Kiprah Pebalap ITdBI Beri Inspirasi ke Anak Muda Banyuwangi
Selasa, 17 Mei 2016
BANYUWANGI – Ajang balap sepeda International Tour De Banyuwangi Ijen (ITdBI) 2016 yang berlangsung 11-14 Mei 2016 lalu mampu memberikan spirit tersendiri dan inspirasi bagi sejumlah orang, termasuk para anak muda Banyuwangi. Selain meningkatkan kemampuan berbahasa asing, anak muda Banyuwangi juga mendapatkan banyak inspirasi dari ajang internasional tersebut.
Salah satunya adalah Ayuk Nur Vika yang menjadi liaison officer (LO) atau petugas penghubung bagi tim Singha Infinite Cycling Team dari Singapura. Di tim tersebut, para pebalapnya adalah Peter Pouly (Perancis), Loic Desriac (Perancis), Bart Buijk (Belanda), dan Nicolas Pierre Magnan (Kanada). Selama mendampingi tim tersebut, banyak hal baru yang ditemui Ayuk. Mulai dari disiplin waktu, fokus kepada pekerjaan, hingga merasakan bagaimana dukungan antar-personel tim.
Bagi para LO yang bertugas langsung mendampingi tim riders ini, ketepatan waktu dan disiplin merupakan hal paling utama yang harus dipegang. “Tugas saya antara lain di paddock. Sebelum mereka finish, saya sudah harus menyiapkan segala sesuatunya. Semua harus sempurna dan harus cepat. Benar-benar harus disiplin semuanya,” kata Ayuk.
Bukan hanya itu, Ayuk juga harus memastikan kebutuhan para pembalap saat akan berangkat bertanding. “Kita juga harus memastikan semuanya. Sarapan mereka saat akan start sampai finish. Bahkan saat mereka balik hotel, kita juga harus memastikan mereka telah istirahat,” ujar Ayuk yang sedang menunggu waktu kuliah jurusan psikologi di salah satu universitas di Malaysia.
Hal inilah yang mengajarkannya untuk pandai-pandai mengatur waktu. “Saya benar-benar dituntut untuk bisa mengatur waktu mereka agar mereka bisa konsentrasi pada lomba balapnya,” ujar gadis asal Kecamatan Tegaldlimo, Banyuwangi ini.
Lidya Muniarti, anak muda Banyuwangi yang juga menjadi LO, belajar tentang bagaimana membentuk disiplin diri dari para pebalap profesional. Dia melihat bagaimana manajer dan tim bekerja sama membangun strategi untuk para pebalap. Lidya bertugas menjadi LO bagi tim St George Merida asal Australia.
"Semua disiplin, sejak sampai sampai meninggalkan Banyuwangi. Saya juga berbincang dengan mereka untuk mengetahui bagaimana mereka berlatih di negara asalnya. Pola hidup dan pola makannya sangat disiplin. Mereka berpesan, kalau mau sukses, anak muda harus disiplin. Saya jadi terpacu untuk terus memperbaiki diri agar bisa sukses di masa depan," kata Lidya yang kini masih berkuliah di Universitas PGRI Banyuwangi (Uniba).
Selain itu, Lidya juga belajar bagaimana antar-tim saling mendukung dan berkolaborasi memenangkan sebuah lomba. “Ternyata untuk mencapai kesuksesan, kita harus saling dukung. Manajer tim bilang, tidak ada kesuksesan yang diraih seorang diri. Kesuksesan kita adalah berkat bantuan orang lain, oleh karena itu kita juga harus membantu dan menghargai orang lain. Pelajaran hidup seperti ini akan terus saya tanamkan di diri saya. Dari ajang ITdBI ini, saya terinspirasi banyak hal untuk terus berbuat yang terbaik di masa muda saya sekarang ini," papar alumnus SMAN 1 Banyuwangi tersebut.
Balap sepeda International Tour de Banyuwangi Ijen sendiri telah menjadi agenda rutin (calendar of event) Persatuan Balap Sepeda Internasional (Union Cycliste Internationale/UCI). ITdBI telah mendapatkan peringkat ”excellent” dari UCI yang menjadikan ITdBI masuk sebagai tujuh kejuaraan balap sepeda terbaik di Asia dan menjadi yang terbaik di Indonesia. ITdBI 2016 terdiri atas empat etape sepanjang 567 kilometer.
ITdBI 2016 ini diikuti 100 pembalap dari 21 negara. Para pembalap tersebut tergabung dalam 20 tim yang terdiri atas 14 tim luar negeri dan 6 tim dalam negeri. Event ITdBI ini telah memasuki tahun kelima.(Humas)