Kabupaten Tegal ke Banyuwangi, Belajar Cara Banyuwangi Buat Inovasi Perencanaan Perubahan untuk Dorong Kemajuan Daerah

Senin, 30 Oktober 2017


BANYUWANGI – Kabupaten Tegal, Jawa Tengah berkunjung ke Kabupaten Banyuwangi, Senin (30/10). Kunjungannya kali ini bertujuan untuk belajar tentang inovasi perencanaan perubahan dalam mendorong kemajuan daerah. Rombongan yang dipimpin Sekretaris Daerah Tegal tersebut diterima Sekretaris Daerah Banyuwangi Djadjat Sudradjat di Lounge Pelayanan Publik Pemerintah Kabupaten Banyuwangi.

Sekda Tegal, Widodo Joko Mulyono mengatakan pihaknya ingin membuat perubahan besar yang diawali dari birokrasi. “Kami ingin berubah dan ingin ‘gila‘ seperti Banyuwangi. Tentunya untuk bisa jadi ‘gila’ seperti ini, butuh perjuangan yang luar biasa. Inilah yang ingin kami pelajari dari Banyuwangi,” ujar Widodo yang juga seorang dokter ini.

Sebagai dokter, Widodo menganalogikan permasalahan-permasalahan yang dimiliki Banyuwangi sebagai sebuah penyakit yang perlu disembuhkan dengan pengobatan yang tepat.

“Banyuwangi sudah bisa mendiagnosa titik awal untuk bergerak. Yang ingin kami ketahui apa saja penyakit birokrasi yang dihadapi Banyuwangi. Bagaimana terapinya supaya birokrasi yang tradisional bisa menjadi entrepreneur. Bagaimana membuat brand sehingga Banyuwangi bisa go international. Dan bagaimana terapi untuk memberdayakan masyarakat. Sebab kami lihat semua komunitas di Banyuwangi turut bergerak, mengeluarkan segala potensinya," kata Widodo.

Sekda Banyuwangi Djadjat mengatakan apa yang dimiliki Banyuwangi juga tidak serta merta didapatkan. “Dahulu kami sangat kesulitan untuk melepaskan diri dari ego sektoral. Banyak pelanggaran atas tata ruang, kotanya kumuh, bahkan puncaknya adalah gelar disclaimer atas laporan keuangan kami,” beber Djadjat.

Hingga kemudian Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengambil beberapa kebijakan khusus yang didukung oleh para stafnya. Misalnya, lanjut Djadjat, dibuka penerimaan CPNS baru dengan IPK lulusannya minimal 3,0 untuk lulusan Perguruan Tinggi Negeri dan 3,5 untuk Perguruan Tinggi Swasta. Selain itu dibangun kesepakatan bersama menggunakan  teknologi informasi (TI) sebagai kendaraan untuk melepaskan diri dari disclaimer. Juga ditempuh cara agar kesejahteraan pegawai lebih diperhatikan dan jerih payah mereka dihargai. Hal itu ditempuh dengan memperhatikan absensi masing-masing pegawai, input kinerja dan tunjangan mobilitas.Sehingga bagi yang bekerja dengan keras, akan mendapatkan hasil yang sesuai dengan apa yang telah dilakukannya.

Terkait pemberdayaan masyarakat, Djadjat mengatakan, APBD Banyuwangi adalah APBD yang pro rakyat, bukan APBD dari eksekutif kepada legislatif. Sehingga apa pun diputuskan lewat mekanisme musyawarah rencana pembangunan daerah.

Program-program yang dibuat pun menyasar masyarakat langsung. Seperti pasien miskin yang tidak perlu antre obat setelah periksa, tetapi bisa langsung menunggu obatnya diantar ke rumah. Ini kerjasama pemkab dengan gojek. Selain itu budaya lokal juga terus ditumbuhkan, dan pemerintah  membantu mempromosikannya dan menatanya dengan baik sehingga layak menjadi tontonan yang berkelas.

Rombongan Kabupaten Tegal telah berada di Banyuwangi selama 4 hari. Selain berkunjung ke Kantor Bupati Banyuwangi, sebelumnya rombongan yang terdiri dari 10 orang ini telah mengeksplor berbagai destinasi seperti mengunjungi Desa Tamansari, Kecamatan Licin yang terkenal dengan smart kampungnya termasuk layanan kantor desanya yang buka hingga malam hari.

Mereka juga berkunjung ke rumah makan ala rakyat Kemangi di Desa Kemiren yang mampu mengemas aneka kuliner khas Banyuwangi dengan baik. Di antaranya kue cucur, ketan kirip, kopi Kemiren dan nasi tempong. Mereka pun juga tak melewatkan kesempatan untuk berkunjung ke Bangsring Underwater, Pulau Tabuhan, menikmati ngopi di Desa Gombengsari dan mendaki ke Gunung Ijen. (*)



Berita Terkait

Bagikan Artikel :