Menko Rizal Ramli Ajak Banyuwangi Kembangkan Desa Wisata Berbasis Nelayan

Sabtu, 9 April 2016


Banyuwangi - Menteri Koordinator (Menko) Maritim dan Sumber Daya Republik Indonesia Rizal Ramli bertandang untuk pertama kalinya setelah menjabat sebagai Menko ke Banyuwangi pada Sabtu (9/4). Menko Rizal mengajak Banyuwangi mengedepankan konsep sustainable ocean, yaitu pemanfaatan sektor kelautan secara berkelanjutan.

“Rakyat harus didorong untuk mencintai laut, karena laut adalah masa depan kita. Oleh karena itu, kita sedang mengembangkan apa yang disebut dengan sustainable ocean,” papar Rizal. “Banyuwangi juga harus bersama membangun sektor kelautan yang berkelanjutan ini,” lanjut Rizal dalam acara penyerahan kartu BPJS Ketenagakerjaan kepada 1.000 nelayan Banyuwangi di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Muncar, Banyuwangi.

Untuk mendorong terwujudnya sustainable ocean tersebut, salah satunya menurut Rizal Ramli adalah dengan meningkatkan penghasilan nelayan di darat dengan membuka kampung wisata berbasis nelayan.

“Sustainble ocean itu diantaranya dengan membuka kampung wisata nelayan yang hijau. Green fishing village. Hal ini untuk mengatasi tak menentunya hasil laut, kita mendorong adanya penambahan penghasilan bagi nelayan di darat,” paparnya.

Rizal Ramli mengaku akan mengembangkan kampung wisata berbasis nelayan itu di 25 sampai 30 tempat di Indonesia. Pelabuhan Muncar akan menjadi salah satu bagian dari pembangunan kampung wisata berbasis nelayan tersebut.

“Kata pak bupati (Abdullah Azwar Anas), masyarakat disini mulai dibiasakan dengan event wisata, maka mudah untuk selanjutnya jika kembangkan menjadi objek pariwisata,” tutur Ramli.

Penunjukan pelabuhan Muncar untuk bisa dijadikan sebagai kampung wisata nelayan, juga dikuatkan oleh Dirjen Perikanan Tangkap Kementerian Kelautan dan Perikanan Narmoko Prasmadji yang turut hadir dalam acara tersebut. Narmoko menuturkan bahwa kapal nelayan pelabuhan Muncar memiliki kekhasan tersendiri yang tak dimiliki oleh nelayan di tempat lain di Indonesia. Ornamen ukiran dan lukisan yang menghiasi perahu-perahu nelayan, ia nilai memiliki nilai wisata tersendiri.

“Pelabuhan Muncar ini unik, ada ukiran dan hiasan di perahunya. Tak banyak yang seperti ini di tempat lain. Tinggal memoles sedikit saja untuk dijadikan kampung wisata nelayan. Yang pentting kebersihan harus dijaga,” paparnya.

Sementara itu, konsep sustainable ocean yang dikombinasikan dengan membuka wisata berbasis perkampungan nelayan selama ini juga menjadi bagian dari kerja Pemkab Banyuwangi. Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, mengatakan pembangunan di Banyuwangi selalu berpihak pada pemberdayaan nelayan lokal. Seperti halnya, pembangunan Pelabuhan Marina yang akan dilakukan di Pantai Boom Banyuwangi, Bupati Anas tetap mempertahankan keberadaan nelayan tradisional.

“Seperti di Pantai Boom yang akan akan dibangun Marina terintegrasi pertama di Indonesia, yang pertama kali saya tanyakan adalah dimana tempat nelayan-nelayan tradisional itu akan ditempatkan. Karena bagi kami, nelayan tradisional menjadi bagian penting pembangunan di Banyuwangi,” tandas Anas.

Anas cukup optimis kawasan Pelabuhan Muncar akan menjadi jujugan wisatawan. Menurut Anas, jumlah nelayan serta produksi ikan yang melimpah di Banyuwangi akan menjadi daya tarik tersendiri.

"Nelayan kami jumlahnya ada 25 ribu orang. Produksi ikan di Banyuwangi juga terus meningkat, pada 2015 mencapai 85 ribu ton per tahun, dengan beraam jenis ikan laut. Tentunya, pasar ikan di sana pasti ramai dan ini jadi daya tarik tersendiri" ujar Anas. Produksi ikan di Banyuwangi pada 2011 yang 57,5 ribu ton, 2012 (56,4 ribu ton), 2013 (73 ribu ton), dan 2014 (84,7 ribu ton).

Sejumlah even Banyuwangi Festival pun sudah mulai mengambil lokasi di pelabuhan Muncar, yakni pagelaran busana muslim yang digelar persisi di pinggir pantai.

"Tahun ini kami tambahkan Festival Pasar Ikan di Pelabuhan Muncar pada 15 Oktober mendatang, dan Petik Laut Muncar sehari sesudahnya. Hal ini kami lakukan untuk membiasakan masyarakat nelayan di Muncar untuk menerima kunjungan wisatawan. Harapannya agar masyarakat nelayan bisa mengubah pola hidupnya lebih peduli terhadap kebersihan lingkungan," tambah Anas. (humas)

 



Berita Terkait

Bagikan Artikel :