dan internasional yang mampu mengundang banyak wisatawan seperti Banyuwangi Festival. Sektor ini mendorong tumbuhnya jasa transportasi, kuliner, perhotelan, dan aneka kerajinan rakyat, " pungkas Agus. (Humas)



Berita Terkait

Bagikan Artikel :