Kampus Diminta Ikut Terlibat Pengembangan Riset Daerah

Minggu, 22 Januari 2017


BANYUWANGI - Bupati Abdullah Azwar Anas mendorong perguruan tinggi di Banyuwangi mengembangkan iklim penelitian. Secara khusus, Bupati Anas meminta kampus ikut terlibat dalam pengembangan riset yang ada di daerahnya.

Menurut Bupati Anas, saat ini dinamika di dalam masyarakat sudah banyak berubah. Di mana opini yang berkembang, tidak hanya dibangun dari pusat-pusat studi maupun pusat ilmu pengetahuan.

“Kampus-kampus ini perlu bisa merespon bagaimana dinamika di eksternal masyarakat yang sekarang berubah. Karena itu kami mengajak kampus-kampus yang ada di daerah ikut terlibat dalam pengembangan riset di daerahnya,” kata Bupati Anas saat menerima Rektor Universitas 17 Agustus (Untag) Banyuwangi di Banyuwangi, Jum'at (20/1).

Anas mengatakan perguruan tinggi sudah tidak bisa lagi menjadi menara gading, namun harus banyak melakukan penelitian khususnya terkait potensi dan permasalahan yang berbasiskan daerah. Karena, lanjut dia, penelitian yang berbasis lokal bisa meningkatkan daya saing daerah.

“Banyak masalah di daerah yang perlu diselesaikan lewat penelitian, dan tentunya potensi daerah yang juga perlu dikembangkan lewat riset. Seperti potensi pertanian dan perikanan Banywuangi ini. Kalau semua perguruan tinggi bisa berkontribusi setahun sekali saja, tentu akan sangat banyak membantu pengembangan daerah,” kata Anas.

Sementara itu, Rektor Untag Banyuwangi, Andang Subahariyanto merespon positif apa yang menjadi keinginan Bupati Anas dan siap ikut terlibat langsung terhadap program pembangunan yang telah disiapkan pemerintah.

“Pada awal Ferbruari nanti akan ada rotasi pejabat di lingkungan kami. Moment ini akan kami lalukan untuk menciptakan image baru sebagai universitas yang kritis dan progresif. Kami tak akan menyendiri lagi, kami akan bersinergi dengan pemerintah, supaya kalau mau melakukan riset bisa up to date. Risetnya juga tidak hanya berguna bagi kepentingan kampus tetapi juga bagi masyarakat,” ungkapnya.

Terkait riset, kata dia, pihaknya telah memiliki sebuah riset di sektor pertanian tentang buah naga.  Dalam riset ini, Untag menciptakan pupuk baru, membuatkan desain packaging dan inovasi pengolahan buah naga saat panen over load. Sehingga petani tinggal memasarkan.

Pupuk yang dibuat oleh mahasiswa Untag ini, kata dia, pupuk organik khusus buah naga yang diberi nama Bionaga 45. Pupuk ini merupakan pupuk organik yang sangat baik untuk mengatur masa panen buah naga. “Dengan menggunakan formula pupuk ini, masa panen bisa diatur. Saat musimnya tidak berbunga jika menggunakan pupuk ini bisa berbunga,” katanya.

Untuk membuktikan keabsahanya, kata dia, pupuk ini pun telah diuji cobakan kepada sejumlah petani-petani di wilayah selatan, seperti Kalibaru, Bangorejo agar mereka merasakan hasilnya. “Kami pun saat ini tengah mengurus ijin edarnya di Kementerian Pertanian, agar bisa didistribusikan dan dijual bebas kepada petani,” ujarnya.  (Humas)

                                                                                   



Berita Terkait

Bagikan Artikel :