Kala Rhenald Kasali Berbagi Ilmu ke PNS Banyuwangi
Minggu, 21 Desember 2014
Banyuwangi- Berdiri di pinggir jalan, pria paruh baya itu asik menggesek alat musik cello yang disandarkan di pundaknya. Ia tengah bermain opera tunggal, tapi dawai yang dihasilkan kurang harmonis dan kering. Sejurus kemudian, satu per satu orang yang mulanya hanya melihat, berinisiatif ambil bagian.
Dengan membawa alat musik lain seperti biola, drum, dan bass akustik, mereka berkolaborasi memainkan satu instrument agar lebih enak didengar. Seketika terbentuklah formasi orkestra modern yang menghasilkan alunan nada rancak, kuat, dan serasi. Ada pesan tersirat dari sepenggal tayangan video tersebut.
Lewat tayangan video, Rhenald Kasali, akademisi Universitas Indonesia sekaligus praktisi bisnis terkemuka, itu ingin membuktikan bahwa perubahan diawali dan didorong oleh satu orang yang mempunyai inisiatif dan kebernian. "Perubahan itu tidak dari ramai-ramai, tapi dari satu orang dulu yang terkesan tidak merdu. Kalau ingin perubahan harus dari kita dulu yang mengawali," kata Rhenald Kasali di hadapan puluhan PNS Pemkab Banyuwangi yang meriung di Pendopo Sabha Swagata, Sabtu (20/12).
Ia mengilustrasikan gerak perubahan tiap individu manusia itu ibarat penumpang dan supir. Manusia berwatak penumpang, kata Rhenald, sulit membuat terobosan dan terperangkap dalam zona nyaman atau comfort zone. Padahal zona nyaman justru membikin manusia tidak aman karena dunia terus berubah menyesuaikan perkembangan zaman. "Karena alam kita subur jadi terperangkap di zona nyaman dan terlalu birokratis. Kita jadi dikendalikan oleh zona nyaman, tidak punya keinginan untuk berubah," ujarnya.
Adapun manusia berwatak supir selalu ingin masuk zona tantangan dan bahaya. Melalui proses belajar tanpa henti dan berani mengambil resiko, kata dia, manusia akan menemukan banyak hal tak terduga, membuka kesempatan berkembang, dan membentuk sikap percaya diri. "Di zona bahaya ini, Anda akan menemukan keajaiban. Biasanya hanya orang yang suka melawan arus yang berhasil," kata dia.
Kepada para PNS Pemkab Banyuwangi, Rhenald mendorong untuk memiliki growth mindsite sekaligus menanggalkan fix mindsite. Artinya cara pandang yang selalu ingin berkembang, belajar, dan menyesuaikan ritme perubahan. Dengan cara ini, ia berkeyakinan dapat meningkatkan layanan publik melalui beragam terobosan.
Itu sebabnya Rhenald sempat melontarkan pujian atas kinerja Bupati Abdullah Azwar Anas yang dinilai cukup berhasil membuat nama Kabupaten Banyuwangi kian mencorong. "Birokrat itu harus punya jiwa kewirausahaan. Termasuk Bupati Anas ini mau mencoba hal baru dan suka tantangan," ia menuturkan.
Bekas anggota tim seleksi KPK itu menambahkan, individu manusia juga membutuhkan kecerdasan sosial, keadilan, kejujuran, dan berpikir jangka panjang untuk memudahkan usaha. Ia menganalogikan bahwa pijakan hidup tidak cukup hanya berdasarkan hitung-hitungan matematis yang bersifat jangka pendek.
Sementara itu, Bupati Bayuwangi, Abdullah Azwar Anas, mengaku sengaja mengundang Rhenald Kasali lantaran ingin menimba ilmu sekaligus berbagi pengalaman. Dengan hadirnya Rhenald Kasali, Bupati Anas berharap para PNS di Pemkab Banyuwangi semakin terpacu memperbaiki kualitas diri. "Kami juga ada refleksi akhir tahun untuk instropeksi diri," kata Bupati Anas.
Tampil dengan joke-joke segar dan menyiasati dengan tampilan video, agaknya materi ilmu yang disampaikan Rhenald Kasali mudah ditangkap oleh peserta. Ia berhasil mengemas materi agar lebih segar. Itu sebabnya ceramahnya seolah tidak membosankan.