Kemendagri & IPAC Jadikan Banyuwangi Sebagai Model Penyelenggaraan Lokakarya Internasional Di Tingkat Lokal
Minggu, 12 Mei 2013
BANYUWANGI – Jumat (10/5) kemarin, Banyuwangi mendapat kehormatan sebagai satu dari 4 kabupaten/kota yang dijadikan model penyelenggaraan lokakarya internasional di tingkat lokal oleh Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Republik Indonesia. Menariknya, Kemendagri menggandeng The Institute of Public Administration of Canada (IPAC) untuk menggelar Workshop Service Delivery di Banyuwangi. Service Delivery adalah pelayanan publik yang tepat sasaran dan menyentuh langsung pada masyarakat.
Empat ahli di bidang pendidikan, kesehatan, pengelolaan sampah serta pemerhati dalam bidang pelayanan publik dari Provinsi Nova Scotia Canada menjadi nara sumber dalam kegiatan yang menghadirkan para kepala desa/lurah, camat dan para kepala dinas tersebut. Mereka antara lain Alan Lowe (the Executive Director of Nova Scotia Department of Education dan Sandy Christie (Executive Director, Nova Scotia Health and Wellness, Acute and Tertiary Care). Juga Brian Smith (Nova Scotia Solid Waste Management Expert) dan Laurent Tyers (Program Officer Domestic and International Program, IPAC).
Menurut Staf Ahli Kemendagri Saut Situmorang, Banyuwangi dipilih sebagai model penyelenggaraan lokakarya ini karena Banyuwangi di bawah kepemimpinan Bupati Abdullah Azwar Anas dinilai luar biasa ofensif dalam ‘menjual’ kekayaan daerahnya, selain 3 kabupaten / kota lainnya ( Tangerang Selatan, Palangkaraya dan Kutai Kartanegara). “Saya berharap momen langka ini bisa dijadikan ajang untuk bertukar pikiran dengan para nara sumber, utamanya bagi kita semua yang jadi ujung tombak pelayanan publik,” tandas Saut. Selain itu, ujar Saut, lewat lokakarya ini, para pihak diharapkan mampu memperkuat komitmen dan menghasilkan beberapa bahan bagi perumusan program ke depan.
Hal senada disampaikan oleh Bupati Anas dalam acara yang dilangsungkan di Ruang Rapat Rempeg Jogopati Kantor Pemkab Banyuwangi ini. Workshop Service Delivery sebagai tindak lanjut hasil study missionnya ke Canada pada bulan November tahun 2012 lalu ini diharapkan bisa menjadi solusi bagi permasalahan yang dialami di Banyuwangi.
Dengan gamblang, satu demi satu narasumber berbagi keberhasilan yang telah mereka capai di negaranya. Capaian yang telah diperoleh itu berasal dari gagasan mereka. Misalnya apa yang dilakukan Sandy Christie dalam penyusunan standar kesehatan. Sandy bersama timnya langsung turun menemui pasien untuk mengetahui pelayanan macam apa yang pasien inginkan. Hasil perbincangannya dengan para pasien itu dijadikan sebagai identifikasi isu.
Sedangkan Alan Lowe yang concern di bidang pendidikan mengatakan, negaranya menolak keras model tes semacam Ujian Nasional (Unas) yang ujung-ujungnya akan menyebabkan siswa menjadi stress dan trauma. “Di negara kami, sistem pembelajarannya tidak mengizinkan ada kompetisi di antara anak. Sebab yang ditakutkan dengan adanya kompetisi, selain berakibat pada tertekannya anak, mereka juga akan berupaya segala cara untuk mendapat nilai baik meski dengan cara yang tak jujur,” urai Alan.
Lantas ujian macam apa yang dilakukan sekolah? Menurut Alan, mata pelajaran yang diujikan dibuat oleh sekolah. Jadi siswa benar-benar mengerjakan ujin sesuai materi yang diajarkan gurunya selama ini, dan setiap kali ujian berlangsung, pihak provinsi secara khusus datang untuk mengawasi pelaksanaan ujian tersebut. Manakala ada siswa yang mendapatkan nilai yang kurang baik, pihak sekolah juga aktif bekerjasama dengan orang tua siswa tersebut untuk meng-upgrade kemampuannya. Dan bila ada guru yang kurang berhasil dalam mengajar, mereka tak segan untuk bertanya dan menimba ilmu dari guru yang dianggap paling baik dalam mengajar dan membimbing siswanya di sekolah tersebut.
Kesempatan itu benar-benar dimanfaatkan oleh para peserta. Mereka menanyakan beberapa hal yang berbeda antara yang dilakukan di Indonesia dengan Canada, serta apa yang sebaiknya dilakukan. Usai workshop, para narasumber menyempatkan diri untuk berkunjung ke RSUD Blambangan untuk melihat kondisi rumah sakit yang ada dan pelayanan pasiennya. (Humas & Protokol)