Kisah Eks Buruh Migran Banyuwangi Sukses Bangun Usaha Kue Lebaran

Rabu, 22 Juni 2016


BANYUWANGI – Keinginan kuat untuk berdaya dan mandiri secara ekonomi menjadi pemicu bagi sekumpulan eks buruh migran Banyuwangi hingga sukses menjalankan usaha produksi kue kering. Pasar yang disasar untuk memasarkan kue-kue tersebut pun istimewa, yakni para rekan-rekan buruh migran yang masih aktif bekerja di berbagai negara, salah satunya Taiwan.

Salah satu pelaku usaha kue kering eks buruh migran adalah pasangan suami istri Krisna Adi (43) dan Ani Sugianti (28). Mereka berdua merupakan eks buruh migran yang pernah berkerja di Taiwan. Kenyang merasakan pengalaman menjadi buruh di negeri orang membulatkan tekad keduanya untuk tidak kembali lagi bekerja di luar negeri.

Merekapun membangun usaha kue kering di rumah tinggal mereka di Dusun Jatisari, Desa Wringin Agung Kecamatan Gambiran. “Saya bagian pemasaran, sedangkan untuk produksi ditangani oleh istri saya,” kata Krisna saat ditemui di kediamannya, Selasa (21/6).

Menurut Krisna, tantangan terberat yang dihadapi oleh para buruh migran justru ketika telah kembali ke tanah air. Jika tidak punya ide kreatif untuk membuka usaha maka sebagian besar akan memilih untuk pergi lagi keluar negeri. Krisna dan Ani pun sempat menuturkan membangun usaha ini.

Dituturkan Krisna, usai pulang dari Taiwan untuk kedua kalinya dia langsung mengawali usaha penjemputan TKI di Indonesia. Sementara istrinya, Ani hanya ibu rumah tangga. “Ani merasakan kebosanan di rumah, sementara dia terbiasa bekerja. Akhirnya dia ada ide mencoba membuat kue. Belajarnya ya dari ibunya dan youtube,” ujar Krisna.

Ani menambahkan bahwa usahanya ini awalnya tidak  berjalan mulus. Kue yang dibuat tidak langsung jadi. “Carangmas saja saya nyobanya sampai menghabiskan 20 kg ubi. Meski sempat diminta suami untuk berhenti eksperimen, namun saya tidak mau menyerah. Alhamdulillah, akhirnya rasanya sekarang sudah enak. Modal saya yang hanya Rp 200 ribu, sekarang sudah berkembang menjadi Rp 3 juta,” ujar Ani.

Krisna menjadi TKI sejak tahun 2006, sementara Ani sejak 2007 menginjak usia 18 tahun. Mereka berdua sama-sama pernah dua kali bekerja sebagai buruh migran di Taiwan.

Kue kering yang diproduksi oleh Krisna dan istri beraneka macam seperti Carang Mas, Kuping Gajah, stik coklat, stik gurih, akar kelapa, pastel abon, dan aneka kacang-kacangan seperti kacang telur, kacang bawang dan kacang tolo.

“Produksi kue kering kami memang khusus yang melalui proses goreng, kalau untuk kue kering khas lebaran seperti nastar, kastengel itu diproduksi oleh rekan kami sesama eks buruh migran yang tergabung dalam Keluarga Migran Indonesia (KAMI). Tapi untuk pemasarannya kami saling bersinergi, lewat KAMI juga,” ujar Krisna yang juga ketua Ikatan Keluarga Banyuwangi (Ikawangi) Taiwan ini.

Untuk pemasaran kue-kue yang diproduksinya, lanjut Krisna, dia memanfaatkan media sosial Facebook karena sebagain besar teman di Facebooknya adalah rekan buruh migran yang masih aktif bekerja diluar negeri. Mereka inilah yang menjadi konsumen militan produksi kuenya.

“Teman-teman migran di facebook kan jumlahnya ribuan dan dari berbagai negara. Awalnya saya juga hanya iseng saja mengunggah gambar kue-kue kering yang dibuat oleh istri saya. Ternyata sambutan teman-teman di luar dugaan, mereka ingin mencicipi kue produksi istri. Mungkin mereka kangen ingin merasakan makanan khas daerah, seperti carang mas yang paling banyak dipesan keluarga TKI. Ada juga keciput, kuping gajah,” kata Krisna.

Jumlah pesanan kue kering selama bulan ramadhan ini pun membludak. Total jumlah pesanan kue yang dia terima mencapai 4 kuintal selama dua minggu di bulan puasa ini. Saat ini bahkan Krisna mengaku sudah menutup pemesanan kue karena tenaga produksinya kurang.

“Kami sudah menutup untuk pemesanan kue. Sekarang tinggal mengejar produksi dari yang sudah indent dan melakukan pengiriman ke berbagai wilayah. Karena pemesan sudah transfer uang terlebih dahulu jadi kita ingin produksi benar-benar terkejar untuk memenuhi pesanan mereka” ujar Krisna yang pernah bekerja di Taiwan selama 10 tahun ini.

Untuk pengiriman kuenya, Krisna mengatakan sudah mengirimkan produk kue sebanyak empat kali ke Taiwan. Pengiriman ini untuk memenuhi pesanan dari rekan-rekannya yang masih bekerja di negeri itu dan tidak bisa pulang pada lebaran kali ini.

“Mengirim keluar negeri memang mahal diongkos. Untuk harga kuenya satu kardus hanya Rp. 500 ribu tapi biaya kirim sampai satu juta. Tapi teman-teman kami yang pesan tidak keberatan karena mereka memang rindu dengan makanan khas deerah,” tutur Krisna.

Pengiriman juga dilakukan ke berbagai wilayah lain di Indonesia seperti Malang, Trenggalek, Blitar, Madiun, Jogjakarta sampai Lampung. Pengiriman lokal ini juga datang dari rekan buruh migran yang mengirimkan kue lebaran untuk keluarganya.

Dikatakan Krisna, usaha kue kering yang dilakoni mereka juga sebagai upaya memberdayakan rekan-rekan eks buruh migran di sekitar wilayah tempat tinggalnya. Beberapa rekan eks buruh migran pun dilibatkan dalam proses produksi kue-kue keringnya.

“Saya mengajak teman-teman agar bisa belajar bagaimana membuat kue-kue kering ini. Tidak ada resep yang ditutupi. Saya ingin mereka nantinya bisa membuka usaha yang sama seperti kami, untuk pemasaran bisa bersama-sama,” kata Ani yang pernah bekerja selama 10 tahun di Taiwan sebagai pengasuh jompo ini.

Selain Ani Sugianti, salah satu eks buruh migran Siti Umaiyah (43) asal desa Benculuk Kecamatan Cluring ini juga memproduksi kue kering, dengan spesialisasi kue khas lebaran. Selama ramadhan ini dia mendapatkan pesanan 6 kuintal kue kering yang akan dikirimkan ke berbagai  wilayah di Indonesia. Umi, panggilan akrabnya juga mengajak tiga orang eks buruh migran untuk bersama-sama memproduksi kue kering tersebut.

“Kue-kue ini semuanya dipesan oleh teman-teman buruh migran yang masih diluar negeri untuk keluarganya yang ada di Indonesia,” kata Umi. (humas)

 



Berita Terkait

Bagikan Artikel :