Kampung Anyar, Salah Satu Smart Kampung di Kaki Gunung Ijen
Rabu, 1 Juni 2016
Banyuwangi – Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara baru saja melaunching Smart Kampung ala Banyuwangi, kemarin, Selasa (31/5). Sebanyak 70 desa/kelurahan di Banyuwangi pun telah bertransformasi menjadi Desa Cerdas yang menjadikan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) sebagai instrumen untuk meningkatkan pelayanan publik, sekaligus pusat aktivitas warga. Salah satunya adalah Desa Kampung Anyar, yang terletak di kaki Gunung Ijen, Kecamatan Glagah.
Kepala Desa Kampung Anyar, Suwedi mengatakan Desa kampung Anyar sangat antusias mewujudkan program pemerintah daerah Smart Kampung. Karena program ini memberi kepercayaan kepada pihak desa untuk menjadi ujung tombak pelayanan publik lewat TIK. Tidak hanya itu saja, program “Desa Cerdas” juga memberikan perspektif baru bagi desa untuk maju lewat segenap potensi yang dimiliknya.
“Kami sangat bangga menjadi bagian dari kemajuan daerah yang dimulai dari desa. Menjadi Smart Kampung, mempengaruhi mind set kami, jika sebelumnya sekedar melakukan administrasi tingkat desa, sekarang kami lebih semangat dalam melayani masyarakat dan menggali potensi yang ada agar warga desa semakin maju,” kata Suwedi.
Untuk menyambut Smart kampung berbagai perubahan pun telah dilakukan oleh Desa Kampung anyar. Mulai dari perubahan fisik kantor desa, inovasi program hingga peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) desa.
"Pertama, kami membenahi bangunan fisik kantor desa. Dari yang sebelumnya tertutup menjadi kantor desa yang terbuka. Perubahan fisik ini penting karena ini akan menjadi pusat aktivitas masyarakat. Kami juga memasang perangkat TIK," papar Kepala Desa yang yang di wilayahnya ada air terjun Jagir dan perkebunan Kalibendo ini.
Selain perubahan fisik, pelayanan masyarakat juga dilakukan secara efektif dengan menggunakan layanan internet. Proses perizinan dan pengurusan akte kelahiran, misalnya, sudah bisa langsung di proses lewat kantor desa tanpa harus turun ke kantor kecamatan ataupun kantor dinas terkait. "Surat Pernyataaan Miskin yang biasanya memakan waktu 6 hari, bisa kitavpangkas dalam sehari saja. Kita menerapkan layanan one stop service," tegasnya. "Semuanya diurus lewat satu pintu, dengan ruang pelayanan yang nyaman dan seorang resepsionis khusus," imbuh Suwedi.
Desa Kampung Anyar juga melakukan inovasi dalam pelayanan publik dan upaya pemberantasan kemiskinan, anak putus sekolah maupun kasus kekerasan pada anak. "Melalui Perdes (peraturan desa) kita membentuk Tim Sigap Mandiri Rukun Tetangga (TSM-RT) yang terdiri para Linmas untuk memantau anak-anak putus sekolah maupun tindak kekerasan pada anak," paparnya.
"Pak RT dan RW juga kita libatkan dalam realisasi UGD Kemiskinan. Mereka dilibatkan untuk memantau dan melaporkan setiap ada warga miskin yang sedang sakit atau membutuhkan keperluan layanan yang lain," tutur Suwedi.
Selain itu, kantor desa saat ini difungsikan sebagai pusat aktivitas warga. Dengan akses internet yang kencang, warga bisa mengakses informasi maupun belajar di kantor desa. "Tapi, menjelang Magrib sampai sehabis Isya, wifi kami matikan. Agar anak-anak tetap bisa mengaji dan beribadah di masjid atau di rumahnya masing-masing," ungkap Suwedi.
Di kantor desa juga disiapkan perpustakaan yang representatif untuk menjadi tempat mengakses bacaan bagi anak-anak. Begitu pula Pos Kesehatan Desa (Poskesdes) juga telah memiliki bidan yang stand by untuk memberikan pelayanan. Pada malam-malam tertentu juga digelar acara kebudayaan dan kesenian di Kantor desa. "Di sini ada tiga grup kuntulan, setiap minggu kita gilir. Kadang juga kesenian barong atau yang lain," cerita Suwedi.
Perubahan yang dilakukan oleh Desa Kampung Anyar benar-benar dirasakan oleh warga setempat. "Ada perubahan nyata ketimbang sebelumnya. Tempat ini jadi lokasi yang nyaman bagi kami. Pelayanan baik, fasilitasnya juga bagus, anak-anak sekolah jadi ada kegiatan yang menyenangkan," ujar salah satu warga Kampung Anyar, Riadi. (Humas)