LKNU Gelar Bakti Sosial untuk Warga Glenmore
Senin, 16 Februari 2015
BANYUWANGI – Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) menggelar bakti sosial untuk warga masyarakat Glenmore, Minggu kemarin (15/2). Sejak pagi hingga menjelang sore hari, kegiatan yang diadakan di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Karangharjo, Glenmore itu diserbu para warga.
Tak hanya sekedar menikmati layanan pengobatan gratis yang diberikan, warga juga bisa mengkhitankan anak lelakinya, ikut mendonorkan darahnya, memeriksakan kesehatan giginya, serta mengikuti penyuluhan reproduksi dan KB, penyuluhan HIV/AIDS, dan konseling pola hidup sehat. Bahkan untuk anak yatim berkesempatan menerima santunan, begitu pula dengan para lansia yang mendapatkan paket sembako gratis.
Ketua panitia baksos, Dokter H. Mufti Anam, Dipl. Cibtac mengatakan, pihaknya menyelenggarakan kegiatan ini dilatarbelakangi atas keinginan untuk berbagi dan memberi. “Bagaimana pun tangan di atas itu lebih baik daripada tangan di bawah. Dengan mengadakan baksos ini kami bisa mengajak masyarakat untuk peduli kesehatan dan meminimalisir dampak yang mungkin timbul. Hal itu tentunya akan efektif lewat bentuk edukasi dan pemahaman kesehatan kepada masyarakat semacam ini,” terang pria yang akrab disapa dr. Anam ini.
Dokter Anam mengaku ingin meng-cover kegiatan ini untuk seluruh kecamatan di Banyuwangi. Namun karena keterbatasan yang ada, pihaknya menzonasikan kegiatan di 5 wilayah. Diawali di Kecamatan Glenmore, kegiatan ini akan berlanjut di Ponpes Darussalam - Blokagung, Tegalsari (20/2), Ponpes Minhajut Thulab - Berasan, Muncar (28/2), Pasar Songgon (8/3), dan berakhir di Ponpes Miftahul Ulum – Bengkak, Wongsorejo (13/3).
Tak tanggung-tanggung, kegiatan yang diselenggarakan LKNU Banyuwangi ini mendapatkan apresiasi dari LKNU Jawa Timur. Bahkan, menurut dr. Anam, kegiatan ini akan dijadikan pilot project kegiatan LKNU se-Jatim.
Atas kerja keras LKNU, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas memberikan acungan jempolnya. “Kalau semua organisasi masyarakat melakukan kegiatan seperti ini, maka tugas pemerintah akan menjadi lebih ringan. Kita bisa bekerjasama untuk menuntaskan masalah-masalah kesehatan warga kita,”kata Bupati Anas yang menginginkan hal tersebut terus ditradisikan oleh berbagai ormas.
Meski mensupport kegiatan baksos, orang nomor satu di Banyuwangi itu juga mengingatkan pada siapa pun yang ingin menyelenggarakan kegiatan serupa, agar tak melupakan transparansi dana, khususnya pada Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan yang telah menyumbang. Hal itu semata-mata agar para donatur percaya bahwa bantuannya sampai pada pihak yang dituju, dan tidak dimanfaatkan secara sepihak oleh panitia.
Bupati sempat berkeliling ke beberapa stand yang ada sambil menyapa warga masyarakat. Kedatangan bupati langsung disambut hangat masyarakat dan beberapa tenaga kesehatan seperti dokter dan perawat yang terlibat dalam baksos ini. Terlihat stand yang paling banyak diserbu warga adalah stand pengobatan gratis, donor darah dan khitanan masal.
Stand penyuluhan HIV/AIDS juga terlihat ramai dikunjungi, terutama oleh pelajar dan mahasiswa. Salah satu pengunjung yang datang bersama rekannya, Febriyanto Ramadhan mengatakan, dirinya tertarik untuk berkonsultasi tentang HIV/AIDS sebab bahaya penyakit ini begitu serius hingga berakibat kematian. Dan ironisnya penderitanya banyak yang berada pada kisaran usia produktif (21 – 45 tahun). “Penyakit ini meskipun berbahaya, belum banyak yang tahu apa penyebabnya. Karena itu saya ingin menambah pengetahuan tentang HIV/AIDS dengan bertanya langsung pada ahlinya,”tandas Febriyanto yang saat ini tengah kuliah di Bali itu.
Febriyanto beruntung karena mendapat penjelasan secara gamblang tentang HIV/AIDS dari Sekretaris Komisi Perlindungan AIDS (KPA) Waluyo yang didampingi beberapa relawan. Dalam konsultasinya tersebut, Febriyanto mendapatkan informasi bahwa jumlah penderita HIV/AIDS Banyuwangi saat ini telah menembus angka 2140 orang dengan rincian, yang terindikasi HIV sebanyak 1032 orang, dan AIDS sebanyak 321 orang. Dari jumlah tersebut, 42 penderita di antaranya adalah balita, dan mereka masih mengalami diskriminasi dari lingkungan sekitarnya. Akibat penyakit itu, para balita yang tertular sejak dalam kandungan ibunya tersebut rata-rata mengalami gizi buruk dan membutuhkan bantuan susu formula untuk menaikkan berat badan mereka. (Humas & Protokol)