Kedubes Amerika Dorong Pemuda Banyuwangi Sebar Virus Positif dalam Bersosial Media

Selasa, 23 Mei 2017


BANYUWANGI - Kedutaan Besar Amerika Serikat mendorong pemuda Banyuwangi agar menyebarkan virus positif dalam bersosial media.

Upaya itu diwujudkan dalam workshop 'Social Media for Social Good' yang digelar bareng Greeneration Foundation dan Seasoldier Banyuwangi, Sabtu (20/5) di Auditorium Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Banyuwangi.

Diikuti 150 netizen Banyuwangi, anak-anak muda ini diajak untuk terus aktif dan konsisten mengkampanyekan berbagai kebaikan di akun sosial media yang mereka miliki.

Menurut Deputi Press Atache of United States Embassy Jakarta, Gurdit Singh, pihaknya ingin mengajak anak-anak muda Banyuwangi menyebarkan kebaikan lewat media sosial (medsos).

"Medsos adalah alat penting untuk menciptakan isu-isu penting. Seperti pelestarian lingkungan, bagaimana menciptakan entrepreneur skill untuk kaum muda. Medsos juga menjadi sarana untuk mensupport orang lain berbuat kebaikan, mengajak orang lain berhenti membully seseorang atau pun menghentikan menyebar kebencian dan bahkan waspada terhadap berita hoax," tutur Singh.

Lewat kegiatan ini, Singh berharap para netizen Banyuwangi berlomba-lomba mengangkat berita bagus untuk melawan berita negatif. "Kita bisa melawan hal buruk dengan mengangkat 'good news from Indonesia'. Angkat berita bagus untuk melawan berita negatif. Mereka bisa bikin konten yang lebih menarik dengan berjejaring dengan orang dan gerakan yang positif," bebernya.

Mengapa kegiatan ini diselenggarakan di Banyuwangi? Singh mengatakan, pihaknya bersama Greeneration Foundation  melakukan pengamatan tentang pola ber-medsos anak-anak Banyuwangi yang aktif. Ternyata di Banyuwangi ada lebih dari 20 komunitas anak muda yang banyak melakukan hal-hal positif dan  rajin meng-uploadnya ke medsos untuk menginspirasi orang lain."Salah satunya Seasoldier yang aktif mengkampanyekan cinta lingkungan ini. Maka kami rangkullah Seasoldier untuk turut ambil bagian dalam kegiatan ini," ceritera Singh. 

Banyuwangi adalah kota ketiga yang disasar oleh Kedubes AS setelah Pontianak dan Palembang. Selanjutnya kegiatan ini akan terus berlanjut di Maumere, Ambon, Batam dan Gorontalo.

Digelar selama 2 hari (Sabtu- Minggu/20-21/5), kegiatan ini menghadirkan beberapa nara sumber muda yang inspiratif. Tak hanya lewat gerakan yang dibuat untuk lingkungan sekitarnya, namun juga aktif mengkampanyekannya lewat tulisan yang diunggah di akun medsos yang mereka punya.

Ranitya Nurlita, salah satunya. Gadis muda asal Bojonegoro tersebut berbagi pengalamannya berkeliling dunia mengampanyekan penggunaan reusable bag, atau tas daur ulang, daripada menggunakan plastik yang sulit terurai. Dia merupakan satu di antara pemuda Indonesia yang beruntung, terpilih oleh Kedubes Amerika untuk mewakili Indonesia dalam program Young Southeast Asian Leaders Initiative (YSEALI). YSEALI adalah program Kedubes AS untuk negara-negara ASEAN.

"Awalnya saya aktif dalam kegiatan menjaga lingkungan, lalu ditulis dan dishare di media sosial. Dengan cara itu, aktifitas kita akan terekam dan bisa diketahui orang lain," kata Lita, sapaan Ranitya Nurlita. Rekaman itu bisa menjadi referensi berbagai pihak untuk mulai berteman, berbisnis, berkegiatan bahkan membangun kerjasama. Misalnya melalui media sosial Linkedin pencari kerja bisa menulis berbagai pengalaman yang dimiliki di akun masing-masing hingga mudah bertemu lowongan kerja yang sesuai.

"Yang penting kita berusaha berbagi informasi yang bermanfaat untuk orang lain secara rutin. Misalnya ajakan dan pengalaman menjaga lingkungan lewat media sosial, berbagai manfaat akan datang," tandas Lita.

Selain Lita, nara sumber asal Banyuwangi, Ira Rachmawati juga didhapuk untuk mengajarkan cara memanfaatkan medsos untuk mem-blast berita positif yang mereka buat.

"Kalau kita ingin membuat tulisan yang baik, kita harus rajin membaca untuk memperkaya wawasan kita. Dan yang terpenting adalah mulailah untuk menulis dari hal-hal yang kecil yang ada di sekitar kita. Jangan takut tulisan kita dinilai jelek oleh orang lain, karena semakin kita membiasakan diri untuk menulis, maka pelan-pelan kualitas tulisan kita akan membaik," ujar Ira berbagi tips.

Kegiatan ini tak hanya sekedar menyuguhkan teori. Peserta diajak terjun langsung membuat blog dan vlog dari hal-hal sederhana yang ada di sekitar mereka.

Rina Mawarni, peserta asal Jember mengaku senang berkesempatan mengikuti kegiatan ini. "Dituntut kreativitas tinggi untuk menciptakan blog dan vlog. Menariknya, dari hal sederhana di sekitar kita pun ternyata bisa menjadi tulisan dahsyat yang menginspirasi orang lain," kata Rina yang memilih membuat vlog bersama rekan-rekan sekelompoknya tentang kopi dan gandrung Banyuwangi. (*)



Berita Terkait

Bagikan Artikel :