Kembang Dharmo dan Ider Bumi Puncaki Tradisi Seblang Olehsari
Jumat, 7 Juli 2017
Banyuwangi – Tepat tujuh hari digelar, ritual adaf Seblang di Desa Olehsari, Kecamatan Glagah, Banyuwangi berakhir, Rabu (6/7). Pembagian kembang dharmo dan ider bumi menjadi penanda berakhirnya tradisi adat suku Osing tersebut.
Di hari terakhir tersebut, kerumunan penonton semakin padat mengitari pentas yang ditengahnya terdapat payung besar dari kain putih itu. Mereka semua menunggu pembagian kembang dharmo. Yaitu, untaian bunga yang terdiri dari bunga Kemuning, Melati dan beberapa bunga lainnya yang dikaitkan dalam tangkai dari bambu. Untuk mendapatkannya, mereka membayar mahar dari mulai 2 ribu rupiah hingga 10 ribu rupiah. Terserah penonton yang menghendakinya.
Bunga yang telah melalui proses ritual tersebut, dipercaya dapat menjadi perantara untuk melancarkan jodoh. “Semuanya ini (kembang dharmo), hanya perantara. Keyakinan untuk dapat jodoh tetap disadarkan pada Allah,” ujar salah seorang sesepuh kampung melalui pengaras suara di panggung utama.
Setelah proses pembagian kembang dharmo tersebut, penari Seblang akan melakukan ider bumi. Ia diiringi dengan gending-gending dan tetabuhan menari berkeliling ke sudut-sudut desa. Tetua adat dan masyarakat mengikutinya dari belakang. “Ini sebagian upaya untuk meminta keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Esa sebagaimana yang telah diajarkan oleh para leluhur,” terang Ketua Adat Desa Olehsari, Ansori.
Dengan selesainya prosesi tersebut, maka pagelaran Seblang Olehsari akan kembali dihelat satu tahun kemudian. Tepatnya, setiap bulan Syawal. Sebagai bagian dari bersih desa, Seblang telah menjadi adat yang turun temurun bagi masyarakat Osing di Desa Olehsari.
Ritual Seblang merupakan tarian magis yang dilakukan seorang gadis yang masih memiliki garis keturunan dengan penari seblang pertama kali. Untuk tahun ini, Fadia Yulianti terpilih kembali menjadi penarinya. Gadis berusia sebelas tahun tersebut, telah empat kali ini terpilih oleh roh leluhur untuk menjadi penari seblang.
Rangkaian adat Seblang Olehsari tersebut, kini telah masuk dalam jadwal Banyuwangi Festival. Hal ini, sebagai bagian dari upaya Pemkab Banyuwangi untuk berpartisipasi dalam melestarikan kebudayaan dan tradisi masyarakat. “Seblang telah menjadi bagian dari adat masyarakat Olehsari sejak dulu. Oleh karena itu, pemerintah berkewajiban untuk melestarikan tradisi di tengah masyarakat. Maka, kami masukkan dalam rangkaian Banyuwangi Festival,” ujar Wakil Bupati Banyuwangi Yusuf Widiyatmoko yang menghadiri ritual penutupan Seblang tersebut.
Wabup Yusuf pun terlihat menyimak setiap ritual yang dijalankan gadis Seblangvtersebut. "Meski beberapa kali hadir di tradisi, saya tetap terkesima dengan tradisi masyarakat sini. Warga di sini tetap menjunjung tinggi tradisinya. Ini yang bikin saya kagum," pungkas Yusuf. (*)