Kak Seto Ajak Orang Tua Lawan Kekerasan Pada Anak

Sabtu, 21 Maret 2015


BANYUWANGI – Kak Seto mengkampanyekan pada para orang tua untuk melawan aksi kekerasan pada anak (against child sexual abuse). Kampanye tersebut  digaungkan Jumat (20/3) di pendopo Sabha Swagata Blambangan kepada para orang tua  yang anaknya terpilih untuk mengikuti perkemahan East Java Scout Challenge 2015.  Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf  (Gus Ipul) dan Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas turut hadir dalam kegiatan ini.

Di depan para orang tua, pria kelahiran 1951 itu mengungkapkan betapa anak-anak saat ini sangat rentan terhadap kekerasan.  Bahkan kekerasan seksual pada anak justru terjadi pada tempat yang  dianggap paling aman, contohnya di sekolah.“ Data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) 2014 menyebutkan  di Indonesia telah terjadi 782 kasus kekerasan seksual pada anak,” terang Kak Seto.

Jumlah itu terungkap, kata Kak Seto, karena mereka berani melapor. “Ini merupakan fenomena gunung es. Artinya, kalau yang melaporkan kasusnya sudah sebanyak itu (782 orang, Red), berarti di luar sana lebih banyak lagi kasus yang terjadi,” beber Kak Seto. Sebagian besar korban yang tidak berani melapor, karena mereka menganggap itu aib, dan malu jika diketahui orang banyak.

Penguatan  nilai-nilai dalam keluarga menjadi poin utama yang ditekankan pria yang dikenal sebagai Psikolog dan pemerhati anak ini. “Kita harus terus berusaha dekat dengan anak, sesibuk apa pun kita. Misalnya dengan membiasakan komunikasi dengan anak, paling tidak seminggu sekali melalui rapat keluarga yang kita adakan,” tandas Kak Seto. Rapat keluarga, kata Kak Seto bisa menjadi media untuk bertukar pikiran, sarana bagi orang tua untuk mengetahui apa yang diinginkan atau dirasakan anak.

“Sepulang sekolah, jangan hanya tanyakan apa pelajaran yang anak dapat di sekolah, tapi tanyakan apakah perasaan yang dirasakan anak di sekolah pada hari itu,” tukasnya sambil memberikan tips agar anak terhindar dari kekerasan seksual.

Yakni orang tua harus mengenalkan pada anak  bedanya orang asing, teman, atau kerabat. Anak harus diajarkan untuk percaya pada perasaannya, seperti apa yang ia rasakan saat bergaul dengan seseorang, baik rasa senang, sedih,marah, tidak suka atau bingung. Mengajarkan untuk berani berkata ‘TIDAK’ dan  bersikap tegas. Kak Seto juga meminta agar anak dibiasakan untuk berbagi rahasia dengan orang tua. Termasuk  belajar menjaga pandangan dan menjaga kemaluannya dengan cara tidak berpakaian minim, membiasakan menutup kamar, dan tidur  terpisah dari orang tua atau saudara yang berlainan jenis .

 “Orang tua wajib mengenali perubahan apa yang terjadi pada anak dengan melihat gejala-gejalanya, seperti perilaku emosional pada anak, perubahan sikap, dan perubahan kondisi fisik yang dialami anak,” tegasnya.

Dalam kesempatan itu, Kak Seto juga mengingatkan, tak hanya kekerasan seksual saja yang tengah mengincar anak-anak. Melainkan ada lagi dua hal lainnya, yakni penyalahgunaan narkoba dan bahaya pornografi. “Orang tua harus jadi garda terdepan dalam melindungi anak-anaknya. Karena itu jangan ada lagi orang tua yang menjewer, membentak dan kasar pada anak. Kebanyakan anak kabur dari rumah karena mereka tidak mendapatkan perlakuan yang nyaman di dalam rumah,” ujar Kak Seto mengingatkan.

 

Saat ditanya apa yang harus dilakukan untuk mengoptimalkan perlindungan pada anak, Kak Seto mengatakan perlunya memberdayakan potensi RT/RW. “Setiap RT/RW supaya dibentuk satgas perlindungan anak. Jika ada rumah tangga yang memperlakukan anaknya dengan tidak layak, maka tugas RT/RW-nyalah yang mengingatkan agar hal tersebut dihentikan. “Saya berharap Banyuwangi bisa jadi kabupaten pertama yang mulai membentuk satgas perlindungan anak di level RT/RW,” pungkas Kak Seto.

Kampanye stop kekerasan pada anak ini merupakan rangkaian dari event East Java Scout Challenge 2015 yang diselenggarakan Gerakan Pramuka Kwartir Daerah Jawa Timur di Banyuwangi. Sementara anak-anak anggota pramuka  lebur dalam perkemahan inovatif East Java Scout Challenge, maka orang tuanya khusus digembleng untuk mendidik dengan cinta.

Event  East Java Scout Challenge 2015 ini diikuti oleh 200 ribu siswa SD/MI dari seluruh Jatim yang penyelenggaraannya di kabupaten/kota masing-masing. Kak Seto bersama Gus Ipul terus mengkampanyekan anti kekerasan pada anak di  11 kota di Jatim, diantaranya Malang, Magetan dan Banyuwangi. (Humas & Protokol)



Berita Terkait

Bagikan Artikel :