Kemenag RI Workshop Penerapan Kurikulum 2013 di Banyuwangi
Rabu, 7 Mei 2014
BANYUWANGI – Jika biasanya kota-kota besar seperti Surabaya dan Malang menjadi tempat penyelenggaraan pertemuan tingkat nasional maupun regional, kali ini kebiasaan itu mulai bergeser. Kabupaten Banyuwangi yang berada di Ujung timur pulau Jawa ini pun telah menjadi tujuan utama beberapa kegiatan besar. Salah satunya even nasional workshop kajian implementasi kurikulum 2013 di Madrasah, yang diselenggarakan oleh Kementrian Agama RI di Hotel Ketapang Indah, Rabu (6/5)
Kepala Badan Litbang dan Diklat Kemenag RI, Prof. Dr. H. Machasin, MA mengatakan, Dipilihnya Banyuwangi sebagai tempat workshop karena Banyuwangi kini mulai berkembang. Lokasi Banyuwangi yang terisolir karena dikelilingi gunung, hutan dan laut tidak membuatnya tertinggal, justru dianggap menjadi daerah paling cepat pertumbuhannya di Jawa Timur dan paling maju untuk wilayah tapal kuda.
“Workshop kami selenggarakan di tiga wilayah yang dianggap mewakili seluruh Indonesia. Workshop pertama di Palembang mewakili wilayah barat, workshop yang kedua wilayah tengah sengaja kami pilih Banyuwangi karena menurut kami daerah ini sangat menarik dengan berbagai perkembangan dan potensinya. Untuk wilayah timur workshop nanti akan diadakan di Banjarmasin.” kata Machasin.
Sementara itu terkait dengan kegiatan workshop, Machasin mengatakan pesertanya adalah perwakilan guru Madrasah Ibtiidaiyah, Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah dari Kabupaten Banyuwangi, Situbondo, Bondowoso, Jember dan Jembrana. Tujuan diadakannya workshop diantaranya untuk melakukan evaluasi kesiapan madrasah melaksanakan kurikulum 2013 terutama untuk pendidikan agama dan pelajaran Bahasa Arab. “Selain itu kami ingin meminta masukan dan saran untuk perumusan model pengembangan kurikulum 2013 serta seberapa besar assesment need bagi guru untuk implementasi kurikulum 2013 kedepan,” Ujar Mashasin.
Bupati Abdullah Azwar Anas, menyampaikan penghargaan kepada Kementrian Agama atas penyelenggaraan workshop di Banyuwangi. Bupati mengatakan saat ini Banyuwangi memang tengah berbenah dan berkembang. Posisi Banyuwangi yang terisolir dan jauh dari pusat kota maupun pemerintahan, telah dibuka melalui pengoperasional penerbangan komersil di Bandara Blimbingsari. Ekonomi kerakyatan juga terus didorong tumbuh. “Pendapatan perkapita Banyuwangi kini lebih Rp.21 juta/ kapita lebih tinggi dari Malang yang Rp 19,6 juta/kapita,” urai Bupati.
Ikhtiar mengembangakn ekonomi rakyat juga dibarengi dengan upaya meningkatkan kualitas SDM. Diantaranya dengan memberikan akses pendidikan berkualitas seluas-luasnya bagi masyarakat melalu pendirian Politeknik Negeri, Sekolah pilot negeri dan Universitas Airlangga. Penerapan kurikulum yang tepat menurut Bupati juga akan menciptakan SDM yang berkualitas. “Untuk mencapai pendidikan berkarakter penerapan kurikulum harus didukung oleh kebijakan di luar sekolah yang dikeluarkan oleh pemerintah,” cetus Bupati.
Kabupaten Banyuwangi berusaha melindungi anak-anak muda generasi penerus dengan beberapa kebijakan yang diantaranya kurang polulis. Seperti pelarangan pendirian mall sebelum mencapai target angka IPM. Boleh pun harus didaerah pinggir tidak di tengah kota. Pelarangan pendirian hotel melati dan hanya membolehkan hotel minimal bintang tiga. “Ini juga kami lakukan untuk membatasi akses anak-anak muda mengakses hotel murah. Kami juga menata tempat-tempat wisata agar tidak dijadikan tempat nongkrong atau tempat berbuat hal menyimpang. Selain itu kami memberikan akses seluas-luasnya bagi anak muda untuk memperoleh kemudahan informasi melalui pemasangan seribu titik wi-fi yang diproteksi dari akses pornografi,” beber Bupati. (Humas Protokol)