Layani Gakin, Puskesmas Sempu Luncurkan Tim Parikuning
Kamis, 23 November 2017
BANYUWANGI – Puskesmas Sempu adalah unit pelayanan kesehatan di Banyuwangi yang akan dikembangkan menjadi rawat inap dan Pertolongan Obstetri Neonatal Emergency Dasar (PONED).
Dengan pengembangan tersebut, Puskesmas Sempu kemudian membuat terobosan pelayanan. Dijelaskan oleh Kepala Puskesmas Sempu, Hadi Kusairi, perlu ada peningkatan pelayanan yang berbeda dengan puskesmas yang hanya melayani rawat jalan.
Terobosan yang digagas oleh para dokter dan perawat tersebut dituangkan dalam bentuk inovasi bernama Pasca Rawat Inap Kunjung Ning Griyo (Pari Kuning). Munculnya inovasi Pari Kuning ini dilatarbelakangi oleh temuan bahwa banyak pasien yang tidak kontrol setelah menjalani opname. Bahkan pasien yang tidak kontrol mencapai 70 persen.
Sebenarnya, terang Hadi, pasien selalu diedukasi oleh dokter maupun perawat saat hendak pulang opname. Setelah ditelusuri ternyata banyak ditemukan kendala mengapa mereka tidak lagi kontrol ke puskesmas.
Antara lain tidak adanya transportasi dan pihak yang mengantar kontrol karena pasien tersebut hidup sebatang kara. “Bahkan ada yang takut kontrol karena faktor biaya, padahal program ini bersifat gratis,” kata Hadi.
Menurut Hadi, konsep awalnya, dua hingga tiga hari pasca opname, puskesmas mengirim tenaga perawat atau bidan sesuai kasusnya ke rumah gakin. Tujuannya untuk melakukan follow up sesuai advice dokter yang merawat. Mulai perkembangan penyakit sampai konsumsi obat dan asupan gizi.
Namun dalam perkembangannya, banyak kendala yang dihadapi terutama terbatasnya tenaga, alat transportasi, kondisi geografis bahkan anggaran untuk pengadaan bahan bakar minyak. “Akibatnya mulai awal tahun 2014 hingg akhir 2016 lalu, kami hanya mampu mengunjungi pasien gakin pasca opname 87 orang,” jelasnya.
Untuk mengatasi kendala tersebut, langkah pertama dilakukan dengan membentuk tim khusus Pari Kuning yang terdiri dari dokter, perawat dan bidan. Langkah kedua, menyediakan armada Calon Harapan Insan Penghuni Surga ( CHIPS ) dengan memodifikasi motor inventaris kepala puskesmas. Motor tersebut dilengkapi box tempat alat - alat medis dan obat-obatan, lampu sirene layaknya ambulance dan radio komunikasi.
Armada dengan driver khusus ini, ujar Hadi, yang setiap hari bergerak bersama tim, menyisir beratnya medan perkampungan bahkan sampai menjangkau warga di lereng Gunung Raung.
Yang menjadi nilai tambah dari program ini, tim Pari Kuning juga menyiapkan santunan untuk gakin yang dikunjungi. “Setiap kamis kami mengumpulkan jimpitan. Lewat program yang kami namakan Kamis Mulia ini kami siap menyalurkan amal ibadah dari karyawan puskesmas Sempu,” ujarnya.
Dalam kunjungan tersebut, tim Pari Kuning juga membantu memecahkan masalah kesehatan yang dihadapi. Misalnya ketersediaan jamban, kesehatan lingkungan, pola hidup bersih dan sehat. Bila diperlukan melakukan plestrisasi bahkan sampai bedah rumah, bekerjasama dengan lintas sektoral. Bagi yang tidak punya telepon seluler atau hidup sebatang kara, di rumahnya dipasangi ‘kenthongan’ dari bambu sehingga sewaktu-waktu membutuhkan pertolongan, tinggal memukulnya.
Untuk mempermudah pemantauan dan komunikasi, tim juga mencetak dan menempelkan stiker di setiap rumah gakin parikuning dengan gambar CHIPS dan nomor telepon yang bisa dihubungi. Di setiap gakin juga ditempeli poster panduan hidup sehat. Sesuai penyakit yang diderita misal darah tinggi, bagaimana cara dietnya, gerakannya, dan makanan yang dianjurkan. “Selesai follow up, tim berkoordinasi dengan ketua RT atau tetangga terdekat untuk membantu pemantauan,”ujarnya.
Selanjutnya, pendampingannya diserahkan pada perawat atau bidan wilayah lewat program Perkesmas (Perawatan Kesehatan Masyarakat).
Berkat inovasi tersebut, kata Hadi, mulai awal dilaksanakan sampai Oktober 2017, Tim Pari Kuning mampu mengunjungi pasien gakin sebanyak 245 orang. Begitu juga Bed Occupancy Ratio (BOR ) yang meningkat setiap tahunnya.
Hasil survey kepuasan masyarakat meningkat dari 87 persen menjadi 92 persen pada periode Juni 2017. “Yang juga membanggakan, dua inisiator dari inovasi ini dinobatkan sebagai dokter teladan Kabupaten Banyuwangi dan keduanya mendapatkan rekomendasi tugas belajar menempuh dokter spesialis di Universitas Brawijaya Malang,” pungkas Hadi Kusairi. (*)