Lestarikan Budaya Banyuwangi, Besok Pemkab Gelar Festival Angklung Caruk Pelajar

Jumat, 24 Februari 2017


BANYUWANGI – Angklung caruk, salah satu kesenian di Banyuwangi yang nyaris punah, kembali dilestarikan oleh Pemerintah Kabupaten Banyuwangi. Upaya pelestarian itu salah satunya dilakukan dengan melibatkan pelajar, lewat gelaran Festival Angklung Caruk Pelajar, Sabtu (25/10). Festival yang digelar di Gesibu Blambangan ini merupakan kolaborasi antara pemkab dengan para budayawan Banyuwangi.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan,  seni dan budaya adalah bagian dari kekayaan potensi Banyuwangi yang terus dikembangkan. Agar tidak hilang, dibutuhkan kaderisasi, dimana anak-anak muda Banyuwangi dikenalkan pada kesenian khas daerahnya. Karena kelak mereka yang akan menjadi pewaris budaya itu sendiri.

“Seni budaya memang menjadi salah satu daya tarik pariwisata Banyuwangi, di samping kekayaan alam, sport tourism, kuliner dan inovasi pelayanan publiknya. Karena itulah, angklung caruk ini kami festivalkan. Supaya generasi muda kita lebih tertarik dan greget untuk mempelajarinya,” kata Anas.

Angklung merupakan  alat musik yang terbuat dari bambu dengan ukuran yang berbeda untuk menghasilkan tangga nada yang berbeda pula.

Menurut Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi, MY Bramuda, angklung Caruk Banyuwangi punya  warna yang berbeda jika dibandingkan dengan angklung dari  daerah lainnya. Dalam desainnya, digunakan rancakan yang menyatu dengan tempat duduk penabuh angklung. Terdapat motif ular naga di sisi kanan kiri angklung yang memperlihatkan keindahan dan kegagahannya.

Sementara  dalam permainannya, kata Bramuda,  angklung caruk ini, dimainkan oleh 12 sampai 14 orang. Mereka terbagi dalam  dua grup yang berbeda yang beradu ketangkasan dalam memainkan alat musik tradisional Banyuwangi.

Permainan angklung caruk ini, imbuh Bramuda,  ditambahkan beberapa alat musik diantaranya kluncing, saron, peking, kendang, kempul, dan slenthem. Beberapa alat musik tambahan tersebut akan berpadu dengan angklung caruk dalam kesatuan nada yang khas. Pemegang alat musik slenthem adalah yang menjadi komandan dari grup tersebut. Nantinya akan ada satu penari atau badutan dalam suatu grup yang menjadikan situasi memanas. 

Pada sesi berikutnya ada istilah Adol Gendhing atau Jual Lagu, yaitu saling tebak lagu khas Banyuwangi. Lewat ketukan lagu yang dibawakan grup lawan, suatu grup harus bisa menebak lagu tersebut. Ketika suatu kelompok berhasil menebak lagu tersebut, kelompok lainnya berhak mengambil alih tebak lagu dengan cara "Ngosek" atau memukul angklung serentak dan tidak beraturan.

Hal ini juga berlaku untuk penari atau badutan. Penari ini juga akan beradu kreativitas dengan cara memadukan kekompakan tarian dan tempo lagu. Permainan ini akan menjadi semakin seru karena setiap kelompok membawa penggemar dan supporter untuk mendukung penampilan mereka. 

Festival yang dimulai sejak pukul 08.00 – 22.00 WIB  ini diikuti oleh 16 grup. Mereka terdiri atas pelajar tingkat SD dan SMP. Nantinya dalam babak penyisihan yang digelar sejak pagi, akan diambil 10 grup untuk tampil pada malam harinya. Sepuluh grup yang telah lolos dari babak penyisihan akan tampil all out untuk bisa masuk dalam 5 penampil terbaik. Peserta akan diundi untuk memilih lagu yang telah disiapkan oleh panitia dan memainkannya. 

Bramuda memastikan festival ini akan berlangsung menarik.  “Kita akan lihat bersama, bagaimana mereka beradu kreativitas. Dengan kepolosan dan kelucuannya, anak-anak ini akan memainkan angklung dan  beberapa alat musik pendukungnya dengan irama yang rancak. Jadi jangan underestimate dulu, meski mereka masih anak-anak, namun kepiawaiannya bermain angklung patut kita acungi jempol,” ujar Bramuda.

Bramuda mengaku, ke depan pemkab akan terus berbenah. Termasuk menjadikan festival angklung caruk ini lebih meningkat kualitasnya di tahun mendatang. “Tahun depan festival ini akan kami tingkatkan dari segi peserta yang mengikuti. Karena festival ini masih baru, target kita mengenalkan pada masyarakat, apa itu angklung caruk. Karena di masa sekarang, warga Banyuwangi banyak yang tidak mengenal bagaimana wujud dari kesenian asli Banyuwangi ini. Seniman - seniman cilik inilah yang kami siapkan untuk meneruskan  kesenian ini agar tidak punah,” pungkas Bramuda. (Humas)

 

 

 

 



Berita Terkait

Bagikan Artikel :